Eposdigi.com – Di Lamaholot, wua malu bukan sekadar sirih dan pinang. Ia adalah bahasa adat yang tidak diucapkan dengan mulut, tetapi disampaikan dengan tangan, hati, dan penghormatan.
Sebelum tamu dipersilahkan duduk, sebelum percakapan dimulai, bahkan sebelum keputusan adat diambil, wua malu lebih dahulu berbicara.
Ia hadir dalam penyambutan tamu, perjumpaan keluarga, ritus di korke (rumah adat), di lango belen (rumah besar klan), maupun di kebun ketika upacara adat dilaksanakan. Dalam ruang-ruang itu, wua malu tidak pernah hadir sebagai makanan. Ia hadir sebagai tata krama peradaban.
Baca Juga:
Prinsipnya Benar Tapi “Salah”: Membaca Labirin Takdir dan Paradoks Cinta dalam Adat Lamaholot
Menariknya, dalam penyambutan tamu, wua malu dibawa oleh para ibu dari pihak tuan rumah. Mereka berjalan mengelilingi tamu satu per satu.
Namun ketika memasuki ruang ritual adat, wua malu berada di tangan mereka yang memiliki legitimasi adat: raja tuan, tuan tanah, atau tetua klan. Ini menunjukkan bahwa wua malu selalu mengikuti tata hubungan, bukan sekadar tata acara.
Ada satu hal yang sering luput kita sadari. Dalam hampir semua tradisi adat Lamaholot, wua malu tidak pernah benar-benar untuk satu orang. Ia selalu dibawa kepada banyak orang, diedarkan, disuguhkan, diterima, lalu dinikmati bersama. Seolah-olah para leluhur ingin mengatakan bahwa hubungan tidak pernah lahir sendirian.
Baca Juga:
Sepiring Nasi Itu Dibayar dengan Nyawa: Pesan Besi Pare yang Mulai Kita Lupakan
Mungkin inilah kalimat yang layak kita renungkan: “Peradaban tidak lahir ketika manusia mulai berbicara, tetapi ketika manusia mulai saling menghormati.”
Semakin dipikirkan, semakin terasa benarnya. Karena yang mengubah sepotong sirih dan sebiji pinang menjadi adat bukanlah bendanya, melainkan tindakan saling memberi.
Tradisi seperti ini ternyata tidak hanya hidup di Lamaholot.
Di banyak daerah Nusantara, sirih pinang juga menjadi lambang penghormatan dan persaudaraan. Masyarakat Melayu mengenal tepak sirih sebagai simbol penerimaan tamu dan bagian penting dalam perkawinan adat.
Baca Juga:
Koten Kelen Hurit Maran : Konstitusi Sosial dan Penjaga Keseimbangan Kosmos Lamaholot
Di berbagai wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua, sirih pinang menjadi tanda persahabatan, perdamaian, dan penghormatan kepada tamu.
Bahkan di luar Indonesia, tradisi serupa juga hidup di berbagai peradaban. Di Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Vanuatu, hingga sebagian masyarakat pesisir Asia Tenggara, mengunyah pinang menjadi bagian dari tata pergaulan sosial dan penghormatan antar manusia.
Bentuknya boleh berbeda, tetapi pesannya sama: hubungan lebih berharga daripada benda yang disuguhkan. Mungkin karena itulah leluhur Lamaholot tidak memilih emas, perak, atau permata sebagai lambang penerimaan.
Mereka memilih sirih, pinang, dan kapur—benda-benda yang sederhana, mudah ditemukan, tetapi hanya bermakna ketika dibagikan kepada orang lain.
Baca Juga:
Di zaman ketika orang berlomba menunjukkan kekayaan, wua malu mengajarkan bahwa kemuliaan bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang kita bagikan, pada cara kita menerima sesama.
Mari menjaga warisan ini. Karena yang diwariskan leluhur bukan sekadar tradisi mengunyah sirih pinang, tetapi cara memuliakan manusia.
Leave a Reply