Surat dari Adonara

Bisnis Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Transformasi Gemohing menjadi BUM Desa Moderen.

Eposdigi.com – Di desa Oringbele, Kecamatan Witihama, ada sebuah kelompok Gemohing, yang sangat produktif 9 tahun belakangan ini. Sejak tahun 2010 dengan bantuan dana dari pemda Flotim semasa kepemimpinan Bupati Simon Hayon, kelompok yang terdiri dari ibu-ibu ini, masih tetap bertahan.

Terlepas dari bagaimana awalnya Gemohing ini berdiri, patut diapresiasi bahwa para Ina-Ina ini bisa menjalankan sebuah unit usaha yang bertahan dan tumbuh dalam kurun waktu belasan tahun.

Kelompok yang awalnya berdiri dan didampingi oleh Yayasan PEKKA, – Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga – bukan satu-satunya yang ada di desa Oringbele, atau di Kecamatan Witihama. Saat itu kelompok sejenis ini banyak bermunculan dengan berbagai jenis usaha yang konon katanya produktif.

Ada kelompok ibu-ibu penenun, kelompok usaha titi jagung, kelompok pemelihara babi, dan beberapa kelompok dengan jenis usaha yang berbeda.  Sebagaimana jamak terjadi, proyek atas nama pemberdayaan masyarakat biasanya hanya dalam bentuk pengucuran dana. Ketika anggaran sudah ada, kelompok dadakan banyak bermunculan. Dan ketika dana sudah diluncurkan biasanya kelompok-kelompok ini juga hilang  mendadak ‘ditelan kegelapan’.

Konon, beberapa kelompok yang awalnya produktif kemudian terbujuk rayuan bunga 10 % perbulan dari Mitra Tiara, kemudian bangkrut bersama kolapsnya Mitra Tiara. Banyak diantaranya yang tidak diketahui rimbanya sejak anggaran cair.

Dengan dana bantuan 10 juta, Gemohing para ibu di desa Oringbele ini, memilih untuk memproduksi minyak goreng kelapa. Bermodalkan sebuah mesin parut, kelompok ini memulai usaha. Masing-masing angota mengumpulkan bahan baku buah kelapa pada setiap hari Kamis, kemudian dikupas, diparut dan diperas. Setelah didiamkan semalam, santan siap dimasak pada keesokan harinya. Setiap hari Jumat, secara bergantian ibu-ibu ini memasak santan untuk dijadikan minyak.

Hasil minyak kelapa terutama  untuk memenuhi kebutuhan  anggotanya sendiri, kelompok ini juga menjualnya ke masyarakat luas. Selain usaha produksi minyak goreng kelapa, sisa dana bantuan tersebut disalurkan kepada anggota dalam bentuk pinjaman lunak. Alhasil, saat ini ada penambahan asset produktif yang sangat membanggakan mengingat kelompok ini banyak terdiri dari ibu-ibu yang boleh dibilang sepuh. Hari ini mereka memiliki beberap drum penampung air, belasan tikar yang disewakan bagi siapa saja yang membutuhkan.

Yang paling penting untuk dijawab oleh Dana Desa adalah bagaimana Gemohing sejenis ini dapat mengakses dan diberi ruang untuk meningkatkan usahanya?

Gemohing sejenis ini menjadi BUM Desa. Pemerintah desa menyertakan 51% saham pada usaha ini dan menjadikannya BUM Desa. Sinergi seperti ini, tentu membantu permodalan usaha gemohing. Dengan tambahan modal tersebut, gemohing bisa menambah alat-alat produksi, meningkatkan kapasitas produksinya. BUMDes menjadi trader atas hasil produksi minyak kelapa gemohing ini. Tentu ini menjamin kepastian usaha gemohing seperti ini. Ada manajemen dan pengelolaan keuangan yang professional oleh BUMDes. Ada kepastian pemasaran. BUMDes membeli hasil produksi gemohing dan memasarkannya kembali.

Ditangan BUMDes, kelompok-kelompok lain dengan jenis usaha yang sama bisa digabungkan dalam satu unit usaha BUMDes. Dengan tetap mempertahankan unit-unit produksi pada gemohing-gemohing. Sinergi model ini juga untuk menjaga agar filosofi pohe pore – tulun tali tetap menjadi bagian dalam interaksi social ekonomi masyarakat.

Gabungan unit-unit usaha seperti ini oleh BUMDes akan meningkatkan skala ekonomi. Pendampingan secara professional oleh BUMDes pada gemohing, berdampak langsung peningkatan kualitas produk. Kapasitas produksi dalam skala ekonomi tertentu dapat ditingkatkan. Pendampingan oleh BUMDes untuk memastikan prosedur, proses, pengemasan dan pemasaran dapat dilakukan secara lebih professional.

Dengan kualitas dan pemasaran yang tepat, dalam kontek Lamaholot, minyak kelapa hasil produksi Ina-Ina Gemohing ini bisa menggeser minyak sawit hasil impor dari luar Lamaholot. Sebab jika produk tidak ditingkatkan kualitasnya, dan dipasarkan ala kadarnya, maka bisa saja kita menjual minyak kelapa untuk membeli minyak sawit kemasan modern sebagai pilihan konsumsi kita.

Meningkatkan kapasitas produksi minyak kelapa oleh BUM Des, juga menjadi cara yang ideal untuk mengejar skala ekonomi produksi “side produk” dari minyak kelapa. Ada air kelapa, ampas kelapa, sabut, tempurung yang bisa diolah dan menjadi produk dengan nilai jual lebih baik. Apalahi jika ditingkatkan ke produk turunan minyak kelapa sepeti sabun.

Pemasaran produk oleh BUMDes adalah cara untuk memperluas jangkauan pemasaran atas produk. Tentu pertama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di desa, namun dalam jangkauan yang lebih luas, dibandingkan jangkauan Gemohing.

Scenario ini tentu bukan satu-satunya yang terbaik. Untuk menentukan mana yang paling tepat diterapkan, harus didahului studi kelayakan yang memadai. Untuk melihat konteks secara lebih mendetail. Namun tentu saja harus dalam rangka memperkuat gemohing sebagai warisan budaya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Lamaholot. (Foto : suaralidik.com)

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
3 Discussion threads
0 Thread replies
1 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Surat dari Adonara […]

trackback

[…] Baca Juga: Surat dari Adonara […]

trackback

[…] Ayo Baca Juga: Surat dari Adonara […]