Bala di Bala, KODA di Bala: Ketika Kata Menjadi Gading

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam kehidupan adat masyarakat Adonara terdapat sebuah ungkapan yang sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat dalam: “Bala di bala, KODA di bala.”

Ungkapan ini secara harfiah menempatkan bala dan KODA dalam hubungan yang sangat erat. Bala berarti gading, sedangkan KODA adalah kata, ucapan, kesepakatan, atau janji yang telah diikrarkan dalam hubungan adat.

 Karena itu, ungkapan “bala di bala, KODA di bala” dapat dipahami sebagai: “Gading adalah gading, tetapi KODA juga adalah gading.”

Bagi orang yang melihat gading hanya sebagai benda, ungkapan ini mungkin terasa aneh. Bagaimana mungkin sebuah kata disamakan dengan gading? Gading adalah benda yang dapat dilihat, dipegang, dipindahkan, dan diserahkan. 

Sementara KODA hanyalah ucapan. Tetapi dalam kehidupan adat Adonara, KODA bukan sekadar kata. KODA adalah kata yang telah memperoleh kekuatan melalui kesepakatan, kehormatan, dan tanggung jawab. Ketika KODA telah disampaikan dan disepakati dalam ruang adat, ia mempunyai daya ikat. 

Baca Juga:

Apakah KODA Itu Ideologi, Falsafah Hidup, atau Sistem Pengetahuan Lokal?

Karena itu, KODA dapat mempunyai nilai yang setara dengan benda yang dijanjikannya. Di sinilah letak kedalaman ungkapan tersebut.

Gading adalah jaminan dalam bentuk benda, sedangkan KODA adalah jaminan dalam bentuk kata. Gading dapat hadir secara fisik, tetapi KODA dapat menjamin kehadiran gading meskipun gading itu belum berada di tempat.

KODA Mendahului Gading

Hal ini dapat dilihat dalam proses behin bau ukut KODA, ketika dua keluarga bertemu untuk membicarakan dan menyepakati persoalan adat perkawinan.

Pada saat itu, yang paling penting bukan semata-mata apakah gading sudah tersedia secara fisik. Yang lebih penting adalah kesepakatan yang lahir dari KODA.

Ketika kedua pihak telah bertemu, berbicara, bermusyawarah, dan mencapai kesepakatan mengenai gading, maka KODA telah menjadi jaminan. Gading boleh belum ada di tangan. Gading boleh belum diserahkan. Gading bahkan mungkin belum tersedia pada saat kesepakatan dibuat.

Baca Juga:

Kejahatan, Penderitaan, dan KODA: Sebuah Perspektif Filsafat Lamaholot

Namun secara adat, KODA telah menjamin gading tersebut. Karena itu, dapat dikatakan: ‘Gading belum ada secara fisik, tetapi sudah ada dalam KODA’.

Inilah yang membedakan cara pandang adat dengan cara pandang transaksi ekonomi. Dalam transaksi ekonomi modern, sesuatu biasanya dianggap sah dan mengikat apabila terdapat benda, uang, tanda tangan, kontrak, atau jaminan material. 

Dalam kehidupan adat, kata yang telah diucapkan dengan penuh tanggung jawab dapat menjadi jaminan itu sendiri. Orang memegang KODA karena ia memegang kehormatannya.

Mengapa KODA Dapat Menjadi Gading?

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa KODA dapat disamakan dengan gading? Jawabannya terletak pada kepercayaan. Gading mempunyai nilai karena ia merupakan benda yang disepakati sebagai bagian dari kewajiban adat. Tetapi KODA-lah yang memastikan bahwa kewajiban tersebut akan dipenuhi.

Dengan demikian, nilai gading sebenarnya tidak berdiri sendiri. KODA memberikan kepastian kepada gading. Jika seseorang telah memberikan KODA, maka ia telah menyatakan kesediaannya untuk memenuhi apa yang telah disepakati. 

Karena itu, pihak yang menerima KODA tidak harus memegang gading terlebih dahulu untuk percaya. Ia percaya kepada orang yang mengucapkan KODA. Di sinilah KODA menjadi lebih dari sekadar ucapan. KODA adalah kepercayaan yang diberi bentuk melalui kata.

Maka: Gading adalah benda yang dapat dilihat; KODA adalah kepercayaan yang tidak terlihat. Namun keduanya memiliki satu kesamaan: keduanya menjamin hubungan.

Baca Juga:

KODA: “Menjaga Alam adalah Menghormati Rera Wulan Tana Ekan”

KODA adalah Kehormatan

Dalam konteks ini, KODA tidak boleh dipahami sebagai janji biasa. Orang dapat mengucapkan banyak kata setiap hari dan kemudian melupakannya. Tetapi KODA yang lahir dari kesepakatan adat mempunyai konsekuensi yang lebih besar karena ia menyangkut kehormatan pribadi, keluarga, dan suku.

