Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Dituturkan kembali oleh: Kayetanus Hama Soge – Penduduk Asli Desa Kobasoma – Flores Timur.

Eposdigi.com – Besi Pare Tonu Wujo boleh dibilang Dewi Sri-nya orang Flores Timur. Alasannya sederhana karena pengorbanan Besi Pare Tonu Wujo agar saudaranya dan warga sekampung mendapatkan benih padi mirip dengan kisah Dwi Sri di tanah Jawa.

Banyak versi kisah Besi Pare Tonu Wujo di Flores Timur. Diantaranya adalah versi Muhan. Dimana, Muhan adalah salah satu suku di Flores Timur. Karena merupakan salah satu bentuk sastra lisan maka penting untuk dilestarikan. Cerita ini kami dengar langsung dari narasumber di Desa Palue, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur. Sehingga, beberapa foto yang kami hadirkan adalah bukti keberadaan kami di sana.

Dahulu di Lewolalang, Desa Palue, Kecamatan wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hidup 8 (delapan) orang bersaudara yang terdiri dari 7 (tujuh) orang putra dan 1 (satu) orang putri. Ketujuh putra itu, yang masih diingat, adalah Subang, Noheng, Paji, Kuda, Werong, dan Kasa. Dan satu-satunya putri itu bernama Besi.

Setiap hari, seperti halnya warga sekampung, mereka mencukupi kebutuhan hidup dengan berburu binatang hutan dan mencari umbi-umbian. Untuk beberapa waktu kebutuhan pangan warga selalu terpenuhi. Masalah mulai muncul seiring bertambahnya jumlah penduduk. Ketersediaan binatang hutan dan umbi-umbian tidak mampu menalangi kebutuhan pangan mereka. Kampung Lewolalang dilanda bencana kelaparan yang hebat.

Untuk mengatasi bencana, kedelapan bersaudara ini memutuskan untuk membuka kebun. Mereka menebang hutan, mengumpulkan potongan-potongan kayu, membakar, dan membersihkan lahan. Dalam waktu singkat kebun yang luas telah selesai dikerjakan. Setelah lahan disiapkan, masalah baru muncul: mereka tidak memiliki benih siap tanam. Bahkan, hingga musim hujan tiba mereka tak kunjung mendapatkan benih.

Dipimpin oleh Subang, seluruh warga kampung diminta untuk memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Berhari-hari mereka melakukan itu hingga akhirnya Besi mendapatkan penglihatan. Kepadanya diberitahukan ritual-ritual khusus yang harus dilakukan sebagai syarat untuk mendapatkan benih.

Ritual khusus yang harus dilakukan membuat Besi tak bisa tidur. Saban hari dia memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan ritual khusus itu kepada saudaranya yang lain dan juga semua warga sekampung. Sementara hujan terus turun keberaniannya tak kunjung datang. Besi terdesak waktu.

Pada akhirnya kecintaannya kepada saudara dan semua warga kampung membuat Besi harus menyampaikan pesan dari Yang Maha Kuasa. Pesannya singkat: mesti ada pengorbanan seorang wanita agar mereka boleh beroleh benih. Dan, wanita itu haruslah Besi.

Penolakan datang dari semua saudaranya. Mulai dari Subang hingga Paji. Tak ada satupun yang rela jika saudarinya menjadi korban untuk benih yang akan mereka peroleh. Apalagi yang mesti melakukan ritual itu adalah salah satu saudara laki-laki Besi.

Keteguhan hati Subang dan saudaranya yang lain akhirnya goyah lantaran tidak ada lagi harapan untuk bertahan hidup. Rusa dan Babi hutan tak pernah tampak lagi. Umbi-umbian sudah lama habis. Beberapa warga kampung mati kelaparan. Keputusan harus segera dibuat: ritual harus dilakukan.

Hari itu tiba juga. Tengah malam, di kebang, mereka melakukan persiapan dengan memakaikan busana kepada Besi. Ritual memakaikan busana kepada saudari disebut loge bine. Mulai dari kaki hingga kepala. Besi mengenakan sarung, gelang tangan, kalung, cincin, anting, baju kebaya. Ritual loge bine masih terus dilakukan hingga kini dalam ritual adat perkawinan.

Setelah ritual loge bine selesai, mereka mengantar Besi ke tengah kebun. Di sana ada sebatang kayu kukung yang telah ditancap di tanah dan sebuah batu (wato). Kayu kukung sebagai simbol gading dan batu sebagai tempat duduk.

Akhirnya Besi dikorbankan. Sebelum dibunuh, Besi berpesan hal-hal yang harus dilakukan setelah ia dibunuh. Paji, saudaranya, yang berani membunuhnya setelah semua saudara tuanya tidak berani melakukan itu. Kemudian jenazah Besi diletakkan di atas wato dan dibiarkan bersandar di kayu kukung. Sesuai dengan pesan Besi. Ritual ini disebut tobo wato tonu ledan kukung bala.

