Mewujudkan Pasar Premium Tenun Ikat NTT

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Tenun Ikat NTT terkenal dengan keanekaragamannya.  Setiap kabupaten, dari  22 kabupaten/ kota di NTT memiliki keragaman motif, corak dan warna tenun ikat yang khas. Bahkan di satu kabupatenpun sering dijumpai banyak keragaman tenun ikat.

Bagi orang NTT, tenun ikat memiliki nilai-nilai religius yang tidak terpisahkan dari sosial budaya masyarakatnya. Motif, corak dan warna tenun ikat menunjukan makna tersendiri bagi masyarakat yang memakainya.

Di pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT misalnya, tenun ikat sangat dekat dengan sakralitas perempuan. Proses mulai dari memanen kapas, menggiling, memisahkan biji kapas, memintal kapas menjadi benang, pewarnaan, hingga menenun masih dianggap menjadi bagian yang sacral.

Sakralitas ini dapat dikonfirmasi alam upacara “Rekan Wuun” yang ditutup dengan “baha kapek kenodot” adalah upacara sakral yang diikuti perempuan Adonara dalam satu garis keturunan ibu. Upacara ini menempatkan tenun ikat sebagai pemersatu di antara mereka.

Sebagai salah satu bagian dari ekspresi budaya, tenun ikat harus dilestarikan. Agar tenun ikat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat NTT.

Baca Juga: Siapa Yang Diuntungkan dari Gerakan ASN Wajib Pakai Tenun Ikat?

Untuk itu inisiatif pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten-kabupaten mengenai hari khusus memakai tenun ikat wajib diapresiasi. Cara ini tentu akan semakin  mengenalkan berbagai motif tenun ikat kepada khalayak ramai.

Konsekuensi dari semakin terkenalnya tenun ikat NTT baik kepada khalayak di Indonesai maupun dunia adalah semakin diminatinya tenun ikat NTT. Peminat yang meningkat berarti permintaan tenun ikat juga akan meningkat.

Permintaan pasar yang meningkat terhadap tenun ikat adalah kesempatan bagi pemerintah untuk menjual tenun ikat NTT dengan harga lebih memadai. Dengan strategi marketing yang tepat, tenun ikat NTT bisa diterima oleh pasar premium.

Pertama; Meningkatkan standar kualitas dan mutu kain tenun ikat. Agar bisa diterima oleh pasar premium, maka kain tenun ikat NTT harus memiliki kualitas yang juga premium.

Ketika standar mutu dan kualitas sudah diterima oleh pasar maka permintaan akan lebih mudah datang dengan sendirinya. Pasar kelas premium biasanya sangat sensitif terhadap kualitas barang. Sensifitas pasar ini harus tetap terjaga dengan meningkatkan standar mutu dan kualitas tenun ikat NTT.

Baca Juga: Membaca “ Turis Miskin Dilarang ke NTT”

Kedua; Desain kain tenun ikat NTT yang fungsional dan bisa dipakai setiap hari. Hari ini banyak orang sudah mengenal kain tenun ikat NTT yang diolah menjadi berbagai produk fashion yang kreatif. Mulai dari pakaian, syal, tas, dompet hingga sepatu yang dibuat menggunakan tenun ikat NTT.

Namun desain-desain ini harus tetap diperbaharui sebagai bagian dari produk kreatif yang dapat diterima pasar. Benar bahwa kebutuhan pasar dapat dibentuk. Maka antara kualitas bahan, produk fashion yang fungsional, serta desain yang menarik harus dapat teritegrasi.

Ketiga; menciptakan pasar premium. Sekali lagi bahwa pasar dapat dibentuk. Kebutuhan dapat direkayasa.  Berbagai strategi pemasaran dapat digunakan.  Berbagai pameran tenun ikat NTT tingkat internasional yang sudah dilakukan perlu tetap dipertahankan.

Salah satunya adalah mengintegrasikan tenun ikat NTT dengan wisata premium yang saat ini sedang didorong oleh Pemerintah Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Bahwa tenun ikat adalah bagian dari ekspresi budaya masyarakat NTT. Ekspresi budaya ini tentu juga menjadi bagian dari kekhasan daerah yang menarik bagi wisatawan.

Maka menjual tenun ikat NTT secara premium tentu tidak dapat dipisahkan dari menjual pariwisata NTT sebagai pariwisata premium.

Baca Juga: Gubernur NTT: Festival Pariwisata Harus Berdampak Terhadap Ekonomi Masyarakat

Namun tujuan dari menjual tenun ikat NTT sebagai produk premium harus tetap pada tujuan untuk mempertahankan tenun ikat sebagai bagian dari kekayaan warisan budaya. Sekaligus memberi keuntungan sebesar-besarnya kepada para penenun.

Menjual tenun ikat NTT secara premim tentu bukan untuk mengisi dompet tebal pengusaha oportunis yang memanfaatkan permintaan pasar yang tinggi. Melainkan mengembalikan setiap keuntungan dari harga premium itu kepada para penenun. Dan ini tentu PR besar yang tidak mudah.

(Para model mengenakan busana hasil tenun ikat NTT di ajang Paris Fashion Week tahun 2018/ Foto : nttbangkit.com)

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of