Ketika seseorang memberikan KODA, ia tidak hanya memberikan sebuah ucapan kepada orang lain. Ia sedang mempertaruhkan nama dan kehormatannya sendiri.

Karena itu, melanggar KODA bukan hanya berarti tidak memberikan gading sebagaimana yang telah disepakati. Lebih jauh, pelanggaran tersebut dapat dipandang sebagai kerusakan terhadap hubungan dan kepercayaan yang telah dibangun antara dua keluarga dan dua suku.

Maka sesungguhnya KODA memiliki fungsi etis: KODA mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab terhadap kata-katanya sendiri.

Dalam dunia yang semakin mudah membuat janji dan semakin mudah pula mengingkarinya, filsafat KODA memberikan pelajaran yang sangat penting: kata harus mempunyai konsekuensi.

Baca Juga:

Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital

Gading adalah Bentuk, KODA adalah Jiwa

Dari sini kita dapat memahami hubungan antara gading dan KODA secara lebih mendalam. Gading adalah bentuk material dari kesepakatan. KODA adalah jiwa dari kesepakatan itu.

Gading dapat berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tetapi KODA-lah yang menjelaskan mengapa gading itu harus berpindah.

“Gading menjelaskan apa yang diberikan. KODA menjelaskan mengapa diberikan dan apa tanggung jawab yang menyertainya”.

Karena itu, jika kita hanya melihat gading tanpa memahami KODA, kita hanya melihat benda. Tetapi jika kita memahami KODA, kita akan melihat: penghormatan kepada perempuan; hubungan antara keluarga; persatuan dua suku; tanggung jawab laki-laki, kehormatan keluarga; hubungan dengan leluhur; dan keberlanjutan generasi.

Dengan demikian, KODA memberi gading kehidupan sosial dan moral. Ketika Gading Menjadi Komoditas, maka  Persoalan besar muncul ketika gading dilepaskan dari KODA.

Baca Juga:

Krisis Moderen : Ketika Runtuhnya Pagar Koda

Ketika gading hanya dilihat sebagai benda bernilai ekonomi, pertanyaan yang muncul adalah:

“Berapa harga gading?” Padahal dalam pandangan adat, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Apa KODA yang berada di balik gading itu?” Jika KODA dilupakan, gading akan mudah berubah menjadi komoditas. Ia dapat diperjualbelikan. Ia dapat dihitung hanya berdasarkan ukuran dan harga. 

Ia dapat dipotong menjadi aksesori. Ia dapat dibawa keluar dari Adonara tanpa lagi mempertimbangkan hubungan adat yang melekat padanya.

Pada saat itulah terjadi perubahan besar: Satu : Gading yang semula menjadi simbol hubungan berubah menjadi barang transaksi, Dua: Dan ketika itu terjadi, yang hilang bukan hanya gading, tetapi KODA yang memberikan makna kepada gading. Tiga: Gading Tidak Boleh Mengalahkan KODA, Karena itu, menjaga gading tanpa menjaga KODA tidaklah cukup.

Kita bisa menyimpan gading di rumah-rumah adat, tetapi jika generasi muda tidak lagi memahami mengapa gading itu ada, maka benda tersebut perlahan akan kehilangan maknanya.

Sebaliknya, selama KODA masih hidup, masyarakat akan memahami bahwa gading bukan sekadar harta. Gading adalah amanah. Ia bukan semata-mata milik individu. Ia berkaitan dengan suku. Ia berkaitan dengan leluhur. Ia berkaitan dengan perkawinan. Ia berkaitan dengan perempuan.

Baca Juga:

Koda Sebagai Identitas Budaya dan Simbol Kehormatan

Dan ia berkaitan dengan generasi yang akan datang. Karena itu, ungkapan “bala di bala, KODA di bala” sebenarnya mengajarkan sebuah filsafat yang sangat mendalam: Jangan melihat gading hanya sebagai benda. Lihatlah KODA yang membuat gading bernilai.

Gading adalah gading. Tetapi KODA juga adalah gading.

Sebab ketika KODA telah disepakati dalam behin bau ukut KODA, gading yang belum hadir secara fisik pun telah memiliki jaminan dalam kehidupan adat. Gading dapat disimpan di rumah, tetapi KODA disimpan di dalam kehormatan manusia.

Dan mungkin disitulah letak kekuatan terbesar kebudayaan Adonara: ketika kata yang diucapkan dengan benar dapat mempunyai kekuatan yang sama dengan benda yang diberikan. KODA bukan sekadar kata tentang gading. KODA adalah gading yang belum berbentuk benda.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of