Dari Keluhan Menjadi Harapan: Membawa Filosofi Pelayanan Tzu Chi Untuk Menjawab Harapan pelayanan Kesehatan di Flores Timur

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pelayanan kesehatan seharusnya menjadi tempat masyarakat memperoleh rasa aman dan nyaman  ketika berada dalam kondisi sakit maupun darurat.

Namun di Flores Timur, berbagai keluhan masyarakat yang muncul di media sosial menunjukan bahwa pelayanan kesehatan masih menyisakan banyak persoalan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam beberapa bulan terakhir, grup Facebook @Suara Flotim menjadi ruang publik tempat masyarakat menyampaikan pengalaman mereka terkait pelayaanan di Flotim, salah satunya terkait pelayanan rumah sakit dan puskesmas di Flores Timur.

Keluhan-keluhan yang muncul tidak hanya menyangkut keterbatasan fasilitas medis, tetapi juga persoalan komunikasi pelayanan, kenyamanan pasien, hingga sisi kemanusiaan kepada pendamping pasien atau keluarga pasien.

Baca Juga:

Jing Si : Sebuah Ziarah Batin

Dua contoh unggahan yang akan menjadi pembahasan kali ini diambil hanya sebagai acuan untuk melihat bagaimana masyarakat Flores Timur menyampaikan pengalaman, kritik, dan harapan mereka terhadap pelayanan kesehatan daerah.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan tenaga kesehatan maupun institusi tertentu, melainkan sebagai refleksi sosial atas berbagai persoalan yang dirasakan langsung oleh warga.

Unggahan pertama yang menjadi perhatian publik di Facebook oleh akun Andrys Tokan yang diposting melalui grup Suara Flotim pada bulan Mei 2026 yang menyoroti tentang kondisi ibu pasca melahirkan yang bayinya dirujuk ke ruang NICU RSUD Larantuka namun harus beristirahat di lorong rumah sakit.

Dalam narasinya disebutkan bahwa sebagian ibu harus tidur di lorong yang atapnya bocor saat hujan, sementara mereka masih berada dalam masa pemulihan pasca persalinan dan harus bolak-balik setiap dua jam untuk memberikan ASI kepada bayi mereka di ruang NICU.

Baca Juga:

Jing Si : Mudik Ke “Kampung Halaman Batin”

Keluhan tersebut memicu banyak komentar warga yang merasa prihatin terhadap kondisi pelayanan maternal dan neonatal di rumah sakit daerah. Banyak masyarakat menilai bahwa ibu dan bayi seharusnya diperlakukan sebagai satu kesatuan proses pemulihan yang membutuhkan perhatian lebih manusiawi.

Unggahan lain datang dari akun Facebook Carls Ryanghepat pada bulan April 2026 melalui grup yang sama yang mana ia menceritakan pengalaman saat mengunjungi keluarganya yang menjalani rawat inap di Puskesmas Lambunga (Bale). Ia mengaku khawatir dengan infus pasien yang hampir habis dan keluarga diminta mencari sendiri kebutuhan medis di apotek.

Dalam postingan tersebut, ia juga menyoroti cara komunikasi petugas kesehatan yang dinilai kurang baik ketika keluarga pasien menanyakan ketersediaan infus. Unggahan itu kemudian memicu diskusi panjang mengenai pentingnya pelayanan kesehatan yang lebih komunikatif dan empatik terhadap keluarga pasien.

Baca Juga:

121 Pejabat, Satu Ujian Besar: Mampukah Lompatan Jauh Flores Timur Diterjemahkan Menjadi Kerja Nyata?

Meski sebagian besar tenaga kesehatan bekerja dalam keterbatasan fasilitas dan tekanan pelayanan yang tinggi, berbagai unggahan masyarakat tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan di Flores Timur bukan hanya soal alat medis atau jumlah dokter, tetapi juga menyangkut sistem pelayanan dan pendekatan kemanusiaan terhadap pasien.

Beralih dari keluhan-keluhan masyarakat tersebut, banyak pihak mulai membandingkan pelayanan kesehatan daerah dengan pelayanan kesehatan di kota, salah satunya pelayanan rumah sakit Tzu Chi dengan filosofinya.

Sekedar informasi, rumah sakit ini dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi yang dikenal dengan pendekatan pelayanan berbasis cinta kasih, empati, penghormatan terhadap pasien, dan pelayanan tanpa membeda-bedakan latar belakang sosial.

Dalam filosofi Tzu Chi, pasien bukan hanya dilihat sebagai objek pengobatan, melainkan manusia yang sedang berada dalam kondisi paling lemah dan membutuhkan rasa aman secara fisik maupun emosional.

Baca Juga:

Arak Flores Timur: Ketika Hukum Berhadapan dengan Budaya dan Hak Hidup

Karena itu, pelayanan rumah sakit Tzu Chi tidak hanya menekankan kecanggihan fasilitas medis, tetapi juga keramahan dalam berkomunikasi, kebersihan lingkungan, kenyamanan keluarga pasien, pendampingan emosional, serta penghormatan terhadap martabat pasien.

Nilai-nilai seperti inilah yang mulai dirindukan sebagian masyarakat dimanapun di tengah berbagai keterbatasan pelayanan yang mereka alami.

Dari sini muncul pertanyaan seperti, apakah bisa filosofi ini diterapkan di daerah 3T seperi Flores Timur?

Kita bisa melihat bahwa, penerapan filosofi pelayanan humanis ini sebenarnya tidak selalu bergantung pada kemewahan bangunan atau kecanggihan alat kesehatan saja. Banyak aspek dasar yang bisa diterapkan bahkan dalam kondisi fasilitas terbatas untuk setiap rumah sakit di daerah Flores Timur.

Kita bisa memulainya dari cara komunikasi yang bisa lebih empatik kepada pasien maupun keluarga pasien. Setelah itu, kita bisa menyediakan ruang pendamping sederhana bagi ibu pasca melahirkan karena hal ini sangat krusial bagi seorang ibu.

Baca Juga:

Tantangan Manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Flores Timur

Selain itu, keramahan dalam pelayanan, budaya disiplin, kebersihan, dan juga pendekatan yang menghargai pasien dan keluarga pasien sebagai manusia juga perlu diperhatikan.

Dari hal sederhana dan mendasar ini, sebenarnya sebuah rumah sakit dapat membangun kembali kepercayaan masyarakat. Sebab dalam banyak kasus, pasien dan keluarga tidak selalu menuntut fasilitas yang mewah atau teknologi yang canggih, namun yang dibutuhkan sering kali adalah rasa dihargai, didengar, diperlakukan dengan baik, serta diyakinkan bahwa mereka tidak sedang berjuang sendirian menghadapi sakit dan ketidakpastian.

Filosofi pelayanan seperti inilah yang membuat banyak rumah sakit modern berbasis kemanusiaan, salah satunya Tzu Chi, memperoleh kepercayaan besar dari masyarakat. Kehangatan komunikasi, ketenangan lingkungan rumah sakit, serta sikap empatik tenaga kesehatan mampu memberikan efek psikologis positif bagi pasien maupun keluarga.

Dalam konteks daerah seperti Flores Timur, penerapan nilai-nilai tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Bahkan di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga medis, perubahan kecil dalam budaya pelayanan dapat memberikan dampak besar terhadap pengalaman pasien.

Baca Juga:

Sekolah Perawat Di Larantuka Flores Timur

Senyum petugas kesehatan, cara berbicara yang santun, perhatian kepada ibu pasca melahirkan, hingga kesiapan mendengarkan keluhan keluarga pasien merupakan bentuk pelayanan dasar yang memiliki nilai kemanusiaan sangat tinggi.

Oleh karena itu, berbagai kritik dan keluhan masyarakat di media sosial seharusnya tidak hanya dibaca sebagai bentuk kemarahan publik, tetapi juga sebagai refleksi bahwa masyarakat Flores Timur mendambakan sistem pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi, lebih empatik, dan lebih menghargai martabat pasien sebagai manusia.

Dengan menjadikan unggahan warga dan melalui tulisan ini, diharapkan muncul ruang evaluasi bersama mengenai bagaimana pelayanan kesehatan di Flores Timur dapat terus diperbaiki, baik dari sisi fasilitas, sistem pelayanan, maupun pendekatan kemanusiaan terhadap pasien dan keluarga mereka.

Ipii Tokan adalah nama pena dari Siprianus Senuken Medhon (Junior) – Penulis adalah guru SMP Tarakanita 1 Pulo Raya / Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI 

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of