Eposdigi.com – Pada tanggal 29 Oktober 2025 Yudi Latif meluncurkan buku terbarunya yang berjudul; “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?”, bersamaan dengan perayaan HUT ke 15 Kelompok Aliansi Kebangsaan. Ini adalah buku kelima yang lahir dari pemikiran Tokoh Kebangsaan dan cendekiawan kelahiran Sukabumi ini.
Dalam buku tersebut, Yudi Latif membahas kontribusi signifikan Indonesia terhadap dunia dalam berbagai aspek mulai dari aspek geologi, geografi, oseanografi, keanekaragaman hayati, teknologi maritim, arsitektur, seni tradisional dan nilai-nilai kemanusiaan. Sejak peluncuran buku tersebut sudah dibedah 3 kali dalam kegiatan diskusi buku.
Pertama kali dilakukan pada saat peluncuran buku tersebut yang salah satu acaranya adalah mendiskusikan buku tersebut. Diskusi buku kedua dilakukan di Universitas Jember Jawa Timur yang melibatkan tiga pembahas lintas disiplin yakni, Prof. Agus Trihartono, Drs. Andang Subaharianto, Prof. Dra. Hari Sulistiawati.
Baca Juga:
Resensi Buku; Belajar dari Best Practice Proyek P5 SMA Tarakanita Magelang
Sedangkan diskusi buku ketiga dilakukan di perpustakaan Bustanil Arifin dilakukan oleh Perguruan Islam Al-Izhar Pondok Labu Jakarta Selatan. Yang menarik dari diskusi buku ini adalah pembahas dan moderator dalam diskusi buku ini adalah 10 orang murid dari Perguruan Islam Al Izhar.
Mereka adalah: Kimmi Mikayla K. murid kelas X IPS 3, Mytha Amelia S. murid kelas XII MIPA 1, Fawwaz Nadhif murid kelas XI MIPA 4, Siti Sabia Arifin murid kelas XII MIPA 2, Reissa Vania A. murid kelas X MIPA 1, Radithya Najian A. murid kelas X MIPA 2, Sammy B.S. kelas XI IPS 1 dan Hasya Alvia R. murid kelas XI MIPA 1.
Sedangkan 2 orang murid yang ditunjuk jadi moderator. Mereka adalah Bilqis Ilaina Siregar, murid kelas XI MIPA 4 dan Pranaja Lucky A.P.F. murid kelas XI IPS 2. Kegiatan diskusi buku tersebut diselenggarakan pada 8 Desember 2025, dihadiri juga oleh Yudi Latif Ph.D. selaku penulis buku. Kegiatan dengan format yang sama juga dilakukan di SMP Islam Al-Izhar.
Baca Juga:
Pengajaran Apa yang Bisa Kita Ambil dari Buku Atomic Habits?
Terobosan pembelajaran
Menurut saya, praktik pembelajaran seperti ini merupakan salah satu model terobosan pembelajaran di mana sekolah menempatkan murid sebagai aktor utama proses belajar. Sebenarnya ini adalah salah satu prinsip penting pembelajaran yang bahkan dikehendaki oleh semua kurikulum yang pernah berlaku di Indonesia.
Pada Kurikulum Merdeka misalnya dikenal sebagai pembelajaran yang berpusat pada murid, yang menurut saya lebih sering diabaikan daripada dipraktikkan. Bukan hanya dalam urusan mempertimbangkan kesiapan dan kemampuan para murid menyerap materi pembelajaran, melainkan juga dalam hal melibatkan mereka sebagai pelaku aktif dalam proses belajar.
Menurut saya, dibandingkan dengan banyak sekolah lain, di SMA dan SMP Islam Al-Izhar Pondok Labu berlaku sebaliknya, seperti diakui oleh kepala SMA Islam Al-Izhar, Fauzan Hafidz. Menurutnya, sekolah Al-Izhar sering mengupayakan pembelajaran dengan format murid aktif, termasuk memutuskan melakukan diskusi buku karya Yudi Latif Ph.D ini.
Tentang diskusi buku Yudi Latif, menurutnya, selain memberi ruang pada murid untuk mengembangkan diri dalam hal meningkatkan kemampuan literasi murid, kegiatan ini juga melatih murid berpikir kritis, memperkaya perspektif dan sudut pandang, serta menghantar mereka memahami berbagai fenomena dalam masyarakat.
Baca Juga:
Ratusan Siswa SMP Tidak Dapat Membaca; Pendidikan Dasar Kita Sedang dalam Masalah Serius
Kata Alumni Universitas Negeri Jakarta ini, mereka memutuskan diskusi buku dengan pembahas dan moderator murid, selain karena percaya pada kemampuan para murid, juga karena setelah membaca buku karya Yudi Latif, meskipun bukunya adalah buku serius, namun bahasa buku tersebut mudah dipahami oleh murid sekolah menengah.
Setelah diputuskan diskusi buku dengan pembahas dan moderator murid, para murid yang bertugas mulai direkrut dari kelas-kelas melalui para wali kelas. Murid yang terpilih kemudian melakukan persiapan. Siti Sabia Arifin, dari kelas XII MIPA 2 memulai persiapannya dengan membaca bab yang akan ia bahas.
