Judul Buku : Wajah Masa depan Indonesia: Refleksi Siswa-Siswi SMA Tarakanita Magelang
Penulis : Agnes Devina, Stanislaus Riechi Ega P., Valeria Catania Setyawan, dkk.
Penerbit : Universitas Katolik Soegijapranata
Halaman : 136 halaman
Editor : I Gusti Nyoman Yonatan Wiradi, S.H., Mkn.
Paulus Angre Edvra, S.I.Kom.,M.A.
Elizabeth Florence Warikar, S.I.Kom., M.I.Kom.
Eposdigi.com – Saya dikirimi oleh Mbak Agnes Kusmawati, staf SMA Tarakanita Magelang, dua eksemplar buku karya siswa SMA tersebut. Buku pertama berjudul; Membangun Jiwa, Membangun Sesama, Merawat Bumi Rumah Kita. Sedangkan buku kedua berjudul; Wajah Masa Depan Indonesia, Refleksi Siswa-Siswi SMA Tarakanita Magelang.
Buku pertama diterbitkan oleh SMA Tarakanita Magelang sendiri, dengan editor St. Kartono, sedangkan buku kedua diterbitkan oleh Unika Soegijapranata Semarang. Saya baru sempat membaca buku kedua yang kemudian mendorong saya untuk menulis resensi buku kedua tersebut, yang akan Eduers baca.
Buku ini adalah hasil dari Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka. Buku tersebut berisi 33 esai, yang merupakan pilihan editor, setelah editor menilai 246 naskah yang masuk, yang merupakan hasil refleksi siswa kelas XI, setelah mereka menyelesaikan Proyek P5.
Baca Juga:
Ratusan Siswa SMP Tidak Dapat Membaca; Pendidikan Dasar Kita Sedang dalam Masalah Serius
Seluruh isi buku membahas tiga tema besar yakni Bhinneka Tunggal Ika, Kewirausahaan, dan Suara Demokrasi. Para siswa terlebih dahulu dilatih menggunakan pendekatan design thinking sebagai alat utama untuk menganalisis problem. Ini adalah pendekatan untuk memahami masalah dengan menekankan pada empati, kolaborasi, dan kreativitas.
Setelah itu, mereka terlibat dalam tiga proyek besar terkait Kewirausahaan, proyek Demokrasi dan proyek Kebhinekaan. Proyek kewirausahaan dimulai dengan seminar kewirausahaan, di mana sekolah mendatangkan Wirausahawan untuk men-sharing-kan pengalaman tentang wirausaha. Siswa diberi modal, lalu memulai proyek wirausaha.
Proyek demokrasi juga dimulai dengan cara yang kurang lebih sama. Siswa diberi tugas untuk mendalami konsep demokrasi terlebih dahulu, termasuk ajaran gereja tentang demokrasi. Proses dilanjutkan dengan workshop, di mana para siswa diajak bicara tentang demokrasi, dengan tujuan mereka semakin memahami apa itu demokrasi.
Baca Juga:
Setelah itu para siswa masuk dalam kelompok-kelompok atau secara individual untuk merencanakan aksi nyata. Ada yang bertugas membuat film pendek tentang demokrasi, ada yang membuat puisi atau cipta lagu tentang demokrasi, ada juga yang membuat poster digital, dan ada yang membuat mural tentang demokrasi.
Proyek kebhinekaan juga dilaksanakan dengan pola yang kurang lebih sama. Melalui sebuah seminar menarik yang menjelaskan tentang keberagaman, dan menonton film tentang keberagaman dan masalahnya, kegiatan kemudian berlanjut dengan kunjungan ke Vihara dan pesantren di sekitar Magelang.
Setelah menyelesaikan proyek tersebut, para siswa kemudian ditugaskan untuk menulis refleksi tentang pelaksanaan proyek tersebut yang menghasilkan 246 esai yang kemudian diseleksi oleh tim editor yang terdiri dari dosen Unika Soegijapranata yang keahlian mereka pada tiga bidang tersebut, hingga menghasilkan 33 esai yang dihimpun menjadi buku ini.
Dari proses ini kita menyaksikan proses belajar yang sangat mendalam di mana para murid tidak hanya mengetahui tetapi juga memahami, menerapkan, melakukan analisis, melakukan proses sintesis dan evaluasi. Ini adalah pembelajaran pada domain pengetahuan menurut Bloom.
