Mitos dan Gunung

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sebagai bagian dari masyarakat adat saya percaya pada banyak mitos yang hidup di  dalamnya. Beberapa di antara mitos tersebut bisa diverifikasi dan difalsifikasi secara ilmiah. Karena pada dasarnya, mitos adalah pengetahuan tradisional yang dikonstruksi komunitas masyarakat jauh sebelum sains modern ditemukan.

Sama seperti sains modern, mitos dikonstruksi sebagai mekanisme yang mengatur bagaimana manusia berelasi dengan kehidupannya. Bagaimana manusia bisa mengenal dan mengindentifikasi kehidupan lain di sekitarnya.

Tentu saja mitos adalah bentuk dari kesadaran manusia tradisional bahwa, tidak ada kehidupan yang lebih spesial di muka bumi ini. Bahwa setiap kehidupan dan fenomena yang saling berkelindan, menuntut keseimbangan dan keharmonisan.

Baca Juga: Menyanggah Pemikiran Melawan Takhyul_6 Daniel Ama Nuen

Manusia tidak lebih penting daripada makhluk hidup lain. Kebijaksanaan hidup seperti itu, berlandaskan mitos, tumbuh di semua jenis masyarakat adat di Indonesia.

Agama seperti Hindu dan Budha, bahkan memformulasikan kebijaksanaan tersebut ke dalam narasi-narasi wahyu. Ditulis dalam kitab suci mereka.

Mitos tentang gunung, misalnya, kemudian dipraksiskan ke dalam aturan adat untuk menjaga harmonisasi kehidupan manusia dengan ekosistem gunung.

Jauh sebelum sains modern menyebut gunung sebagai “water tower”, mitos masyarakat adat telah menempatkan gunung sebagai sumber kehidupan. Tempat di mana manusia bermula dan berakhir.

Itulah kenapa masyarakat adat di Amungme begitu marah saat “gunung suci” mereka dikorek Freeport untuk mengekstraksi emas di dalam perutnya. Limbah Freeport kemudian mencemari air-air sungai.

Baca Juga: Menjadi Manusia Beragama Dan Manusia Berbudaya (Ber-Adat) Adonara

Hutan dideforestasi dan didomestikasi sehingga menutup pintu bagi masyarakat setempat dengan ruang hidup mereka.

Kisah masyarakat Amungme ini adalah sedikit dari ilustrasi bagaimana mitos tentang gunung memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia yang lebih kompleks. Hutan, gunung, laut, dan sungai adalah empat sumber daya esensial yang penting bagi hidup manusia.

Papua yang nyaris tidak pernah terkena bencana banjir, sekarang harus merasakannya. Kerusakan ekologi hutan, gunung, sungai, dan laut, memaksa banyak sekali masyarakat lokal — terutama masyarakat adat — harus mengungsi. Terisolir. Dan bertaruh nyawa.

Gunung adalah tower air yang menangkap begitu banyak uap air dan hujan. Itulah kenapa dia membutuhkan hutan untuk membantu kerjanya dalam menciptakan perangkap air.

Semakin banyak air yang disimpan di dalam pori-pori gunung, semakin tinggi potensi air tanah dan permukaan untuk kehidupan di sekitarnya. Termasuk kehidupan manusia. Dan untuk bisa menangkap hujan dan uap, gunung membutuhkan laut.

Baca Juga: Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara

Ada begitu banyak hirarki hutan dan flora lainnya di gunung. Tidak ada satu pun yang tidak penting. Bunga Edelweis, misalnya. Keindahan bunga ini memang memikat. Tapi perannya terhadap keseimbangan ekologi gunung sangat penting.

Dia salah satu dari sedikit flora yang bisa tumbuh di kondisi tanah ekstrim di penggunungan. Edelweis berperan untuk mencegah erosi dan limpasan air hujan berlebihan. Itulah kenapa menjaga kelestarian Edelweis di pegunungan adalah hal yang sangat krusial.

Bagaimana dengan mitosnya? Masyarakat adat di Bromo-Tengger menganggap bunga Edelweis sebagai bunga suci. Anugerah yang diturunkan para dewa untuk mereka. Hanya digunakan untuk ritual-ritual tertentu.

Sampai akhirnya Bromo-Tengger menjadi boom wisata. Habitat Edelweis di kawasan Bromo-Tengger terancam dan mulai rusak. Walaupun pemerintah telah mengizinkan budidaya Edelweis untuk mencegah perusakan habitat liarnya di gunung.

Sayang sekali, ada semacam takhayul aneh yang berkembang di masyarakat modern. Tentang relasi antara Edelweis dengan insekuritas mereka pada relasi percintaan. Bahwa, naik gunung kemudian memetik Edelweis akan melanggengkan sebuah hubungan.

Baca Juga: Menuju Adonara Baru (Penutup tiga tulisan)

Takhayul aneh ini tentu saja memiliki level oxymoron yang menggelisahkan. Terutama karena takhayul tersebut tumbuh di tengah masyarakat modern yang sering mendiskriminasi masyarakat adat yang hidup dengan mitos demi menjaga keharmonisan lingkungan hidup mereka.

Sebagai tower air, setelah menampung banyak air, gunung biasanya melepaskan air-air tersebut dalam bentuk air tanah atau sungai/kali. Salah satu alasan kenapa di lereng gunung kita bisa membor air atau menggali sumur.

Meskipun eksploitasi air yang berlebih di lereng gunung sama buruknya dengan langsung mengambil air dari gunung.

Tiap gunung memiliki kemampuan berbeda dalam menyediakan air. Semuanya tergantung pada letak geografis dan kondisi geologisnya. Oleh sebab itu, argumen yang mengatakan bahwa gunung bisa menyediakan air tanpa batas adalah omong kosong belaka.

Gunung bisa berhenti menyediakan air kalau manusia tetap rakus merusak ekosistemnya dan terus secara berlebihan memeras air tanah yang dia sediakan.

Lalu apa pentingnya sumber-sumber air yang sering muncul di beberapa puncak gunung? Kenapa tidak boleh dieksploitasi? Air-air di puncak gunung atau sumber air dikawasan pegunung adalah indikator hidrologi alami untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat.

Juga menjadi pratanda bahwa, gunung tersebut masih bisa menyimpan air dalam pori-porinya.

Surutnya air di Ranu Kumbolo kawasan pegunungan Bromo-Tengger, misalnya, memberi petunjuk ke masyarakat setempat terkait bencana-bencana yang mungkin datang.

Baca Juga: Agama Koda : Alap’et Rera Wulan Tana Ekan – ARWTE

Bagi para peneliti, perilaku sumber air di pegunungan bisa menjelaskan beberapa fenomena kerusakan ekologi hutan, pemanasan global, atau kemungkinan makin panjangnya jeda antara musim hujan dan musim kemarau. Sumber air tersebut juga bisa menjelaskan kemampuan gunung dalam menyediakan air bagi kehidupan di sekitarnya.

Menjaga gunung adalah tugas dan tanggung jawab manusia yang sangat penting. Menjaga gunung tidak hanya dengan naik gunung dan foto-foto. Tapi, lebih penting adalah mengkampanyekan dan menjaga kelestarian ekologinya.

Gunung memiliki peran yang sangat penting dalam rantai kehidupan manusia. Gunung yang rusak hanya akan mendatangkan petaka.

Foto:Gunung Lawu dari Instagram/@marufmelodicpunk

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Mitos dan Gunung […]