Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB tertarik meneliti situs Besi Pare Tonu Wujo di Flores Timur

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam ajang Pusparagam Pengarsipan 2019 yang diselenggarakan oleh Indonesian Visual Art Archieve (IVAA) baru-baru ini, Kisah Besi Pare Tonu Wujo (BPTW) mendapat atensi besar dari para peserta.

Kisah Besi Pare Tonu Wujo dipresentasikan oleh Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Flores Timur yang diundang khusus oleh penyelenggara.

Acara Pusparagam Pengarsipan 2019 mengangkat  tema The Possibility of Sociallity Engaged Archiving diselenggarakan pada tanggal  19-21 Nopember 2019 di Yogyakarta.

Ajang ini menghadirkan para praktisi yang bekerja dengan arsip atau siapa saja yang tertarik dengan arsip dan ilmu pengetahuan.

Baca Juga:

IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo dalam Ajang IVAA 2019

Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan

Mereka yang terlibat dalam kegiatan ini hadir dari berbagai kalangan. Ada seniman, budayawan, sosiolog, peneliti, badan pengarsipan, mahasiswa, pegiat dan pencinta budaya dalam dan luar negeri.

Dalam Presentasinya, cuplikan-cuplikan gambar yang ditampilkan secara apik oleh ketua IGI Daerah Flores Timur ini, sontak membuat audiens yang hadir menaruh minat yang mendalam terhadap situs budaya ini.

Fathun Karib, sosiolog muda Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta lantas memberikan pandangan-pandangan yang menarik terkait situs dimaksud. Rasa tertarik yang mendalam membuatnya menawarkan peluang untuk melakukan penelitian di ranah ini.

Penulis Bersama Fathun Karib, sosiolog dari UIN Syarif Hidayatulah Jakarta

“Kisah BPTW harus segera dikaji, sebagai salah satu cara memelihara situs ini. Cerita-cerita ini memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Sehingga penting untuk segera diarsipkan,” kata Fathun.

Senada dengan Fathun, Asisten Akademik dan Riset di KK Perancangan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB), Feysa Poerty, memberikan pandangannya.

“Kajian-kajian ilmiah harus segera dilakukan sebagai salah satu bentuk tanggungjawab akademisi terhadap pemelihaaran budaya nasional,” kata Feysa Poetry.

Swafoto bersama Feysa Poerty (Berhijab)

Poerty menambahkan bahwa secara pribadi, ia sangat tertarik untuk meneliti situs ini. Sehingga, jika Pemerintah Kabupaten Flores Timur concern di bidang ini, beliau akan dengan senang hati membantu menelitinya.

“Dibutuhkan kerja ektra dan kerelaan untuk memberikan energi lebih demi pelestarian budaya daerah. Flores Timur memiliki kekayaan lokal yang sangat berharga. Sangat disayangkan jika tidak dipelihara dengan baik. Meneliti situs ini adalah tanggungjawab profesional dari akademisi,” tutupnya.

Seperti diketahui, situs Besi Pare Tonu Wujo berada di Desa Palue, Kecamatan Titehena Kabupaten Flores Timur Provinsi  Nusa Tenggara Timur. Letaknya yang jauh dari pemukiman penduduk, kurang lebih empat (4) jam berjalan kaki, rentan dengan pengrusakkan akibat ulah oknum yang tidak bertanggungjawab. Memeliharanya adalah tanggungjawab semua pihak.

Baca Juga:

Belajar Sains di Rimba Lewolalat

Situs Batu Kembar: Tempat Pasutri Mengharap Berkat

Salah satu bentuk tanggungjawab dalam melestarikan kearifan lokal seperti ini adalah dengan membuka kesempatan untuk penelitian. Penelitian seperti ini tentu menjadi cara yang sangat ilmiah untuk mendokumentasikan budaya lokal.

Digitalisasi dokumen budaya lokal menjadi kebutuhan saat ini agar lebih mudah diwariskan kepada generasi muda kita.

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] di wilayah Flores Timur: IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo Dalam Ajang IVAA 2019, Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB Tertarik Meneliti Situs Besi Pare Tonu Wujo Di Flores Timur, dan Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi […]

trackback

[…] Baca Juga : Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB tertarik meneliti situs Besi Pare Tonu Wujo di Flores Timur […]