Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup)

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.comNuba Nara ini biasanya ditanam di bawah “eken matan pito” (bambu bermata tujuh) di depan ‘koke bale epu orin’. ‘Eken matan pito’ ini adalah tangga kramat – tangga suci yang menghubungkan langit dan bumi dimana segalah syujud syukur anak Lewotana kehadirat ARWTE dihaturkan lewat ke tujuh anak tangga ini.

Kita perlu menyadari bahwa ‘eken matan pito’ ini hanyalah sebuah simbol suci yang menggambarkan apa yang dimiliki manusia baik jasmani maupun rohani.

Sebagaimana diketahui bahwa dari segi jasmani manusia memiliki tujuh lapis suci yaitu ‘rawuk’et’ (bulu), ‘kamak’et’ (kulit), ‘worak’et’ (lemak), ‘ihik’et’ (daging), ‘mehik’et’ (darah),‘riuk’et’ (tulang) dan ‘kerurah’at’ (sum-sum).

Baca Juga: Agama Koda : Gelekat Lewotana

Semuanya ini memiliki peran masing-masing secara biologis. Bruce Lipton mengatakan bahwa setiap sel dalam tubuh manusia memiliki energi yang berkekuatan 0.7 voltase energi listrik. Hal itu berarti dalam tubuh seorang manusia yang memilik 50 triliun sel maka secara jasmani kita memiliki 3,5 triliun voltase energi listrik.

Jika kita mampu mengaktifkan energi ini akan menghasilkan kekuatan yang sangat dasyat (The Biology of Belief, McPherson’s, 2016). Sedangkan dari segi rohani ‘eken matan pito’ melambangkan tujuh cakra utama (roda energi kehidupan utama) pada diri manusia.

Ketujuh cakra utama yang dimiliki oleh manusia, yaitu 1) cakra dasar/cakra akar; elemen cakra ini adalah tanah; 2) cakra sakral; elemen cakra ini adalah air; 3) cakra ulu hati; elemen cakra ini adalah api; 4) cakra hati; elemen cakra ini adalah udara.

Cakra ke 5) cakra tenggorokan; elemen cakra ini adalah eter; 6) cakra mata ketiga; elemen cakra ini adalah cahaya dan 7) cakra mahkota; elemen cakra ini adalah semua elemen yaitu tanah, air, api, udara, eter, dan cahaya. (The Seven Cakras; A Guide to Opening and Balacing Your Energy Centers, Anonimous).

Baca Juga: Agama Koda: Way of life Atadiken Adonara

Cakra-cakra ini memiliki peran penting dalam kehidupan kita, yaitu mengaktifkan energy tubuh supaya bekerja dengan maksimal untuk menjaga keseimbangan antara ‘nawak’et (raga), ‘onek’et’ (batin), dan ‘tuben mangen’ (jiwa).

Menurut Anodea Judith dalam buku Wheels of life (2002), mengatakan bahwa masing-masing cakra ini berhubungan satu dengan yang lain dan sekaligus berhubungan dengan energi semesta alam.

Jika cakra-cakra ini dapat diaktifkan untuk bekerja secara maksimal maka kita akan mampu menghidupkan ‘e’on mekit’et’ (roh yang dikaruniai ARWTE) secara optimal dalam hidup sehari-hari sehingga kita dapat memancarkan aurah kedamaian yang sangat agung dan berwibawa yang dapat memberi kenikmatan rohani yang luar biasa dasyatnya, baik bagi diri kita maupun bagi sesama kita.

Namun untuk mencapai semuanya ini kita harus mampun menjaga dan merawat diri kita sebaik-baiknya  sebagai manusia yang ‘atadiken’. Jadi ‘eken matan pito’ hanyalah simbol yang mengingatkan kita bahwa tangga suci yang menghubungkan langit dan bumi adalah manusia yang ‘Atadiken’.

Penutup

Leluhur Lamaholot sangat arief dalam menyampaikan ajaran agama Koda (ajaran luhur) kepada kita lewat simbol-simbol yang ada dalam lingkungan hidup kita. Seperti dalam struktur wilayah Lewotana yang menyerupai manusia yaitu ‘jantung hati’ yang disebut ‘nuba naman tukan’, kepala (‘lewo koten’), kaki (lewo lein) dan tangan kanan – tangan kiri (lewo liman wanan – liman nekin).

Baca Juga: Agama Koda : Alap’et Rera Wulan Tana Ekan – ARWTE

Hal ini mengajarkan kita tentang siapa diri kita, asal usul kita dan jati diri kita sebagai anak Lewotana.  Di dalam Lewotana terdapat ‘koke bale epu orin – nuba – nara’ dan ‘eken matan pito’, yang semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang mampu melahirkan suatu kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan kehidupan jasmani dan rohani yang lebih baik dan lebih maju.

‘Eken matan pito’ yaitu bambu bermata tujuh yang ada di Lewotana dan yang berdiri kokoh di depan ‘koke bale – epu orin’ adalah tangga suci yang menghubungkan langit dan bumi. ‘Eken matan pito’ ini tidak sekedar sebuah benda mati namun merupakan gambaran jasmani dan rohani dari diri kita.

Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan)

Ketika kita memandang ‘eken matan pito’ sebenarnya kita sedang memandang diri kita sendiri. Dengan demikian kita tergerak untuk belajar mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, yaitu ‘atadiken’.  Selain ‘eken matan pito’ ada juga ‘nuba-nara’ yang menjadi tempat bersemayamnya ikrar suci yang terucap pada saat ‘mula nuba ada nara’.

‘Koda’ yang mengukuhkan ‘ikatan suci’ antara manusia, Lewotana dengan ARWTE sehingga ‘nuba nara’ selalu mengingatkan kita akan Tuhan YMEyaitu ARWTE.  Selain itu ‘Nuba-nara’ juga merupkan simbol dari keberadaan ‘nuba pulo – nara lema’, (anak lewotana) baik yang menghuni atau yang berasal dari Lewotana itu.

Dengan demikian maka ‘koda’ yang tersimpan di batu ‘nuba – nara’ itu sebenarnya tersimpan juga di dalam hati sanubari setiap anak Lewotana. ‘Koda’ ini merupakan sumber ‘kike kwa’at’ – ku’at kemu’ha’ (kekuatan) dan menjadi pilar kehidupan jasmani dan rohani anak Lewotana.

Tanpa ‘koda’ ‘morip’et lodo gere kak’ot amu’un’ (hidup kita tak bernyawa) maka pantas dikatakan “morip’et di’i koda – mata’an di’i koda”(mati hidup dengan koda).

Jadi manusia dan ‘sabda’ (koda) merupakan satu kesatuan yang utuh yang tak terpisahkan. Dengan kata lain ‘koda manunggal dengan atadiken dan atadiken menunggal dengan koda’.

Ditulis di Melbourne – Australia., 09/05/2020

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga:  Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup) […]

trackback

[…] Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup) […]