Eposdigi.com – Di banyak wilayah penutur Lamaholot, lagu daerah yang dahulu akrab di telinga kini semakin jarang terdengar. Lagu-lagu ini umumnya diciptakan oleh pencipta yang tidak diketahui namanya (Nn) dan lahir secara kolektif dari budaya musik masyarakat Lamaholot itu sendiri.
Dahulu, nyanyian-nyanyian ini hadir dalam ritus adat, permainan anak-anak, kerja bersama, hingga perayaan keluarga. Kini, keberadaannya kian terpinggirkan dari kehidupan generasi muda.
Dalam perspektif etnomusikologi, musik tidak pernah berdiri sendiri sebagai bunyi semata. Musik selalu hidup bersama manusia, budaya, dan konteks sosialnya. Alan P. Merriam, salah satu tokoh etnomusikologi, menegaskan bahwa musik harus dipahami sebagai music in culture—musik di dalam kebudayaan.
Baca Juga:
Kolaborasi Musisi yang Mencerminkan Nilai Identitas Budaya Lewat Lagu “Tabola Bale”
Artinya, ketika sebuah tradisi musik berhenti dipraktikkan, yang hilang bukan hanya lagunya, tetapi juga jaringan makna sosial yang menyertainya.
Pergeseran yang terjadi pada lagu-lagu Lamaholot bukan karena ia kehilangan nilai estetikanya, melainkan karena perubahan cara hidup masyarakatnya.
Masuknya musik populer global melalui media digital membuat anak muda lebih akrab dengan lagu-lagu modern dibandingkan nyanyian tradisi leluhur. Lagu Lamaholot sering dicap sebagai “lagu orang tua”, kuno, atau tidak cocok dengan selera masa kini.
Dalam kajian etnomusikologi, kondisi ini dikenal sebagai disrupsi transmisi budaya. Dahulu, pewarisan musik berlangsung secara alami—anak belajar dengan mendengar, meniru, dan terlibat langsung dalam praktik sosial.
Baca Juga:
Kini, ketika ruang-ruang sosial tempat lagu Lamaholot hidup semakin menyempit, proses pewarisan itu pun terputus. Akibatnya, lagu-lagu tersebut berhenti berfungsi sebagai media pendidikan, solidaritas, dan identitas.
Padahal, jika dilihat lebih dalam, lagu-lagu Lamaholot menyimpan pengetahuan budaya yang sangat kaya. Lirik-liriknya merekam cara pandang masyarakat terhadap alam, relasi sosial, kerja kolektif, pendidikan anak, hingga nilai moral dan spiritual.
Dalam konteks ini, lagu daerah berfungsi sebagai arsip hidup—sebuah bentuk ingatan kolektif yang diwariskan melalui suara dan praktik sosial.
Baca Juga:
Tidak Hanya Mengurangi Stres, Musik Terbukti Meningkatkan Kecerdasan
Beberapa lagu daerah Lamaholot yang kini semakin jarang dinyanyikan antara lain:
- Nyanyian Sole Oha – improvisasi syair dan nada yang dilantunkan secara spontan sesuai suasana dalam lingkaran masyarakat
- Seni Tawa Gere (Cipt. Nn)
- Angin Dai (Cipt. Nn)
- Go Niku Lau (Cipt. Nn)
- Tabe Aku Ina (Cipt. Nn)
- Lewo Titen (Cipt. Nn)
- Tobo Katan Peten Susah (Cipt. Nn)
- Doan Kae (Cipt. Nn)
- Wolo Lolon (Cipt. Nn)
- Sayang Go Binek (Cipt. Nn)
- Sason Rae (Cipt. Nn)
Dan masih banyak lagi lagu lain yang kini hanya hidup dalam ingatan para tetua adat.
Dalam kacamata etnomusikologi kontemporer, pelestarian musik tradisional tidak cukup hanya dengan merekam atau mendokumentasikannya.
Baca Juga:
Kapas di Flores Timur: Berdamai Dengan Kapitalisme Demi Kearifan Lokal?
Dokumentasi memang penting, tetapi tanpa praktik sosial, musik akan berubah menjadi artefak mati. Musik harus dimainkan, dinyanyikan, dan diberi ruang untuk beradaptasi dengan zaman.
Di sinilah peran generasi muda menjadi krusial. Lagu Lamaholot tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang “asli” dan kaku.
Aransemen baru, kolaborasi dengan musik modern, pertunjukan lintas genre, hingga kehadiran di platform digital justru bisa menjadi strategi keberlanjutan. Dalam etnomusikologi, pendekatan ini dipahami sebagai continuity through change—keberlanjutan melalui perubahan.
Baca Juga:
Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot
Ketika anak muda tak lagi menyanyikan lagu-lagu Lamaholot, sesungguhnya yang hilang bukan hanya sebuah tradisi musik, melainkan jati diri budaya. Tantangan kita hari ini bukan memilih antara tradisi atau modernitas, melainkan menjembatani keduanya.
Agar lagu Lamaholot tidak hanya tersimpan di arsip atau ingatan masa lalu, tetapi kembali hidup, relevan, dan dinyanyikan oleh generasi penerusnya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Penulis adalah Mahasiswa Seni Musik ISI Yogyakarta
Leave a Reply