Menjaga Makna, Tapi Jangan Abaikan Keselamatan Sebagai Fundamental Kehidupan

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Tulisan “Di Antara Abu dan Akar” yang ditulis Anselmus DW Atasoge membawa kita menyelami lebih jauh kedalaman makna di balik keputusan sebagian warga korban erupsi untuk tetap tinggal di lereng Gunung Lewotobi. 

Penulis mengajak kita berpikir lebih dalam tentang rumah bukan hanya sebagai sebuah bangunan fisik saja, tetapi juga sebagai ruang hidup yang di dalamnya melekat  sejarah, dan sekaligus gambaran identitas manusia. 

Ini menjadi sebuah pengingat penting, bahwa evakuasi para korban erupsi gunung Lewotobi Laki-laki bukan hanya soal memindahkan raga semata, tapi juga sekaligus soal memelihara jiwa yang hidup.

Baca Juga:

Mitos dan Gunung

Namun, dalam konteks kebencanaan, keindahan gagasan yang nampak ideal sering kali harus berhadapan dengan kerasnya realitas yang ada. Gunung tidak menunggu masyarakat siapkan diri untuk muntahkan material dari perutnya. 

Letusan tidak mengenal dialog untuk mencari solusi terbaik. Bencana alam pada kenyataannya tidak pernah memberi ruang untuk pertimbangan yang panjang lebar. 

Pada titik inilah kita perlu bersikap jujur dan realistis—bahwa dalam konteks darurat kebencanaan, keputusan harus diambil dengan cepat, demhab tegas, dan bahkan kadang harus dipaksakan meski terasa amat pahit.

Meski demikian, kita memang tak bisa begitu saja mencabut akar warga dari tanahnya. Tapi kadang, untuk bisa menanam kembali, kita memang perlu mencabut. Bukan untuk menghapus sejarah, tapi justru untuk menyelamatkannya. 

Baca Juga:

Gunung, Perempuan dan Ata Diken Lamaholot

Tak ada makna yang bisa dijaga jika nyawa sudah melayang. Tak ada warisan tradisi yang bisa diwariskan kalau tak ada generasi penerus yang mesti diselamatkan.

Apakah pendekatan yang ideal itu salah? Tidak. Tapi dalam situasi darurat kebencanaan, idealisme harus berjalan berdampingan dengan ketegasan. Kita butuh kecepatan bertindak tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan. 

Pada titik inilah Negara, Gereja, dan Komunitas Adat (warga masyarakat korban erupsi) harus benar-benar bersatu, bukan hanya dalam narasi, tetapi dalam aksi nyata. Karena menyelamatkan hidup tidak serta merta berarti mengorbankan nilai—kita hanya menunda untuk merawatnya di tempat yang lebih aman. Di ruang hidup yang lebih bisa meneruskan nilai, sejarah dan identitas itu.

Baca Juga:

Bangga Menjadi Insan Pengamat Gunung Api

Solusi jangka panjang tentu tetap wajib melibatkan partisipasi warga korban erupsi, dengan pendekatan yang menghormati budaya dan spiritualitas masyarakatnya. 

Tapi untuk saat ini, negara dan gereja perlu berkata dengan lembut tapi tegas: “Yang paling penting sekarang adalah selamat dulu. Kita bisa membangun kembali nanti—bersama-sama.” ini pilihan pahit yang mesti diambil.

Kadang yang ideal memang indah dan mengandung nilai humanis yang luar biasa. Tapi yang realistis bukan berarti tidak humanis, karena ia bisa menyelamatkan. 

Baca Juga:

Koperasi Merah Putih dan Masa Depan Arak Tradisional Flores Timur

Dan siapa tahu, dengan mengambil pilihan realistis, kita justeru bisa menemukan jalan paling solutif: memberikan tempat yang aman untuk tetap menjaga akar—tanpa harus terjebak di tengah abu vulkanik dan lahar erupsi gunung Lewotobi.

Foto letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki diambil dari tangkapan layar laman FB Anselmus  Bobyson Lamanepa

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of