Wato (batu) tempat jasad Besi diletakkan setelah dibunuh Paji
Lokasi: Lewolalat, Desa Palue, Kec. Wulanggitang, Kab. Flores Timur

Setelah ritual tobo wato tonu ledan kukung bala selesai, dilanjutkan dengan wekan se’sa dawin daruk. Semua potongan tubuh Besi dibenamkan dalam tanah sepanjang ukuran kebun yang telah disiapkan. Kemudian kembali ke rumah dan setelah tiga hari boleh kembali ke tempat ini.

Setelah tiga hari, mereka kembali ke kebang. Keheranan hadir karena di tempat dimana mereka menguburkan tubuh Besi tidak ditemukan jasadnya. Mereka panik dan serentak mencari jasad Besi sambil memanggil-manggil di setiap sudut kebun. Anehnya, mereka selalu mendengar suara sahutan dari arah sebaliknya padahal mereka tidak melihat yang empunya suara. Jika mereka memanggil ke Timur, mereka akan mendengar jawaban dari Barat. Dan, jika mereka memanggil ke Selatan, mereka akan mendengar jawaban dari Utara. Hal ini terjadi secara terus-menerus hingga mereka menyadari bahwa Besi telah benar-benar meninggalkan mereka.

Di kebang, tepat di tempat tempat dimana tubuh (daging) Besi dikuburkan, tumbuh padi. Benih jagung dan sagu muncul di tempat dimana tulang dibenamkan. Darah telah berubah menjadi weteng. Lemak tubuh berubah menjadi benih kacang-kacangan. Buah labu adalah perubahan dari hati dan jantung. Karena bibit labu muncul dari hati dan jantung, nama benih ini, dalam bahasa daerah setempat disebut besi. Untuk mengenang Besi.

Setelah seluruh warga kampung mendapat benih. Mereka mulai bercocok tanam dan hasilnya berlimpah-limpah. Bahkan, Paji harus membakar lumbung padi miliknya saking terlalu banyak hasil yang diperoleh. Tempat dimana Paji membakar lumbung padinya masih ada hingga kini.

Gundukan padi yang dibakar oleh Paji dan setelah seian lama berubah menjadi tanah.
Lokasi: Lewolalat, Desa Palue, Kec. Wulanggitang, Kab. Flores Timur

Di samping itu, ritual menancapkan kayu kukung dan meletakkan wato (batu) di setiap kebun-kebun milik masyarakat masih dilakukan hingga saat ini. Ini dilakukan untuk mengenang peristiwa berdarah, pengorbanan Besi untuk saudara dan seluruh warga kampung.

Suatu ketika, karena suatu sebab, Subang meninggalkan Lewolalang dan pindah ke wilayah Lewokung, Desa Mokantarak. Paji menuju ke arah Tanjung Bunga (Lewokeka), Kuda di wilayah Lewoingu (Leworok), Werang di wilayah Tuakepa/ Lewotobi, sedangkan Naheng tetap menetap di Lewolalang. Di daerah-daerah itu, mereka berbaur dengan masyarakat setempat, beranak pinak dan menurunkan keturunan hingga saat ini. Demikian akhirnya, benih-benih padi, jagung, kacang-kacangan dan labu boleh tersebar luas di seluruh Flores Timur.

Hingga saat ini, tempat-tempat dilaksanakannya ritual-ritual adat itu, masih ada, menyendiri di antara pepohonan besar, semak-semak belukar, membentuk hutan belantara berpagarkan lautan bambu. Dan yang pasti: menanti kisah ini diceritakan.

(Foto :  Penulis Bertemu dengan Narasumber, di Desa Palue, Kec. Wulanggitang, Kab. Flores Timur. Foto diambil pada 07 September 2019. Penulis adalah Guru SMP Negeri 1 Titehena – Ketua IGI Flores Timur.)

Sebarkan Artikel Ini:

8
Leave a Reply

avatar
5 Discussion threads
3 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
depo- ersMarselinus Laga NurSenuken MedhonSipri Peren Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Sipri Peren
Guest

Itu tulisan yg bagus. Mendokumentasikan tradisi. Kebiasaan menulis untuk mendokumentasikan tradisi masi langka di Flores sehingga banyak tradisi yg bernilai moral punah. Jika masi ada lanjutannya, perlu didokumentasikan dengan baik. Misalnya nanti di cetak dalam bentuk Buku.

Senuken Medhon
Guest
Senuken Medhon

Banyak nilai kehidupan bisa diambil dari cerita-cerita rakyat. Besi Pare Tonu Wujo adalah cerita tentang penghormatan kepada perempuan. Perempuan adalah sumber yang menghidupkan. Sumber kehidupan.

Marselinus Laga Nur
Guest

Bagus sekali. Memindahkan budaya tutur ke tulisan

trackback

[…] Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan […]

trackback

[…] Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan […]