Kapas di Flores Timur: Berdamai Dengan Kapitalisme Demi Kearifan Lokal?

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Beberapa tahun lalu, ada wacana untuk mendorong kemandirian para pelaku tenun ikat di Flores Timur, mencoba mencari alternatif, meningkatkan pendapatan dari hasil jual tenun ikat dengan menekan harga benang.

Salah satu alternatifnya adalah mencari peluang untuk memproduksi sendiri benang dari serat alami. Lalu pilihan yang paling mungkin bahwa bahan baku serat alami tersebut adalah kapas.

Untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku kapas bagi industri benang ini maka, harus ada kebun kapas dalam skala yang cukup luas untuk mencapai skala ekonomis demi keberlangsungan dan keberlanjutan pabrik benang tersebut.

Kebun kapas yang cukup luas hingga mencapai skala ekonomis ini, tentu bukan perkara mudah. Apalagi jika unit usaha ini hanya memproduksi benang untuk kebutuhan tenun ikat, maka bisa saja visibilitas ekonominya tidak ideal.

Baca Juga:

Kapas di Flores Timur: Antara Kearifan Lokal dan Tuntutan Kapitalisme

Untuk mencapai visibilitas ekonomis yaitu biaya produksi harus bisa ditutupi oleh penjualan hasil produksi dalam marjin yang cukup maka produk dari unit usaha ini harus mencapai tingkat keekonomian tertentu. Demikian pula dengan pangsa pasarnya.

Persoalan utamanya adalah bagaimana mendapatkan skala ekonomis dari kebun kapas tersebut? Berapa luas lahan? Berapa pula hasil panen paling ideal dari lahan seluas itu? Berapa harga ekonomisnya? Apakah harga tersebut cukup menarik banyak petani untuk menanam kapas?

Wacana yang sangat mentah tersebut ternyata melahirkan begitu banyak tantangan. Pertanyaan besarnya kemudian adalah, jika tantangan-tantangan tersebut tidak mudah terpecahkan, apakah masih ada petani yang mau menanam kapas?

Pertanyaan ini memiliki dasar asumsi yang jelas bahwa pertanian saat ini, termasuk di Flores Timur lebih terarah pada kebutuhan kapital. Komoditi yang harga jualnya tinggi dengan okupansi lahan yang sekecil mungkin akan menjadi primadona untuk ditanam.

Baca Juga:

Kelor Antar Desa di Madura Jadi Desa Devisa, Desa di Flotim, Kapan?

Maka petani-petani kita lebih memilih jambu mete, vanili, kakao atau kopi, bahkan kelapa pun sudah ditinggalkan demi mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Bisa saja di masa depan kebutuhan ekonomi menggeser sedemikian jauh keinginan kita untuk menanam kapas; bahkan jika itu sangat dibutuhkan saat ritual-ritual adat.

Kapas bukan hanya kebutuhan kearifan lokal masyarakat Flores Timur. Data tingkat nasional menyebutkan bahwa kebutuhan akan kapas nasional masih harus dipenuhi melalui impor dari luar negeri.

Tidak tanggung-tanggung, di tahun 2024 lalu, Indonesia kehilangan devisa sebesar Rp13,38 triliun demi membeli 405 ribu ton kapas dari luar negeri. Bahkan tahun 2022 ketika harga kapas global meningkat, kita harus merogoh kocek hingga Rp21.98 triliun demi mencukupi kebutuhan kapas kita (cnbcindonesia.com/16.04.2025).

Baca Juga:

Emas Hijau Milik Indonesia ini Lebih Berpotensi Cuan Dibandingkan Nikel

Bukan berarti Indonesia sama sekali tidak menghasilkan kapas. Produksi kapas nasional kita di tahun 2020 sebesar 127 ton dari total lahan 703 hektar. Hasil 180 kg kapas per hektar jelas jauh dari ideal 1,5 hingga 2.8 ton per hektar.

Sejak dari zaman Kompeni, kapas sudah banyak ditanam untuk kebutuhan industri. Banyak daerah di Indonesia memiliki lahan yang cocok untuk tanaman kapas. NTT, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, NTB juga Bali seharusnya cocok untuk budidaya kapas.

Menurunnya produksi kapas ditingkat petani, – sebut cnbcindonesia.com – karena persoalan klasik. Alih fungsi lahan, faktor cuaca dan terutama minimnya harga jual menjadi menjadi biang kerok penurunan produksi kapas tersebut.

Kapas jelas kalah dari komoditi lain yang lebih menguntungkan secara ekonomis. Jagung dan atau Kedelai bisa mendatangkan keuntungan dalam jangka pendek bagi petani, alih-alih menanam kapas.

Baca Juga:

Suprastruktur Untuk Merubah Lahan Pertanian Kering di NTT

Padahal Indonesia memiliki banyak varietas unggul. Kanesia 8 dan Kanesia 9 merupakan dua varietas yang tahan terhadap kondisi tropis, genjah atau berumur pendek namun potensi panennya tinggi.

Selain kemitraan secara langsung antara petani dengan dengan industri-industri tekstil  yang sangat minim, persoalan lainnya adalah banyak petani kita tidak menyertakan kapas dalam list tanaman bernilai ekonomis tinggi mereka.

Bisa saja petani kita di Flores Timur-pun memiliki pandangan demikian. Dibandingkan dengan jambu mete, vanili, kakao, kopi bahkan kelapa, jelas kapas kalah pamor. Pun masih belum sebanding dengan jagung, kacang hijau dan kacang tanah sekalipun.

Demi kearifan lokal, kapas bagi Flores Timur tidak boleh dipandang dari sisi keuntungan ekonomis semata : kebutuhan kapitalisme. Budidaya kapas di Flores Timur jelas adalah pilihan yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Baca Juga:

Mengembalikan Setiap Sen Penjualan Tenun Ikat Kepada Penenun

Namun juga kita tidak boleh naif, melihat kapas seolah hanya untuk ritual adat. Nilai ekonomis kapas masih bisa kita tingkatkan melalui jalan tenun ikat tradisional. Skalanya jelas bisa lebih kecil.

Kapas bisa saja ditanam untuk kebutuhan ‘atraksi’ tenun ikat tradisional. Kata tradisional dipakai untuk menjelaskan: proses produksi kain tenun menggunakan cara-cara tradisional, mulai dari memintal kapas, pewarnaan, hingga proses penenunan dengan bahan-bahan alami, tanpa intervensi produk pabrik.

Jelas atraksinya bisa saja bernilai lebih tinggi dari harga kain tenun yang dihasilkan. Namun demikian kebutuhan akan atraksi ini mengharuskan petani kita menanam kapas. Yang tentu saja tersedia di setiap desa saat dibutuhkan dalam ritual-ritual adat.

Baca Juga:

Mewujudkan Pasar Premium Tenun Ikat NTT

Berdamai dengan kapitalisme jelas pilihan yang bijak untuk tetap mempertahankan kapas. Bukan berarti tunduk pada kehendak pasar, kapas bisa menemukan jalan lain dalam atraksi tenun ikat tadi.

Apalagi kita tentu sepakat bahwa tenun ikat, ritual adat, yang membutuhkan kapas jelas menjadi salah satu identitas orang Lamaholot – Flores Timur. Kita tentu tidak ingin kehilangan identitas ini, bukan? 

Foto dari kompas.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of