Selanjutnya ia merumuskan inti buku, mengutip kalimat-kalimat yang menarik dan mengembangkannya. Berdasarkan itu ia menulis draf menyertakan segala pikirannya yang muncul, dirumuskan dalam 5 poin inti. Draf ini kemudian dituangkan dalam ilustrasi visual agar lebih menarik ketika disajikan.
Dari SMP, satu dari 8 murid yang terpilih untuk menjadi pembahas adalah Raya Faeza Yusuf, seorang murid kelas IX. Ia memulai persiapannya dengan melakukan research secara umum mengenai komoditas, karena ia mendapat tugas untuk membahas bab VII tentang komoditas.
Baca Juga:
Persiapannya ia lanjutkan dengan membaca buku, “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?” Ia berusaha merumuskan point utama dan penting dari bab VII lalu menuangkannya ke dalam format canva. Untuk menghidupkan suasana pada saat diskusi, ia juga diskusi dengan teman-temannya untuk mengumpulkan jokes tentang komoditas.
Persiapan yang Raya lakukan tidak berhenti sampai di situ. Sebelum tampil ia masih mencoba menemui salah satu pembahas SMA yang tampil mendahului untuk berdiskusi tentang apa yang diperlukan. Selain itu ia masih berlatih menggunakan timer karena setiap pembahas hanya diberi waktu 10 menit untuk berbicara.
Ia melakukan beberapa kali percobaan menggunakan timer, berupaya melakukan perbaikan dan pemendekan naskahnya tanpa kehilangan esensi pembahasan. Namun hingga persiapan terakhir menjelang tampil, ia masih ‘mentok’ memerlukan waktu 20 menit untuk presentasinya.
Baca Juga :
Ini adalah gambaran proses belajar intensif yang hanya bisa terjadi jika sekolah mengupayakan model pembelajaran seperti ini. Hasil belajarnya bukan hanya seperti yang digambarkan oleh kepala SMA Islam Al-Izhar, meningkatkan literasi, melatih murid berpikir kritis, memperkaya perspektif dan sudut pandang berpikir murid.
Pengembangan lain yang dialami oleh para murid yang terlibat dalam diskusi buku ini baik sebagai pembahas maupun sebagai moderator adalah keterampilan seperti komunikasi. Mereka berusaha memahami isi buku dan menyampaikannya dalam kata-kata yang dapat diterima oleh audiens yang adalah teman sebaya mereka.
Ini adalah latihan penting yang tidak hanya berdampak pada kemampuan komunikasi tetapi juga berdampak mengembangkan kemampuan penting lain seperti kreativitas. Lebih dari itu sebagai murid, proses persiapan dilakukan di tengah tugas-tugas lain yang menuntut waktu tambahan yang harusnya dapat mereka gunakan misalnya untuk bersenang-senang.
Di sini mereka ditantang mengatur waktu untuk tugas sekolah pada umumnya maupun menyelesaikan persiapan tampil. Di sinilah mereka belajar tentang prioritas, mengendalikan diri, belajar mengatur waktu, dan belajar disiplin diri. Jika peluang belajar ini dimanfaatkan dengan baik, hasil lain yang sangat penting adalah tumbuhnya rasa percaya diri.
Baca Juga:
Sesungguhnya Pengembangan Minat Membaca Anak Tanggung Jawab Siapa?
Api kecil dari masa depan
Menyaksikan murid SMA Islam Al-Izhar tampil dalam diskusi buku tersebut Yudi Latif nyaris tak percaya. Mereka bukan hanya memahami gagasan inti buku tersebut tetapi menyuling dan mengembangkannya dengan informasi tambahan yang membuat argumen buku tersebut menjadi lebih hidup.
Pemandangan yang sama juga muncul dalam diskusi buku di SMP Islam Al-Izhar. Kata Yudi latif, bahkan siswa SMP pun memaparkan analisis dengan ketelitian dan ekspresi yang mencengangkan. Tampilan cemerlang ini ia sebut sebagai api kecil dari masa depan. Pengalaman ini membuka mata, betapa hebatnya generasi baru yang sering kita remehkan.
“Kita terlalu mudah menempelkan stigma bahwa milenial dan Gen Z lemah literasi, dangkal nalar, rapuh konsentrasi. Padahal stigma seperti itu adalah nacebo sosial: nubuat yang akan tergenapi dan membangun tembok yang melemahkan potensi mereka,” kata Yudi Latif melalui akun Facebooknya.
Baca Juga:
Menunggu Formulasi Gerakan Literasi Baru Menurut Mendikdasmen Abdul Mu’ti
Itulah yang terjadi di banyak sekolah. Peluang belajar seperti ini hilang karena kepala sekolah dan guru-gurunya tidak memiliki kreativitas untuk menciptakan terobosan pembelajaran. Seharusnya semua sekolah mengimplementasikan model terobosan pembelajaran seperti ini untuk mengupayakan proses dan hasil belajar maksimal.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto dari tangkapan layar IG Aliazharpondoklabu
Leave a Reply