Rambut Rebonding, Celana Umpan dan Martabat Perempuan Adonara

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ide tulisan ini, berangkat dari diskusi virtual aplikasi zoom yang diselanggarakan oleh Epu Orin. Diskusi yang dimaksud, mengangkat topik yang sangat menarik. Jejak Peradaban Perempuan Adonara Dulu dan Sekarang.

Bukan hanya topiknya, tapi para peserta dan pemateri atau narasumber membuat diskusi ini menjadi sedemikian menarik. Diskusi ini melibatkan mahasiswa Adonara di berbagai kota di Indonesia.

Seorang guru besar dari Undana, Prof. Dr. Simon Sabon Ola, S.Pd, M.Hum, didaulat menjadi narasumber. Ia didampingi Santi Sima Gama, S.Psi, M.Pd, Dosen Unipa – Maumere dan penulis buku “Citra dan Peran Perempuan Adonara”.

Baik Profesor Simon Sabon Ola, yang  berasal dari Adonara, dan Santi Sima Gama yang meneliti tentang perempuan Adonara, diyakini paham benar tentang perempuan Adonara.

Pendaftaran Online Link Berikut :SMA Surya Mandala dan SMK Surya Mandala  – Untuk Informasi lengkap –> : Sekolah Surya Mandala

Tulisan kali ini hanya mengambil salah satu sudut pandang yang sedikit disinggung, dalam  diskusi yang durasinya lebih dari 4 jam tersebut. Diskusi virtual ini dapat diikuti lewat —> link  akun youtube Ata Adonara .

Tulisan ini sangat terinspirasi dari pendapat Felix Sule, salah seorang putra Adonara yang sedang menempuh studi di Bali. Felix berpendapat bahwa fenomena rebonding rambut boleh dikatakan sebagai bagian dari moralitas perempuan Adonara yang terdegradasi.

Felix mengatakan bahwa rebonding rambut adalah bagian dari komersialisasi tubuh, sekaligus ia menguraikan tentang bahaya dibalik proses memodifikasi “mahkota” di kepala ini.

Pendapat Felis, berangkat dari apa yang disampaikan Profesor Simon. Bahwa ada dua symbol martabat perempuan Adonara adalah Mulene dan Kewatek. Konde / rambut yang disanggul dan mengenakan sarung untuk perempuan. Tenun ikat khas Adonara.

Baca Juga: Jejak Peradaban Perempuan Adonara Dulu dan Sekarang

“Saya ingat benar, dulu symbol wanita secara fisik identik dengan kewatek dan mulen”, kata Profesor Simon.  Ia juga menambahkan bahwa ketika sarung tidak lagi dikenakan dan rambut perempuan yang mulai dipotong pendek juga menjadi sebuah persoalan.

Menanggapi Felix, Santi Sima Gama mengatakan bahwa  perempuan punya hak untuk mempercantik diri. Dengan demikian menurut saya ketika seorang perempuan memakai riasan atau  rebonding rambut bukanlah sesuatu yang negatif.

“Kecuali dengan kecantikannya, dia memanfaatkan atau ia melakukan hal-hal yang negatif” terang Santi lebih lanjut.

Senada dengan Santi, Profesor Simon berpendapat bahwa tidak salah seorang perempuan Adonara butuh perawatan diri dan butuh tampil lebih baik. Namun terkait ‘celana umpan’, “ itu menjadi keprihatinan”, kata Profesor Simon.

Seperti yang telah saya sampaikan dalam diskusi virtual tersebut,  dalam konteks saat ini, seolah masih ada standar ganda. Di satu sisi memaklumi bahwa perempuan berhak mempercantik diri, namun pada sisi lainnya “menggugat” selera berbusana seorang perempuan Adonara.

Menurut saya martabat seorang perempuan, dari belahan dunia manapun dia berasal, termasuk perempuan Adonara, tidak pas jika hanya diukur dari selera busananya.

Maka yang paling penting menurut saya, seperti juga yang diamini oleh kedua narasumber, baik adanya selama mereka tidak melakukan suatu yang negatif dengan riasan atau “celana umpan” yang mereka kenakan.

Ketakutan saya, jangan sampai ketika seorang perempuan mengalami pelecehan secara seksual, yang disorot pertama adalah dandanannya atau pakaian yang dikenakannya. Jangan sampai ia disalahkan seolah riasan dan caranya berpakaian menjadi penyebab ia mengalami pelecehan seksual.

Sementara pelakunya, yang seorang laki-laki, malah dianggap sebagai “korban”. Korban dari riasan dan “celana umpan”.

Fenomena ‘celana umpan’, rebonding rambut harus dilihat dalam konteks hari ini. Ia bagian dari budaya global yang menjadikan masyarakat dunia hidup tanpa sekat batas wilayah. Barangkali banyak orang di luar sana dengan celana umpan dan rambut direbonding namun menjaga harkat dan martabatnya. Ia hanya nyaman dengan dirinya ketika memilih tampilan demikian. Tidak melakukan perbuatan negatif.

Namun dalam budaya Lamaholot, terutama dalam suasana batin Adonara bahwa perempuan adalah Mulia. Perempuan Adonara adalah utuh dan mahal.  Perempuan Adonara adalah berkat. Sakral!

Baca Juga: Perempuan (Ina Wae) Adonara Adalah Berkat

Nilai penghormatan kepada martabat perempuan dalam suasana batin masyarakat Adonara, harus dipertahankan dan menjadi landasan cara bertindak setiap orang Adonara, laki-laki maupun perempuan, dimanapun ia berada.

Maka pewarisan nilai bahwa perempuan Adonara adalah Mulia harus diupayakan terus menerus. Agar sederas apapun arus globalisasi, secepat apapun perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi  tidak mengurangi seincipun penghormatan terhadap harkat dan martabat perempuan.

Kuat kemuha (kekuatan) manusia Adonara ada pada perempuannya. Dan kekuatan ini tidak hanya berlaku pada perempuan Adonara semata. Warisan leluhur Adonara akan penghargaan terhadap martabat perempuan berlaku untuk perempuan manapun di dunia.

Tantangan terbesar kita adalah bagaimana mencari format dan metode yang paling baik dalam proses pewarisan nilai tersebut. Generasi ke generasi.

Pertama, dimulai dari rumah. Semua sepakat bahwa rumah adalah dunia tempat karakter dasar seseorang diletakkan. Sifat dan tingkah laku seseorang, paling pertama dibentuk dari rumah.

Mewariskan nilai penghormatan kepada perempuan pun harus dimulai dari rumah. Seribu kata-kata orang tua tidak lebih berarti dari satu contoh lewat perbuatan. Sekecil apapun perbuatan tersebut.

Seorang suami yang menghargai, menyayangi dan menghormati  istri dan setiap perempuan di rumah adalah bentuk pewarisan nilai  yang paling efektif.

Baca Juga: Untuk Para Perempuan Adonara yang Perkasa

Setiap anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan saling menghargai maka ia akan membawa kasih sayang dan sifat saling menghargai ke manapun ia pergi.

Ayah dan ibu yang saling menghormati menjadi role model bagi anak-anaknya. Anak perempuan belajar menghargai diri dan menjaga kehormatannya dari ibunya. Ia belajar menghargai dan menerima dirinya dari ayahnya yang mencintai dia sepenuhnya.

Seorang anak laki-laki menghormati setiap perempuan seperti ia menghormati ibunya. Ia belajar dari ayahnya yang menghormati ibunya. Ia belajar menjaga kehormatan setiap perempuan yang ia temui. Ia mencontoh ayahnya yang menjaga dan melindungi setiap perempuan di rumahnya.

Kedua, pewarisan nilai di sekolah. Tidak dipungkiri bahwa nilai-nilai dasar dari rumah, mengalami penguatan dan ditegaskan dalam lembaga-lembaga pendidikan formal di sekolah.

