Menerjemahkan Wacana Gubernur NTT soal Calon Sarjana Peternakan Harus Punya 25 ekor Sapi

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Victor Bungtilu Laiskodat menginginkan agara mahasiswa Fakultas Peternakan, Perikanan dan Pertanian pada universitas-universitas di NTT harus mampu mengaplikasikan ilmunya secara nyata sebelum lulus kuliah.

Hal ini disampaikannya saat acara Dies Natalis ke 58 dan Wisuda Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang baru-baru ini.

“Peternakan, sebelum diwisuda, minimal telah memelihara kalau babi 50 ekor babi, kalau kambing 50 ekor kambing, kalau sapi 25 ekor sapi”, kata Gubernur Laiskodat.

Pun demikian dengan mahasiswa Fakultas Pertanian dan Perikanan.

“Begitu juga pertanian, minimal 1 hektar lahan dia sudah punya dan kelola dengan rakyat. Kalau dia sarjana perikanan, maka kalau budi daya, dia dipastikan sudah punya keramba apung,” tambahnya seperti dilansir oleh selatanindonesia.com.

Baca Juga: Benarkah Banyak Anak Menjadi Penyebab Tingginya Angka Kemiskinan dan Stunting di NTT?

Apa yang diharapkan oleh Gubernur Laikodat cukup beralasan. Per Maret 2020, mengutip kompas.com (16/07/2020) jumlah dan presentase penduduk miskin di NTT masuk 5 besar nasional. Masih ada 1,15 juta atau 20,90 persen masyarakat NTT masuk dalam kategori miskin.

Secara nasional, garis kemiskinan per rumah tangga pada Maret 2020 sebesar Rp2.120.000 per bulan. Dari angka ini bisa dikatakan bahwa masih ada lebih dari 20 persen masyarakat NTT memiliki tingkat konsumsi kurang dari Rp2.12 juta.

Data lain juga mengejutkan. Pada tahun 2019 lalu, dari 78.500 angka pengangguran di NTT, jumlah pengangguran terbesar berasal dari kalangan yang pernah mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Jika dirinci, pengangguran terbanyak berasal diri lulusan diploma. Yaitu sebesar 12,44 %. Sementara sarjana pengangguran sebesar 8,76 persen. Bandingkan dengan tingkat pengangguran lulusan SD hanya sebesar 0,75 persen (kompas.com, 07/05/2019).

Baca Juga: Meningkatnya Kasus Kematian Buruh Migran: Publik NTT Menunggu Langkah Konkrit Gubernur dan DPRD NTT

Benar jika membangun NTT butuh sinergi semua pihak. Perguruan tinggi, pemerintah, komunitas masyarakat, dunia usaha harus bahu membahu mengentaskan kemiskinan di NTT.

Harapan Gubernur Laiskodat harus bisa diterjemahkan oleh dunia pendidikan di NTT.  Bukan hanya dikalangan pendidikan tinggi tetapi juga harus dimulai dari sekolah-sekolah menengah kejuruan di NTT.

Kolaborasi Lintas Disiplin Ilmu.

Untuk memelihara 50 ekor babi atau kambing, pun 25 ekor sapi oleh seorang calon sarjana peternakan tentu tidak mudah. Seorang calon sarjana peternakan butuh kerja sama dengan calon sarjana ekonomi.

Calon Sarjana peternakan mungkin tahu bagaimana merawat babi, kambing atau sapi. Tapi dia membutuhkan sarjana pertanian untuk mengelola kebun yang menghasilkan pakan bagi ternak peliharaannya.

Tidak hanya disiplin ilmu pertanian, ia juga butuh seorang calon sarjana ekonomi untuk menghitung dengan teliti visibilita usaha. Apa saja yang dibutuhkan untuk memelihara babi atau kambing dan sapi tersebut.

Tidak berhenti pada menghitung apa saja yang dibutuhkan untuk memelihara, calon sarjana ekonomi juga dibutuhkan merencanakan pemasaran bagi setiap ekor ternak yang mereka pelihara.

Mengenai pasar, barangkali baik calon sarjana peternakan, pertanian ataupun ekonomi, bisa saja membutuhkan calon sarjana lain yang belajar khusus usaha kuliner atau restoran. Bisa saja mereka menciptakan pasar lewat usaha restoran.

Baca Juga: Mewujudkan Pasar Premium Tenun Ikat NTT

Atau mereka juga bisa bekerja sama dengan seorang calon sarjana pariwisata agar kebun dan kandang ternak mereka dikelola dengan baik sebagai argo wisata yang bisa mendatangkan wisatawan.

Menjadi Pendamping Terlatih.

Tentu tidak mudah seorang calon sarjana apapun disiplin ilmunya membagi waktu untuk fokus di bangku kuliah sekaligus memelihara puluhan ekor hewan ternak.

Namun ilmu dan semua teori yang mereka peroleh dalam ruang-ruang kelas harus bisa dibumikan lewat praktek di kebun atau di kandang-kandang ternak.

Maka yang paling mungkin adalah mereka dilatih menjadi pendamping bagi komunitas-komunitas masyarakat. Mereka  membentuk kelompok masyarakat petani dan mendampingi komunitas ini sekaligus mempraktekkan teori sesuai disiplin ilmunya masing-masing.

Tidak berhenti hanya sebagai pendamping, tapi sekaligus menjadi anggota kelompok usaha bersama. Tentu usaha bersama yang visible secara ekonomi.

Baca Juga: Ketika Masyarakat NTT Berbicara tentang Pesta (Penutup)

Dengan demikian mereka bisa fokus memperdalam ilmunya, sementara mengurus kebun dan ternak sudah dilakukan oleh komunitas masyarakat yang mereka bentuk dan dampingi.

Semakin beragam disiplin ilmu,  semakin banyak calon sarjana yang yang terlibat dalam sinergi seperti ini tentu akan secara signifikan mengurai masalah pengangguran terdidik di NTT.

Jika wacana yang dilontarkan Gubernur Laiskodat ini dapat diterjemahkan dengan baik oleh dunia pendidikan dalam tindakan aksi yang nyata maka entitas-entitas usaha seperti ini bisa merubah wajah NTT secara signifikan.

Tidak ada lagi sarjana menganggur. Persoalan kemiskinan bisa terurai.

Apakah wacana yang dilontarkan Gubernur NTT ini mudah dilakukan. Tentu tidak. Namun jika mau, kita pasti bisa melakukannya. Atau bagaimana menurut Digiers?

Foto: antaranews.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of