Catatan Untuk Maskot ETMC XXXV Flores Timur 2026

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sebagai orang yang pernah menggeluti dunia grafis, saya melihat semangat yang ingin dihadirkan dalam maskot ini sangat baik; mengangkat identitas Flores Timur melalui perpaduan olahraga, budaya, dan religiusitas yang kuat. 

Namun, berhubung maskot ini akan menjadi wajah ETMC XXXV 2026 yang akan diselenggarakan di Flores Timur, sekaligus sebagai representasi daerah di tingkat regional bahkan nasional, rasanya ada beberapa hal yang layak menjadi perhatian bersama.

Saya mengapresiasi niat baik si pembuat maskot yang mencoba memasukkan banyak unsur budaya Flores Timur ke dalam maskot ini. 

Baca Juga:

Tantangan – Tantangan ETMC XXXV 2026 Flores Timur: Akomodasi dan Konektivitas di Tengah Geografi Kepulauan

Namun ada beberapa catatan yang mungkin bisa menjadi bahan diskusi untuk penyempurnaan agar maskot ini benar-benar menjadi kebanggaan bersama masyarakat Flores Timur.

Pertama, desain maskot sebaiknya benar-benar lahir dari sentuhan orisinal seorang ilustrator atau desainer grafis, dan jauh dari kesan hasil olahan AI. 

Maskot sebuah event besar seperti ini idealnya memiliki karakter yang khas, unik, dan memiliki “jiwa”. 

Ketika masyarakat [termasuk yang bukan Flores Timur] melihatnya, langsung tahu bahwa itu adalah ETMC Flores Timur, artinya karakternya bukan yang bisa ditemukan di mana saja.

Kedua, soal pemilihan hewan maskot. Penjelasan yang diberikan memang mengaitkan gajah dengan filosofi gading sebagai bagian dari budaya Lamaholot. Secara filosofi hal itu bisa dipahami.

Baca Juga:

Flores Timur Menjemput Takdir ETMC XXXV 2026 : Antara Harga Diri, Sejarah, dan Keberanian Lewotanah

Namun jika berbicara tentang representasi visual, gajah bukanlah satwa yang identik dengan Flores Timur. Orang yang belum membaca penjelasan kemungkinan akan bertanya, “Mengapa Flores Timur memakai gajah?”

Kalau ingin menggunakan hewan sbg identitas daerah, mungkin akan lebih kuat jika dipilih satwa yang memang dekat dengan kehidupan masyarakat atau memiliki karakter yang merepresentasikan budaya Flores Timur. 

Misalnya “kambing jantan”, yang dalam kehidupan masyarakat Lamaholot jauh lebih akrab dan memiliki makna budaya dan adat yang juga kuat. Gading bisa dijadikan sebagai elemen simbolis tanpa harus menjadikan gajah sebagai karakter utama.

Ketiga, penggunaan motif tenun juga perlu lebih presisi.

Baca Juga:

Flotim Belum Siap: “Evaluasi Kritis Menuju Tuan Rumah El Tari Memorial Cup yang Bermartabat”

Pada salah satu penjelasan terkait motif disebutkan sarung bermotif khas Adonara yang dipakai laki-laki dalam acara adat. 

Kalau mengacu pada tradisi masyarakat Adonara, busana adat laki-laki berupa sarung memiliki motif khas yang dikenal sebagai Nowing, sedangkan motif perempuan dikenal sebagai Kwatek.

Karena maskot ini membawa nama Flores Timur, akan sangat baik apabila motif yang digunakan benar-benar sesuai dengan identitas budaya dengan penjelasan yg tepat. Detail kecil seperti ini menunjukkan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Keempat, ikat kepala.

Dalam penjelasan disebut sebagai ikatan kepala khas Pulau Solor. Namun secara visual yang ditampilkan justru lebih menyerupai tenunan. 

Baca Juga:

Selain Rusuh, Apa Prestasi Sepakbola Kita?

Sependek pengetahuan saya; dalam praktik adat, ikat kepala tersebut umumnya dibuat dari daun koli dengan bentuk dan karakter yang sangat khas. Ini juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan agar antara gambar dan penjelasan benar-benar selaras.

Saya melihat ini bukan soal mencari kekurangan, apalagi menyalahkan siapapun. Tapi semata atas pemahaman bahwa karena maskot ini akan menjadi ikon ETMC dan membawa nama Flores Timur, maka sudah semestinya ia dibangun di atas riset budaya yang kuat, detail yang akurat, dan desain yang benar-benar original.

Sehingga kalau nanti orang melihat maskot ini tanpa membaca penjelasannya, mereka langsung bisa berkata, “Ini Flores Timur.” Bukan malah bertanya, “Kenapa pakai gajah?”

Baca Juga:

Antara Ketahanan Permainan Kroasia dan Persepsi Dependensi Portugal terhadap Intervensi VAR

Masih ada ruang untuk menyempurnakan. Dan saya yakin, dengan melibatkan para budayawan, tokoh adat dari berbagai wilayah Lamaholot, seniman, ilustrator lokal, serta desainer grafis yang memahami karakter budaya Flores Timur, kita bisa menghasilkan maskot yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki landasan filosofis yang kuat dan mampu menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Flores Timur.

Karena sependek pemahaman saya maskot bukan hanya sebuah gambar. Maskot adalah wajah, identitas, dan cerita yang akan dikenang tentang Flores Timur setelah peluit terakhir ETMC ditiup.

Tulisan dan Foto diambil dari laman FB penulis

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of