Eposdigi.com – Dalam masyarakat Adonara, KODA tidak hanya dipahami sebagai “sabda” yang sakral, tetapi juga sebagai ukuran etika dalam relasi sosial.
KODA sebagai Etika Relasi Sosial
Kehidupan bersama dalam marga, atau kampung dijaga dengan mengedepankan kata yang benar, jujur, dan dapat dipercaya. KODA menjadi ukuran kepercayaan (trust), di mana seseorang akan dihargai atau diremehkan tergantung sejauh mana ia memegang teguh perkataannya.
Baca Juga:
Ketika Anak Muda Tak Lagi Menyanyikan Lagu Daerah Lamaholot: Sebuah Catatan Etnomusikologis
Dalam konteks ini, KODA berfungsi mirip dengan konsep virtue ethics dalam filsafat moral—menjadi pedoman pembentukan karakter yang baik, sehingga relasi sosial terbangun di atas fondasi kejujuran, tanggung jawab, dan rasa hormat.
KODA sebagai Instrumen Penyelesaian Konflik
Masyarakat Adonara mengenal berbagai mekanisme rekonsiliasi berbasis sabda. Dalam konflik antar marga, antar kampung, maupun dalam lingkup rumah tangga, penyelesaian selalu ditandai dengan sabda rekonsiliatif yang diucapkan oleh tetua adat.
Kata-kata adat ini memiliki kekuatan untuk menutup luka, memulihkan hubungan, dan membuka kembali ruang persaudaraan.
Baca Juga:
Dalam antropologi konflik, fungsi KODA ini bisa disejajarkan dengan gagasan René Girard tentang violence and the sacred, dimana kekerasan hanya bisa ditransendensi melalui mekanisme simbolik dan ritual, salah satunya lewat kata-kata sakral.
KODA dan Nilai Gotong Royong (Gemohing)
Hidup sosial masyarakat Adonara ditopang oleh prinsip Gemohing (gotong royong). Pekerjaan berat seperti membuka lahan, membangun rumah, atau mengadakan pesta adat, tidak dapat dilakukan seorang diri, tetapi membutuhkan kebersamaan.
Dalam kegiatan ini, KODA menjadi semacam social glue—pengikat moral yang memastikan semua orang bekerja dengan niat baik dan saling mendukung.
Baca Juga:
Kolaborasi Musisi yang Mencerminkan Nilai Identitas Budaya Lewat Lagu “Tabola Bale”
Pepatah adat menyebut: onet tou kirin ehan (satu Hati, satu kata), menegaskan bahwa kerja bersama harus berjalan seiring dengan kesepakatan kata. Tanpa kesatuan sabda, gotong royong bisa berubah menjadi pertikaian.
KODA dan Martabat Perempuan
Dalam kehidupan sosial, peran perempuan sangat dihormati melalui simbol belis gading. Gading gajah sebagai mas kawin bukan semata alat tukar, tetapi sebagai tanda penghargaan martabat perempuan.
Di sini, KODA hadir sebagai etika yang menjaga agar penghormatan terhadap perempuan tidak merosot menjadi komodifikasi ekonomi.
Baca Juga:
Dalam kajian etika feminis, praktik ini mencerminkan upaya menjaga relasi yang adil antara laki-laki dan perempuan, meski dalam perkembangan modern menghadapi tantangan serius.
Relevansi KODA bagi Kehidupan Sosial Modern
Nilai-nilai KODA tetap relevan bagi kehidupan sosial modern:
Sebagai etika komunikasi digital – mendorong masyarakat untuk berhati-hati dalam berucap di media sosial. Sebagai etika politik lokal – menekankan pentingnya janji politik yang ditepati.
Baca Juga:
Sebagai etika ekonomi komunitas – membangun kepercayaan dalam praktik ekonomi berbasis keadilan. Dengan demikian, KODA tetap menjadi kompas moral sosial, baik dalam kehidupan tradisional maupun modern.
Foto dan tulisan dari laman FB penulis
Leave a Reply