Jing Si : Sebuah Ziarah Batin

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Jalinan jodoh dengan Tzu Chi sepertinya sudah lama terjalin. Setidaknya itu dalam rekam ingatanku. Bertahun-tahun lalu, sebuah channel televisi yang sering aku tonton. Memilih chanel tv ini karena memang ia berbeda dengan yang lain.

Banyak tayang kisah-kisah kehidupan dalam program-program yang disajikan, dengan pesan-pesan mendalam. Dalam ingatku, DAAI TV,  menjadi seolah ‘biro jodohku’ yang mengenalkanku dengan Tzu Chi.

Bertahun-tahun kemudian, jalinan jodoh itu mulai tertaut kembali. Ketika di tempat kami bekerja, di PT. Kati Kartika Murni di Karawaci, yang adalah bagian dari Asia Pulp & Paper di bawah naungan atap Sinar Mas Group, mulai giat diperkenalkan dengan Tzu Chi.

“Bencana” dan Bencana – Relawan dan “Relawan”

Bertemu pertama dengan Tzu Chi lewat relawan-relawan, para Shixiong- sapaan untuk relawan pria-, dan Shijie –untuk menyapa relawan perempuan yang datang ke tempat kami terkesan biasa-biasa saja. Walaupun itu pertemuan tatap muka pertama, tak ada kesan mendalam.

Bukan karena para Shixiong dan Shijie tidak cukup mengenalkan Tzu Chi, mungkin saat itu ketertarikan akan Tzu Chi belum mekar sempurna.

Berhubung seorang teman, karena padatnya tanggung jawab di kantor kami, tidak dapat mengikuti kunjungan dalam rangka sosialisasi dan pengenalan Aula Jing Si – Pusat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Pantai Indah Kapuk (PIK), sayalah yang kemudian menggantikannya.

Pada kesempatan inilah yang membuat jalinan jodoh itu kemudian terjadi semacam peningkatan. Rasanya hati ini mulai mengenal dan mengagumi. Mungkin seperti orang lagi kasmaran, bertemu yang digebetnya.

Cahaya Menyeruak di tengah Kelam Corona

Dari KKM Karawaci, kami bertujuh, -walaupun belum dilantik, namun saya boleh menyapa mereka dengan Shixiong dan Shijie, – Shixiong Afrizal, Shixiong Irda, Shixiong Raga, Shijie Aghnie, Shijie Oom, dan Shijie Esty mengunjungi Aula Jing Si.

Ketika memasuki komplek Tzu Chi, kami disapa dengan ramah oleh petugas pengaman, dan diarahkan menuju tempat parkir. Sebagai orang baru ternyata kami sedikit kesulitan mencari tempat parkir. Namun ini adalah cara jodoh bekerja.

Ketika melewati gerbang utama kekaguman itu tak dapat kusembunyikan. “Kita harus berfoto di tempat ini,” kataku kepada teman-teman serombongan.

Bagaimana Bertindak ketika Kecelakaan?

Setelah parkir di basement kami pun naik menuju Aula Utama, naik lewat tangga di sebelah kanan ATM Center. Di depan kami sudah ada rombongan lain. Oleh petugas, kami masing-masing diberi sebuah kantong untuk menyimpan sepatu setelah menukarnya dengan sandal yang sudah disediakan.

Setelahnya kami diantar menuju tempat duduk. Di sana sudah ada teman-teman sesama APP yang sudah; lebih dahulu sampai. Relawan yang bertugas, sudah membagi kami dalam group-group kecil. Kami dari KKM – Karawaci berada di grup empat.

Acara tour untuk pengenalan Aula Jing Si dimulai. Didampingi oleh Shijie Iis Ismawati, Shijie Marchella dan Shijie Lauw Dianayanti kami pun memulai acara tour. Dari ruangan tempat kami menunggu, tour pertama kami adalah “Ci Bei Da Ting” lobi utama di lantai satu.

Menjadikan Larantuka Kota Bebas Sampah

Di dinding depan lobi utama ada relief 3 dimensi yang menceritakan tentang Tzu Chi. Di depan ada ada meja yang diatasnya tersusun rapi patung-patung Budha berwarna putih yang barangkali terbuat dari kristal.

Di lantai utama lobi, kami dikenalkan dengan relief delapan lembar daun Bodhisattva. Masing-masing perlambang Puas Diri, Bersyukur, Penuh Pengertian, Berlapang Dada, Bersatu Hati, Harmonis, Saling Mengasihi dan Gotong Royong.

Dari lobi utama kami menuju ke ruangan di sisi kiri, ke Jing Si Book and Café. Di ruangan ini kami dikenalkan dengan berbagai macam produk dari Tzu Chi dan banyak buku-buku. Ada mie, ada minuman kesehatan, ada juga makanan instan lain. Tentu semuanya vegetarian.

Dari sana kami pun ke lantai dua. Di lobi utama lantai dua, kami dikenalkan dengan ukiran di langit-langit lobi lantai dua. Ada delapan lukisan serupa malaikat yang menyimbolkan relawan Tzu Chi.

Ruang sembahyang di lantai dua Aula Jing Si, terdapat tiga patung khas Agama Buddha di ruangan ini.

Di lantai ini terdapat ruang untuk sembahyang yang kapasitasnya bisa menampung 300-an orang. Masuk ke ruangan ini seperti berada di dalam gedung bioskop. Di bagian depan terdapat 3 buah patung khas Agama Budha. Sayang sekali, saya tidak ingat nama dan perlambang dari ketiganya.

Keluar dari lobi lantai dua menuju semacam balkon, di sebelah kiri terdapat replika Griya Jing Si di Taiwan. Replika kediaman Master Cheng Yen, biksuni pendiri Tzu Chi. Saya terhipnotis dengan replika ini. Seolah berada di tempat asli di Hualien – Taiwan, sana.

Shixiong Irda, Shixiong Raga, Shijie Oom, Shijie Aghnie, Shijie Esty, dan Shixiong Afrizal, di depan replika Jing Si – Hualien – Taiwan

Kemudian ke lantai tiga. Di lantai ini terdapat ruang auditorium Gou Yi Ting dengan kapasitas yang dapat menampung kurang lebih 600-relawan. Ruangan ini biasanya digunakan untuk pelatihan bagi relawan yang jumlahnya banyak orang.

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju lantai empat. Rasa takjub semakin menderu-deru saat memasuki ruangan ini. Besar, tinggi, begitu megah. Ruangan yang bisa menampung 1.600 orang ini dipenuhi dengan bangku-bangku kecil yang terbuat dari kayu.

Bersama Shijie Iis Ismawati pendamping kelompok kami di lantai empat

Di bagian depan auditorium Jiang Jing Tang yang biasa digunakan untuk acara-acara besar Tzu Chi ini terdapat patung tinggi besar. Patung ini mengingatkanku pada sosok Master Cheng Yen. Besar namun anggun. Kesan hening nan tenang, mendominasi ruangan besar ini.

Dari lantai empat ini kami kembali ke ruangan di lantai satu, tempat kami menunggu untuk makan siang. Tour ke Jing Si – Pusat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di PIK, berakhir setelah makan siang, namun kesan mendalam tetap tersimpan abadi.  Bersambung..

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of