Perlakuan yang adil kepada setiap pribadi dalam urusan akademik di sekolah, adalah contoh paling ampuh untuk menangkal ketidak adilan. Terutama ketidakadilan berbasis gender.  Budaya sekolah harus bisa mendorong setiap orang diperlakukan secara adil.

Nilai-nilai kearifan lokal sudah saatnya masuk sebagai konten dalam pembentukan karakter setiap pribadi di sekolah. Dan nilai-nilai kearifan lokal tidak hanya menjadi teori yang dipelajari, namun terlebih, harus bisa menjadi cara bertindak setiap orang.  Nilai-nilai kearifan lokal harus menjadi pedoman perilaku yang membudaya di lingkungan sekolah.

Ketiga, pewarisan nilai di masyarakat luas. Jangan sampai nilai-nilai dasar yang diperoleh dari rumah, yang kemudian dikuatkan di sekolah, menjadi kehilangan maknanya dalam kehidupan masyarakat ketika seorang keluar dari pintu rumah atau ketika ia melewati pagar sekolah. Maka peran tokoh masyarakat sangat dibutuhkan dalam proses pewarisan nilai di masyarakat.

Para tokoh adat, tokoh agama, pejabat pemerintah, politisi harus bisa menjaga perilakunya. Mereka adalah role model yang setiap kata-kata dan tindakannya  diikuti oleh masyarakat luas. Bagaimana mereka berlaku adil terhadap setiap orang, baik kepada laki-laki maupun perempuan, akan menjadi contoh bagi masyarakat luas.

Nilai yang datang dari rumah, dikuatkan di sekolah dan dipertahankan di masyarakat harus saling menguatkan. Jangan sampai pengakuan akan suatu nilai terputus. Jangan sampai apa yang dihargai di rumah, tidak berlaku di sekolah. jangan sampai nilai dasar dari rumah dan ditambah di sekolah tidak lagi dihargai oleh masyarakat.

Budaya Lamaholot, kita, diwariskan secara tutur. Intensitas generasi sepuh menuturkan nilai budaya kepada generasi muda harus tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya. Harus lebih ‘intim’ dan intens kesempatan berjumpa agar proses pewarisan berjalan efektif.

Anak-anak muda, semakin kecil usianya, daya serapnya terhadap nilai di lingkungan terdekatnya belum terkontaminasi dengan nilai lain  yang ia serap dari budaya luar, sehingga proses pewarisan dapat berlangsung lebih baik pada usia yang  lebih muda.

Para orang tua / generasi sepuh harus terpanggil mendekati anak-anak dan secara intens mewariskan nilai melalui penuturan dan terlebih melalui sikap tindakan dan perbuatan.

Ruang untuk proses pewarisan seperti ini harus didesain secara serius. Mengingat hari ini individualitas sebagai dampak tak terelakkan dari gadget sudah menggesser intensitas tatap muka pribadi dengan pribadi. Jamak kita lihat di rumah orang berkumpul namun intens dan mengintimi HP di tangannya. Kesempatan untuk saling mendengarkan teralihkan oleh gadget ditangan masing-masing.

Tulisan ini juga menjadi bagian dari apresiasi terhadap group Epu Orin. Dokumentasi terhadap setiap diskusi banyak merupakan konten yang berisi nilai-nila kelamaholotan. Kita memang harus mengisi ruang virtual dengan sebanyak mungkin konten tentang nilai. Berlomba dengan konten lain yang cenderung pragmatis dan hedonis.

Namun, satu kata kunci yang menghubungkan rumah, sekolah dan masyarakat sebagai tempat pewarisan nilai adalah aktualisasi diri.

Sebab bagaimanapun pilihan seseorang bertindak didominasi oleh dorongan alam bawah sadarnya. Rekaman bawah sadar seseorang yang berisi pengalaman-pengalaman kuat, entah pengalaman baik yang mendamaikan hati, maupun pengalaman buruk yang merubah mood, sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang.

