Kebiasaan Merubah Biasa Menjadi Luar Biasa

Budaya
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Sedikit cerita untuk mengawali tulisan ini. Sampai saat ini pun, menulis bukan kebiasaan saya sehari-hari. Saya pun bingung mengidentifikasi apa sebenarnya kebiasaan saya. Apakah tidur? Atau makan?

Saya rasa tidak juga karena itu keharusan. Bahwa saya harus tidur. Pun Makan. Bagaimana dengan menulis?

Bahkan sampai hari ini pun, saya masih merasa bahwa mulai menulis pun hanya ketika disuruh. Lebih lagi, kadang merasa terpaksa ketika menulis. Paksaan itu, kemudian melahirkan beberapa tulisan yang tayang di media ini. Mungkin hanya website yang bersediah menaungi tulisanku.

Yah, awalnya menulis tentang perjalanan menuju kuliah, kemudian isu-isu sederhana seperti bahaya merokok, atau bahkan tugas kuliah pun saya unggah di website itu. Tulisan-tulisan ini pun saya tulis ketika awal kuliah, mungkin semester 1-2 saja. Setelah itu, tidak ada lagi tulisan sampai cerita ini tertulis.

Baca juga:

Pentingnya Melatih Menulis Halus di Kelas Kecil Sekolah Dasar untuk Perkembangan Otak Anak

Tidak tahu apa yang menggerakan tangan saya untuk kembali menulis, tapi bingung juga dimana saya bisa menyampaikan cerita atau isi pikiran tentang apapun yang membebani dan juga menyemangati.

Ah, bisa jadi karena kebiasaan dirumah yang menjadi pemantik untuk menulis kembali. Tapi bisa jadi karena saya bangga ketika saya menunjukan tulisan saya ke orang rumah. “Lihat, sudah tiga ribu orang yang membaca tulisan saya kan? Keren tidak?” sambil sombong dikit gak apa-apa kali ya? heheheh

Tapi itulah proses. Kadang masih merasah aneh. Menulis awalnya bagiku adalah sesuatu paksaan. Kini justru perlahan menjadi tempat untuk menyibukan diri. Saya mulai sadar bahwa kebiasaan tidak selalu lahir dari hal yang kita sukai.

Kadang, ia tumbuh dari sesuatu yang terus kita ulang, sekecil apapun itu. Sama seperti menulis, yang awalnya hanya mengambil tugas sebagai bahan tulisan, kini perlahan berubah menjadi ruang untuk berbicara dengan diri sendiri.

Baca juga:

Hasil Penelitian; Menulis Dengan Tangan Lebih meningkatkan Kemampuan Otak Daripada Mengetik di Keyboard

Saya juga mulai memahami bahwa kebiasaan bisa mengubah cara seseorang melihat hidup. Dulu, saya merasa semua hal harus memiliki hasil yang besar agar layak dilakukan. Tulisan harus bagus, pembaca harus banyak, atau setidaknya ada pujian yang datang.

Namun, sekarang saya mulai menikmati prosesnya (walaupun kadang masih menunda). Menulis satu paragraf saja sudah cukup membuat kepalaku terasa lebih ringan.

Bukan berarti ingin menyamakan diri dengan banyak penulis hebat lainnya, tapi kadang ada rasa menyenangkan ketika berhasil menyelesaikan sebuah tulisan, walaupun itu sederhana.

Menyenangkan memang. Itu kenapa saya paham bahwa banyak penulis mengatakan istirahat dari banyak tuntutan hidup terbaik mereka, cara istirahat yang paling menyengankan, adalah dengan menulis.

Baca juga:

Kemendikbudristek Menyelenggarakan Lomba Menulis Naskah Dongeng, Simak syarat, Ketentuan dan Hadiahnya

Menulis itu tidak mudah. Bagiku begitu. Tapi bukan soal mudah atau sulitnya. Menulis adalah soal memulai, dari kata pertama, menjadi kaliamt pertama, kemudian menjadi pragraf pertama.

Tiap huruf yang menyusun kata, kata yang membentuk kalimat, kalimat yang menghimpun paragraf adalah perjuangan bagi banyak orang. Tapi itulah kenikmatan proses.

Menulis jelas banyak manfaatnya. Bukan hanya soal memenuhi kebutuhan akan hasrat memegahkan diri. Bahwa ada keinginan primitif menyenangi pujian orang setelah membaca tulisanku.

Lebih dari itu, menulis adalah cara paling cepat untuk menguji sistematika berpikir. Disadari persis bahwa kadang masih banyak kesalahan kecil ketika meyusun paragraf. Masih bingung menempatkan inti kalimat pada awal, tengah ataau akhir paragraf. Mana induk, mana anak kalimat.

Baca juga:

Ulang Tahun Eposdigi; Komitmen Untuk Terus Mengajak Mahasiswa Menulis

Bahwa itu hal baik dan benar. Perasaan menyenangkan setelah membaca sebuah tulisan itu lebih “nagih” dari pada fokus untuk mencari dan menemukan kesalahan-kesalahan teoritis dari sebuah tulisan. Lebih ‘nagih’ lagi jika tulisan yang menyenangkan itu adalah tulisan sendiri.

Mulai menulis itu sulit. Sama sulitnya dengan mulai menulis lagi. Malas itu biasa. Ingin menulis juga biasa. Mulai menulis kemudian berhenti karena idenya mandek, itu juga biasa. Yang menjadi pembeda bahwa hal-hal biasa ini harus diulangi lagi dan lagi.

Mungkin, pada akhirnya kebiasaan bukan tentang melakukan sesuatu setiap hari dengan sempurna. Menurut saya sendiri pun, kebiasaan adalah tentang kembali pada komitmen. Memilih untuk kembali mencoba, kembali memulai, meskipun sempat berhenti cukup lama. Dan bisa jadi, tulisan ini adalah salah satu cara memulai kebiasaan itu lagi.

Penulis adalah guru SMP Tarakanita 1 Pulo Raya

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of