Di Banksasuci: Pohon Sukun Itu Rukun

Lingkungan Hidup
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Paras elok rupa Banksasuci rupanya tak pernah habis untuk diceritakan. Kunjungan pertama saya ke komunitas ini, pada akhir November lalu, menyisakan banyak kisah yang layak untuk dibagikan—kisah tentang sungai, tentang manusia, dan tentang sebatang pohon bernama sukun.

Kunjungan kami ke Banksasuci saat itu memang bertujuan menyalurkan dukungan melalui Dana CSR PT Kati Kartika Murni – Karawaci.

Tak banyak yang tahu, bahwa di RT 03 RW 01, Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, terdapat sebuah komunitas yang dengan setia merawat Sungai Cisadane. Komunitas itu bernama Banksasuci—singkatan dari Bank Sampah Sungai Cisadane.

Baca Juga:

1001 Manfaat Ekologis Tanaman Bambu

Banksasuci bukan sekadar komunitas pengelola sampah. Ia bukan pula hanya sekumpulan orang yang sesekali membersihkan sungai.

Lebih dari itu, Banksasuci adalah komunitas pencinta lingkungan yang menjadikan Sungai Cisadane sebagai denyut kehidupan mereka—dari hulu hingga ke hilir.

Perjalanan kami dimulai dari kawasan PT Kati Kartika Murni – Karawaci. Hanya sekitar lima menit berkendara, mobil kami memasuki sebuah kampung yang awalnya terasa asing bagi saya.

Semakin mendekati lokasi, pemandangan di kiri dan kanan jalan dipenuhi lapak-lapak pengumpul sampah. Tumpukan plastik mendominasi sudut pandang, seolah mengingatkan betapa rapuhnya lingkungan jika tak dirawat dengan kesadaran bersama.

Baca Juga:

Perempuan, Bambu dan Konservasi Lahan Kritis

Tak jauh dari sana, berdiri sebuah bangunan pengolahan sampah. Saat itu sore hari, aktivitas telah usai. Beberapa menit kemudian, kami tiba di lokasi Banksasuci.

Begitu turun dari mobil, langkah pertama saya adalah berjalan ke arah Sungai Cisadane. Sebuah turap atau tanggul pembatas setinggi kurang lebih satu meter berdiri kokoh di hadapan saya.

Saat menengok ke bawah, saya menyadari bahwa area di seberang turap lebih rendah dari tempat saya berpijak. Namun, kejutan sesungguhnya bukan itu.

Sekitar tiga meter dari bibir sungai, terbentang sebuah area yang bersih dan tertata. Area itu tampak seperti ruang hidup—tempat orang bisa bercocok tanam, berkumpul, atau sekadar duduk menikmati aliran sungai.

Baca Juga:

Menanam Hujan, Menuai Air

Lebih jauh lagi, Sungai Cisadane di hadapan saya tampak jernih dan nyaris tanpa sampah. Sungai selebar sekitar lima puluh meter itu benar-benar terjaga. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui, terutama di kawasan padat penduduk.

Setelah menyapa Pak Sade Sudana, penggagas sekaligus penggerak komunitas Banksasuci, kami diajak beristirahat di sebuah bangunan sederhana di samping PAUD Banksasuci.

Bangunan tanpa dinding, dengan meja panjang dan banyak kursi di sekelilingnya—pertanda bahwa tempat ini kerap menjadi ruang perjumpaan banyak orang.

Saya memilih duduk menghadap ke arah sungai. Pandangan saya menyapu sekitar: bangunan PAUD di sisi kanan, beberapa mainan anak-anak di dekatnya, hingga sekumpulan bibit tanaman di sisi kiri bangunan tempat kami duduk.

Baca Juga:

Susur Sungai dan Penanaman Pohon Jadi Media Memperkuat Jalinan Silaturahmi dan Kepedulian Terhadap Sesama

Beberapa jenis tanaman mudah dikenali, namun perhatian saya tertuju pada bibit-bibit pohon yang jumlahnya paling banyak—anakan pohon sukun.

Sebuah pertanyaan sederhana pun meluncur, “Pak, itu anakan sukun ya?”

Pertanyaan itu langsung disambut dengan senyum dan nada suara penuh semangat dari Pak Sade.

“Sukun itu bukan tanaman biasa,” katanya.

Ia lalu bercerita, bahwa konon Bung Karno merumuskan Pancasila saat duduk di bawah pohon sukun di Flores. Namun bagi Pak Sade, makna sukun tidak berhenti di sana.

Baca Juga:

Pendidikan Kontekstual dan Gerakan Konservasi Lingkungan: Mencari Penggerak Perubahan Kolektif untuk Konservasi Lingkungan

Sukun, jelasnya, memiliki nilai ekologis yang besar. Akar pohon sukun kuat dan menyebar luas, sangat efektif menahan erosi tanah—terutama di bantaran sungai seperti Cisadane.

Tajuknya yang rindang membantu menjaga kelembapan tanah, menurunkan suhu sekitar, serta menjadi habitat alami bagi berbagai makhluk hidup. Daunnya yang lebar juga berperan dalam menyerap karbon dan memperbaiki kualitas udara.

Dari sisi pangan, sukun adalah sumber karbohidrat lokal yang kaya gizi. Buahnya dapat diolah menjadi berbagai makanan, menjadi alternatif pangan yang sehat dan berkelanjutan. Dalam konteks ketahanan pangan, sukun adalah jawaban sederhana yang tumbuh dari tanah sendiri.

Baca Juga:

Vero Lamahoda: Konservasi Mata Air Kita Belum Berkeadilan

“Dan lebih dari itu,” kata Pak Sade sambil tersenyum, “Sukun itu rukun.”

Kalimat itu membuat saya tertegun. “Sukun itu rukun.”

Tiba-tiba, sukun bukan lagi sekadar nama sebuah pohon. Kata rukun menjelma menjadi makna yang hidup—tentang kebersamaan, tentang harmoni antara manusia dan alam.

Barangkali, bagi Pak Sade dan para pegiat Banksasuci, pohon sukun adalah simbol. Ia menjadi pengikat hubungan antarwarga, sekaligus jembatan batin antara manusia dan Sungai Cisadane.

“Sukun itu Rukun” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan dan harapan.

Baca Juga:

Komitmen Pada Pendidikan, PT Kati Kartika Murni Dampingi PAUD Banksasuci Lewat Dana CSR

Banksasuci menjawab panggilan itu melalui berbagai aktivitas nyata: merawat sungai, mengedukasi anak-anak, menanam pohon, dan menjaga kehidupan di sekitarnya. Mereka percaya, ketika alam dijaga dengan sepenuh hati, ia akan membalasnya dengan kebaikan berlipat ganda.

Dan dengan menjaga denyut aliran Cisadane, komunitas Banksasuci sedang menumbuhkan asa—bahwa sungai yang dirawat hari ini, akan menjaga dan menghidupi setiap kehidupan di sepanjang alirannya esok hari. Saya mengamininya.

Foto : Team CSR PT Kati Kartika Murni – Karawaci, PAUD Banksasuci menanam anakan Pohon Sukun di tepi Sungai Cisadane

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of