Dan menurut saya, pengalaman baik yang terekam dalam alam bawa sadar, pengalaman akan dirinya yang terapresiasi akan mendorongnya untuk bertindak. Ketika anak diapresiasi ketika ia berprestasi, ketika ia menjaga harkat dan martabatnya maka itu bisa menjadi rekaman yang disimpan oleh alam bawah sadarnya.

Baca Juga: Mewariskan Budaya Lamaholot Lewat Pendidikan

Sama seperti jika anak hanya diapresiasi karena ia dandan dan memakai pakaian tertentu maka rekaman itu akan tersimpan. alam bawah sadarnya bisa saja mendorongnya untuk mengejar pengakuan lain dari lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan akan aktualisasi dirinya.

Bisa jadi ia beranggapan bahwa ia menjadi hebat ketika ia memakai busana tertentu bukan karena kebaikan yang ia lakukan atau prestasi yang ia peroleh dari perjuangannya.

Celana umpan dan rebonding rambut bisa jadi merupakan cara seseorang mencari perhatian dan penghargaan dari orang lain. Perhatian dari lingkungannya.

Ketika seseorang mendapat cukup pengakuan, penghargaan atas sesuatu yang baik yang ia lakukan, entah lewat prestasi, ataupun bentuk-bentuk hal baik lain yang ia lakukan, maka kebutuhan akan aktualisasi dirinya sudah terpenuhi. Ia tidak harus mencari bentuk-bentuk pengakuan lain.

Ketika ia mendapatkan apresiasi akan prestasinya di rumah, di sekolah dan di dalam masyarakat ia tidak akan mencari pengakuan dari orang lain. Menghargai orang lain, siapapun dia, tanpa melihat usia, sekecil apapun kebaikan yang dilakukan  dan prestasi yang dicapainya sangat penting menjadi cara hidup setiap orang.

Agar seseorang tidak pencari pengakuan lain yang artifisial. Ia memakai celana umpan dan merebonding rambutnya, berdandan habis-habisan seolah segala keberadaan dirinya hanya diterima melalui hal-hal itu. Ia terjebak pada comodifikasi oleh media, seolah celana umpan dan rebonding rambut menjadi satu-satunya jalan agar ia diterima oleh masyarakat.

Sebab tantangan paling besar masyarakat Adonara  hari ini adalah bagaiman mempertahankan kuat kemuha yang dimilikinya.  Kuat kemuha dalam hal ini warisan nilai leluhur yang menjadi pegangan hidup, cara bertindak, petunjuk perilaku, semua orang Adonara di manapun dia berada. Nilai yang diwariskan generasi demi generasi.

Nilai hidup warisan leluhur yang selalu dipegang teguh Ata Diken Adonara melintasi waktu.  Nilai warisan leluhur, termasuk penghargaan terhadap martabat perempuan, yang menjadi identitasnya. Kehilangan nilai-nilai itu berarti kehilangan identitas ke-Ata Diken Adonara-annya.

Identitas laki-laki Ata Diken Adonara, yang menjaga dan melindungi harkat dan martabat setiap perempuan. Dan Ata Diken Adonara perempuan yang menjaga martabatnya, melindungi tubuhnya yang sakral. Sebab melalui tubuh sakral setiap perempuan, Alapet Rera Wulan Tanah Ekan mencipta, menenun generasi baru yang suci.

(Foto perempuan Adonara dalam balutan kewatek, oleh: offypugell dari group whatsapp IA-KMAY Alumini Yogyakarta)

Ikuti juga tulisan lain Senuken tentang perempuan : 

Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot? – Surat Dari Adonara; November 2019 – 

Media dan Penghormatan Pada Perempuan –  Prostitusi Online, Media Massa dan Degradasi Moral

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Enzu Lamadoken Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Enzu Lamadoken
Guest
Enzu Lamadoken

Enzu Lamadoken

Enzu Lamadoken
Guest
Enzu Lamadoken

Selamat siang…