Baca Juga:
Dan dari proses dan hasil yang mereka sajikan melalui esai yang kita baca, menurut saya proses belajar yang mereka tempuh tidak hanya pada domain kognitif tetapi juga pada domain afektif dan psikomotor, karena proses belajar mereka berakhir dengan menghasilkan karya, kreativitas.
Melalui proses belajar seperti ini, SMA Tarakanita Magelang sedang sungguh menjadi sekolah yang menyiapkan para siswa untuk menghadapi tantangan mereka di kehidupan nyata, bukan hanya menyiapkan siswa untuk menjawab soal ujian. Hal ini seperti pepatah romawi yang dikutip dalam pengantar buku oleh Joko Purwanto, koordinator Pembelajaran P5 ini; “Non scholae sed vitae discimus.”
Kreativitas memang hanya bisa dihasilkan melalui proses belajar mendalam dan kaya yang tidak hanya melibatkan domain pengetahuan melainkan juga melibatkan domain afektif dan domain psikomotorik. Hal ini tidak kita temukan di banyak sekolah di Indonesia. Proses belajar seperti ini hanya terjadi pada sekolah dengan Kepala Sekolah dan guru-guru bermutu.
Eduers dapat menyimpulkan sendiri mutu SMA Tarakanita Magelang sebagai sekolah dengan karya siswa seperti ini. Namun ada beberapa kesalahan cetak pada beberapa halaman yang perlu diperbaiki. Meskipun demikian, tidak terlalu mengganggu tampilan buku ini secara keseluruhan.
Baca Juga:
Sesungguhnya Pengembangan Minat Membaca Anak Tanggung Jawab Siapa?
Oleh karena itu melalui tulisan ini saya menyampaikan selamat pada Yayasan Tarakanita, Kepala SMA, Guru-guru, dan terutama pada Siswa SMA Tarakanita Magelang, untuk capaian ini. Mudah-mudahan karya yang kalian hasilkan menginspirasi SMA yang lain untuk melakukan hal yang sama.
Dan bagi para siswa, kalian beruntung bersekolah di sekolah ini, dengan kegiatan seperti ini. Dampak kegiatan akan membentuk kalian menjadi pribadi yang berbeda. Sekarang mungkin belum terasa, tapi nanti akan terasa ketika kalian ada di perguruan tinggi. Level kalian akan terasa berbeda ketika kalian berinteraksi dengan mahasiswa lain di perguruan tinggi.
Kita berharap proses semacam ini dapat terus dilakukan pada saat yang akan datang, meskipun kurikulumnya nanti akan berubah dan kegiatan P5 tidak ada dalam kurikulum baru tersebut. Karena seharusnya bukan kurikulumnya, melainkan fokus pada pertumbuhan siswanya.
Jika kurikulum resminya memiliki kelemahan sehingga menghambat Guru untuk merancang kegiatan yang menumbuhkan potensi siswa, demi pertumbuhan siswa, guru yang kreatif harusnya terpanggil untuk menyiasati kurikulum resmi demi menghadirkan real kurikulum yang lebih menumbuhkan siswa.
Baca Juga:
Pengajaran Apa yang Bisa Kita Ambil dari Buku Atomic Habits?
Kelebihan lain dari proses belajar SMA Tarakanita Magelang ini juga tidak hanya terletak pada hasilnya, melainkan juga pada sinergi dengan lembaga lain. Di proyek P5 ini, SMA Tarakanita Magelang bersinergi dengan Unika Soegijapranata. Sinergi ini tidak hanya baik untuk SMA Tarakanita Magelang, tetapi juga baik untuk Unika Soegijapranata.
Kita berharap kerjasama seperti ini menginspirasi perguruan tinggi yang lain untuk juga turun ke SMA, menyumbangkan keahlian untuk perbaikan mutu SMA. Karena jika lulusan SMA bermutu unggul dan masuk perguruan tinggi, kehadiran mereka akan berdampak pada mutu proses di perguruan tinggi.
Perguruan tinggi yang mau berkembang harus proaktif. Jangan hanya mengharapkan perbaikan mutu lulusan SMA masuk perguruan tinggi, tetapi perguruan tinggi tidak melakukan apa-apa untuk pertumbuhan mutu SMA tersebut, padahal memiliki keahlian yang dapat disumbangkan.
Baca Juga:
Akhirnya silahkan membaca buku ini sendiri. Eduers akan melihat optimisme wajah masa depan Indonesia melalui buku ini. Dan mudah-mudahan praktik baik ini menginspirasi semakin banyak sekolah untuk melakukan proyek P5 yang sama.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto dari unika.ac.id
Leave a Reply