Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pagi hari di banyak rumah hari ini dimulai dengan cahaya layar. Anak bangun tidur, yang pertama dicari adalah telepon genggam. Malam hari tidak lagi ditutup dengan dongeng atau percakapan hangat, tetapi dengan video pendek yang tak pernah selesai digulir.

Kita sedang menyaksikan pergeseran sunyi: rumah perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang pendidikan utama. Peran itu diam-diam digantikan oleh algoritma.

Teknologi bukan musuh. Ia netral. Namun ketika anak dibiarkan sendirian menjelajah dunia digital tanpa pendampingan, teknologi berubah menjadi ruang liar yang membentuk pikiran, emosi, bahkan moral mereka.

Baca Juga:

Krisis Moderen : Ketika Runtuhnya Pagar Koda

Kampanye perlindungan anak yang terus disuarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan UNICEF mengingatkan bahwa kekerasan terhadap anak kini banyak berawal dari interaksi digital—perundungan siber, eksploitasi seksual, hingga pemerasan berbasis konten pribadi.

Dan kita di daerah tidak kebal.

Kita mendengar kasus kekerasan seksual terhadap anak yang berawal dari perkenalan di media sosial. Ada remaja yang diminta mengirim foto pribadi, lalu diperas. Ada relasi daring yang berujung pada pertemuan tanpa pendampingan dan berakhir tragis. 

Baca Juga:

Konten Anomali Media Sosial dan Dampaknya bagi Pertumbuhan Anak dan Remaja Kita

Bahkan persoalan HIV/AIDS di wilayah kita tidak bisa dilepaskan dari perubahan pola pergaulan generasi muda yang dipengaruhi konten dan relasi digital tanpa nilai.

Ini bukan untuk menakut-nakuti. Ini peringatan bahwa tanpa pendampingan, anak berjalan sendirian di ruang yang tidak ramah.

Dalam perspektif budaya Lamaholot, persoalan ini adalah krisis KODA.

Kita mengenal ungkapan: “Moripet di toon koda, matanet di toon koda.” Hidup dan mati bergantung pada sabda.

KODA adalah kehormatan. Dalam adat, satu sabda bisa memicu perang atau mendamaikan konflik. Karena itu orang diajarkan menjaga tutur di depan tetua.

Baca Juga:

 

Nilai Koda Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Adonara

Kini ruang itu meluas ke ruang digital. 

Status, komentar, pesan pribadi—semuanya adalah KODA dalam bentuk baru. Namun anak-anak kita memasuki ruang itu tanpa pendidikan tentang sakralitas kata dan martabat tubuh.

Ketika seorang anak mengirim foto pribadi karena bujuk rayu digital, itu bukan sekadar keteledoran. Itu KODA yang dilepas tanpa kesadaran nilai. Ketika seorang remaja merundung temannya lewat komentar, itu bukan hanya kenakalan.

Itu pelanggaran terhadap kehormatan sabda. Masalah terbesar kita bukan pada HP, tetapi pada kosongnya pendampingan.

Baca Juga:

Dampak Besar Media Sosial Pada Tumbuh Kembang Anak-Anak

 Orang tua memang memegang peran utama. Namun dalam konteks masyarakat kita, pendidikan nilai tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu ditopang oleh tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Di sinilah peran mereka menjadi sangat strategis.

Tokoh agama perlu berbicara tentang literasi digital dari mimbar. Bukan hanya soal dosa moral klasik, tetapi tentang etika digital: menjaga tubuh sebagai anugerah, menjaga kata sebagai tanggung jawab iman, dan menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan. 

Khotbah dan katekese perlu menyentuh realitas digital anak-anak hari ini, bukan hanya persoalan masa lalu.

Tokoh adat dan tokoh masyarakat pun memiliki otoritas moral. Jika dahulu mereka menjaga KODA dalam forum adat, hari ini mereka juga perlu menyuarakan pentingnya menjaga KODA di media sosial. 

Baca Juga:

Koda Sebagai Identitas Budaya dan Simbol Kehormatan

Pertemuan kampung, forum pemuda, bahkan acara adat bisa menjadi ruang edukasi tentang bahaya predator digital, perundungan siber, dan penyalahgunaan konten pribadi.

Literasi digital bukan hanya urusan sekolah dan pemerintah. Ia harus menjadi gerakan kolektif.

Sekolah mendidik pengetahuan. Keluarga menanamkan kasih.Tokoh agama meneguhkan moral. Tokoh adat menjaga martabat.

Jika semua berjalan sendiri-sendiri, anak tetap rentan. Tetapi jika bergerak bersama, kita menciptakan pagar sosial yang kuat.

Kita tidak mungkin menghentikan arus teknologi. Tetapi kita bisa memperkuat fondasi nilai. Jika KODA dijaga di rumah, diteguhkan di gereja atau masjid, dan dikuatkan dalam forum adat, maka anak-anak tidak akan mudah kehilangan arah di ruang digital.

Baca Juga:

Dampak Buruk Brain Rot pada Kesehatan Mental Anak dan Remaja

Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana menghentikan anak dari HP?” melainkan “Sudahkah kita, sebagai orang tua dan sebagai komunitas, menjaga KODA yang diwariskan kepada mereka?”

Karena ketika KODA dijaga, martabat terjaga. Dan ketika martabat terjaga, masa depan anak pun terlindungi.

Foto ilustrasi dihasilkan oleh ChatGPT

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of