IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo dalam Ajang IVAA 2019

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Ikatan Guru Indonesia (IGI) Daerah Flores Timur mendapat kesempatan langka, diundang oleh Direktur IVAA (Indonesian Visual Art Archieve) 2019, guna mempresentasikan kisah Besi Pare Tonu Wujo.

Kegiatan Pusparagam Pengarsipan IVAA dengan mengambil tema The Possibility of Socially Engaged Archiving dilaksanakan pada tanggal 19-21 November 2019 di Yogyakarta.

Peserta Pusparagam Pengarsipan IVAA dari berbagai kalangan

Acara yang dikemas sangat santai ini menghadirkan para praktisi yang bekerja dengan arsip atau siapa saja yang tertarik dengan arsip dan ilmu pengetahuan, termasuk oleh pemerhati budaya dari luar negeri, diantaranya dari Negeri Gajah Putih, Thailand.

Pemerhati Budaya dari Thailand (Tengah)

Oleh IVAA, IGI Flores Timur dipandang memiliki teknik pengarsipan yang baik dan, yang lebih penting, mempunyai semangat untuk memelihara situs-situs dan ritus budaya di Flores Timur.

Kisah Besi Pare Tonu Wujo versi Muhan –  Suku Soge, Desa Palue, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, telah diarsipkan secara digital dengan metode cuplikan-cuplikan foto oleh Ketua IGI Flores Timur pada 07 Sepetember 2019.

Kisah Besi Pare Tonu Wujo menceritakan pengorbanan seorang perempuan bernama Besi sebagai perintah Yang Maha Kuasa agar keenam saudaranya dan seluruh warga kampung mendapatkan benih untuk ditanam.

Baca Juga:

Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan

Pengarsipan ini disambut baik oleh redaksi media ini dengan menerbitkan beberapa tulisan terkait Kisah Besi Pare Tonu Wujo.

“Budaya kita di Flores Timur adalah budaya tutur. Mengangkat kisah-kisah seperti Besi Pare Tonu Wujo adalah cara yang sangat baik untuk mendigitalisasi budaya tutur tersebut. Kami sangat berterima kasih kepada sahabat-sahabat IGI Flores Timur yang mempercayakan media ini untuk mempublikasikan tulisan mereka”, kata  Senuken, mewakili redaksi eposdigi.com.

Ajang ini digagas untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya pengarsipan terutama dalam bentuk digital bagi generasi-generasi berikutnya.

Mbak Lisis, Direktur IVAA (memegang mikrofon) sedang memberi sambutan

Dalam sambutannya, Lisistrata Lusandiana, Direktur IVAA, mengatakan pentingnya pengarsipan sebagai bagian dari memelihara warisan budaya lokal .

“Pusparagam pengarsipan 2019 dilaksanakan untuk, sekali lagi, membangun kesadaran kolektif, agar tidak hanya Arsiparis, tetapi juga masyarakat diajak untuk memelihara budaya-budaya lokal melalui kegiatan pengarsipan,” terang lulusan Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Perempuan yang sebagian besar hidupnya dibaktikan untuk pengarsipan ini berpesan agar Arsiparis-arsiparis tidak kehilangan semangat untuk terus bekerja di jalan yang sunyi ini.

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo dalam Ajang IVAA 2019 […]

trackback

[…] praktek pengarsipan sebagai strategi kebudayaan secara kontekstual di wilayah Flores Timur: IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo Dalam Ajang IVAA 2019, Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB Tertarik Meneliti Situs Besi Pare Tonu Wujo Di Flores Timur, […]