Titipan Rindu Adonara

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Melihat, mendengar: beberapa paguyuban/komunitas Adonara di beberapa wilayah (provinsi) yang pernah saya jumpai, di mana paguyuban mudah terpecah belah. Bertahan tak setua usia cita-cita.

Seakan Adonara sedang berkata dalam kesedihan; “Kutitipkan Rinduku Bersatu untukmu”.

Harus diakui bahwa Adonara sangat menekankan kesatuan, persatuan, saling menghargai dan saling percaya satu sama lain.

Adonara tidak mengkotak-kotakan, tidak membeda-bedakan dari mana suku dan kampungnya. Bahkan Adonara tidak mengijinkan namanya “digadaikan/dijual” demi uang dan kekuasaan, demi kepentingan politik segelintir orang.

Pendaftaran Online Link Berikut :SMA Surya Mandala dan SMK Surya Mandala  – Untuk Informasi lengkap –> : Sekolah Surya Mandala

Persoalannya bahwa yang terjadi saat ini adalah insan-insan yang mengaku anak Adonara seringkali menggunakan kesempatan kesatuan untuk mengabdi mamon-mamon.

Kepentingan kelompok maupun pribadi yang lebih mendoinasi sehingga pada gilirannya: Anak Adonara bukan berkumpul untuk bersatu, tapi berkumpul untuk bubar.

Baca Juga: Perang Tanding, Kriminalitas dan Perdamaian di Adonara

Paguyuban Adonara dibentuk di berbagai wilayah dengan tujuan: membangun persatuan dan kesatuan, saling berbagi kesedihan dan kesusahan, meringankan dan meneguhkan satu sama lain.

Ada ungkapan pengabdian dan membangun Adonara sebagaimana selalu terucap saat kita bepergian;

“Pana kai seba buku biliken teratu, balik kaan gelekat lewo tanah Adonara, soga naran tanah maken Adonara ” (Kupergi mencari dan mengais rejeki, pulang untuk membagun dan mengangat nama Adonara).

Namun dalam perjalanan waktu ungkapan ini bukannya mewarnai paguyuban yang dibangun, melainkan dilupakan oleh karena kepentingan pribadi atau kelompok, oleh karena uang, kekuasaan dan harga diri.

Adonara tidak dinilai dari harganya, tetapi dinilai dan dipandang dari nilainya itu sendiri yaitu NILAI KESATUAN yang terjemahkan dalam semangat “Tulun Tali” (berbagi).

Ini terungkap dalam niat baik membangun paguyuban yang disertai dengan satu peristiwa “behin bau” (saling memberi minum).

Kenyataan bahwa beberapa paguyuban Adonara di beberapa wilayah akhirnya terpecah karena muncul ungkapan; mengapa harus mereka yang memimpin dan bukan kami, apakah mereka mampu memimpin paguyuban ini?

Baca Juga: Perang Historis Adonara : Future without War, but Warriorship

Sebuah mentalitas menganggap remeh orang dan suku/kampung lain.

Yang ketika pilihan jatuh pada orang yang berasal dari kampung yang dianggap remeh itu, maka kelompok yang merasa diri paling mampu memimpin memprovokasi orang lain untuk tidak menjadi anggota paguyuban, bahkan dengan cara “preman” menghancurkan paguyuban itu.

Bahkan yang paling menyakitkan dan menyedihkan adalah: Paguyuban yang bernama Adonara; dijadikan ajang untuk mencari keuntungan pribadi dengan menjual nama Adonara melalui proposal, menjadikan alat politik partai maupun politisi tertentu (ini nyata di dua tempat yang saya lihat dan alami sendiri).

Hal ini terjadi karena kearifan lokal Adonara begitu mudah ditinggalkan, dilupakan dan mencari kepentingan pribadi/kelompok dengan mengatasnamankan Adonara. Kita bisa belajar dari peristiwa “behin bau”.

Di mana yang menuangkan tuak mengambil bagian terakhir, tetapi memberikan kepada orang lain terlebih dahulu.

Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup)

Nilai dan semangat dasar dari “behin bau” adalah keadilan, pelayanan, mempercayakan kepemimpinan pada orang.

Biarlah saya yang melayani sebagai seorang pemimpin maupun anggota paguyuban Adonara yang mempersatukan hati, visi dan misi untuk membangun Adonara melalui paguyuban.

Di sisi lain kita bisa belajar dan melihat secara positif semangat dasar “Tulun Tali” (saling berbagai dan melengkapi), di mana kehadiran siapapun yang menjadi pemimpin dalam sebuah Paguyuban Adonara sejatinya dilihat sebagai keterlibatan untuk saling melengkapi.

Paguyuban Adonara harus dilihat dalam satu kesatuan tanpa harus berpretensi politis dan kekuasaan serta uang.

Siapapun pemimpin paguyuban, dipandang sebagai pembagian peran, pemberian diri dan tanggungjawab tanpa meremehkan yang lain meski berasal dari daerah/kampung yang berbeda tetap dilihat dalam kesatuan sebagai Adonara.

Mamon dalam bentuk kekuasaan, uang, merasa diri paling baik dan tidak mau dipimpin orang lain dalam sebuah Paguyuban Adonara, maka yang didapatkan adalah kehancuran dan bukan kesatuan.

Jika demikian maka pertanyaannya mampukah kita Mengabdi dan Membangun Adonara dengan setia dan tekun?

Jika dalam salah satu Paguyuban yang lebih kecil saja kita sudah tidak setia, tidak tekun untuk mengabdi dan membangun?

Sejatinya melalui paguyuban Adonara yang paling kecil, kita belajar untuk mengabdi dan membangun Adonara seutuhnya dengan tekun dan setia.

Baca Juga: Menuju Adonara Baru (Penutup tiga tulisan)

Kesetiaan, ketekunan dan tanggung jawab dalam kerendahan hati di dalam sebuah Paguyuban Adonara merupakan perkara kecil.

Ketika mampu kita jalani maka dengan sendirinya kita mampu membangun Adonara seutuhnya sebagai sebuah perkara besar yang menjadi tanggung jawab kita bersama.

Sebaliknya, jika dalam Paguyuban Adonara (kelompok yang paling kecil saja) kita tidak mampu membangun dan mengabdi dengan setia menuju kesatuan dan persatuan, lalu bagaimana kita bisa tekun dan setia membangun dan mengabdi Adonara secara menyeluruh?

Kita hanya bisa membangun dan mengabdi Adonara secara menyeluruh.  Jika kita melihat kepemimpinan maupun paguyuban bukan sebagai pintu masuk mamon kekuasaan, uang dan alat politik.

Alat politik yang dengan tidak tahu malu dan rasa bersalah menjual nama Adonara demi mengais rejeki dan sepiring nasi.

Paguyuban Adonara harus dilihat sebagai jalan pengabdian dan tanggung jawab bersama untuk membangun dan mengangkat nama Adonara sendiri.

Semoga kita selalu ingat dan mengobati; TITIPAN RINDU ADONARA untukku, untuk kita putera dan puteri Adonara di mana sajapun kita berada. Demi Adonara, kita mengabdi.

Senja Temindung Merindukan Adonara –  dalam ziarah bathin di tengah arus keprihatinan (bdk. Luk 16:9-15)-  

(Tulisan ini diambil dari status Facebook tertanggal 05 November 2011, Foto : Akun Facebook penulis)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of