Sekolah Perawat Di Larantuka Flores Timur

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Bagian kedua dari tiga tulisan. Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan yang tayang kemarin.

Eposdigi.com – Tahun 1966 dokter Hendrikus Fernandez mulai bertugas di Larantuka. Saat itu dikenal dengan dokabu. 

Melihat kondisi geografis sebagai kabupaten kepulauan dan minimnya tenaga medis yang bisa menjangkau seluruh pelosok Flores Timur yang terdiri dari 4 pulau, Flotim daratan, Solor, Adonara dan Lembata maka terpikirkan untuk membuka sekolah perawat di Larantuka. 

Berbekal keberanian dan tersediannya tenaga perawat senior yang berpengalaman dan memiliki etos kerja dan semangat pelayanan, tanpa ijazah formil guru perawat, maka tahun 1969 dibuka pendidikan keperawatan dan kebidanan di Larantuka yang dikenal dengan nama PK C dan PK E atau pendidikan klinis untuk perawat dan bidan.

Sekolah dibuka dari tahun 1969 hingga tahun 1978. Lama pendidikan selama 2 tahun lalu masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan di Lela dan di Ende baik untuk klinik laboratorium, farmasi dan anestesi. 

Baca Juga: 

The Good Samaritan Code Dan Manajemen Pelayanan RSUD Larantuka

Sebuah tindakan yang tepat dilakukan untuk menerobos kelangkaan tenaga medis. Hasil dari pendidikan keperawatan itulah yang semuanya mengisi tenaga keperawatan di seluruh pelosok baik berupa pustu maupun puskesmas yang tersebar di Flotim. 

Mereka generasi ketiga. Generasi ketiga ini lah adalah lulusan sekolah perawat Larantuka tahun 1969-1978. Mereka berdinas dan mengabdi di seluruh pelosok di klinik, pustu, puskesmas hingga di RSUD Larantuka hingga pensiun tahun dekade 2010 an. 

Tanpa dukungan anggaran yang memadai. Dengan modal peralatan dan penunjang  medis mereka jalan kaki melayani seluruh pelosok di Flotim. Sesekali atau tiap bulan mereka ke Larantuka untuk anfrak gaji dan anfark obat. 

Saya ingat,  mereka tenaga medis jaman itu di Dinkes Flores Timur punya Koperasi,  namanya Karya Kes. Koperasi simpan pinjam itulah yang buat mereka bisa cicil sepeda motor dan ongkos anak kuliah. 

Saya mengenal dengan baik semua perawat dekade itu dan dokter2 Inpres yang bertugas dari tahun 1978-1987. Setelah tahun 1973 dokter Hendrikus Fernandez digantikan oleh dokter Sofian sampai tahun 1978. Lalu muncul dokter Inpres hingga tahun 1984.

Baca Juga: 

Pekerjaan Konstruksi Jalan di Flores Timur, Catatan dari Tender Ruas Jalan Latonliwo 1, 2 – Basira

Lalu tahun 1984-1988 setelah tersedia guru diploma keperawatan seperti Rafael Paun, Mia Assan dan Mia Moi maka dibukalah SPK Perawat di Larantuka. 

Mereka adalah Hasil didikan dan supervisi dari para perawat senior yang telah melewati pendidikan berjenjang dan pengalaman yang paripurna ditempa dengan disiplin ketat dan semangat pengabdian tanpa lelah. 

Mereka generasi keempat yg adalah tamatan sekolah perawat Larantuka tahun 1984-1988 dan juga tamatan dari SPK di Ende, Kupang hingga akademi perawat di seluruh Indonesia yang pulang dan bekerja di Flotim. 

Mereka melanjutkan pendidikan keperawatan dan klinis lainnya hingga jenjang yang lebih tinggi. Malah tahun 2007-2010 dibuka D3 Keperawatan di RSUD Larantuka. Kini sudah banyak perawat atau paramedis yang lulusan S2.

Management kesehatan termasuk management rumah sakit itu kan selalu berjenjang. Ada yang bersifat kuratif, preventif dan rehabilitatif.

Baca Juga: 

Confreiria dan Perda Semana Santa di Flores Timur

Salah satu contoh. Di tahun 1970,  WHO masih menetapkan beberapa wilayah di Indonesia sebagai daerah endemik penyakit menular. Salah satu nya kita di NTT masih masuk daerah endemik lepra, kaki gajah dan malaria.

Maka dulu ada istilah P4M untuk kesehatan lingkungan atau sanitasi yakni Pemberantasan Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Menular.

Lalu setelah program vaksin cacar berhasil maka tahun 1980 kita hanya ada P3M, Pemberantasan sudah dianggap berhasil, sekarang tinggal P2M, yakni Pencegahan Penyakit Menular.

Begitupun kita di Flores Timur baru di tahun 1980-1990 bebas malaria. Tadi nya sebelum itu kita adalah daerah endemik malaria. Karena kita daerah endemik malaria maka semua pasien yang datang ke RSUD Larantuka atau pustu, atau puskesmas sebelum tahun 1990 pasti dikasih Obat Kina atau Kenine. 

Mengapa demikian karena itu adalah protap penanganan medisnya. Di daerah lain seperti di Jawa tidak di kasih obat Kenine karena mereka bukan daerah endemik malaria.

Baca Juga: 

 

Pelajaran begini seharusnya menjadi dasar saat tahun 2019-2020,  Indonesia kena pandemi Covid. Yang berlaku itu adalah prosedur penanganan endemi/pandemik atau saat pandemi Covid kita kenal dg Protokoler Medis. Pelajaran beginilah yg harus jadi pengetahuan bersama, sehingga kita tidak gagap lagi jika menghadapi keadaan seperti itu.

Pengalaman dan alih proses regenerasi dari generasi pertama tahun 1930 an hingga 1960 an, dari tahun 1940/1950 an ke 1980 an dan generasi 1960/1970 an ke generasi 1990/2010 an adalah kunci keberhasilan sebuah manajemen kesehatan termasuk management rumah sakit. 

Ada keberlanjutan karena generasi pertama mendidik dan mensupervisi generasi kedua, ketiga dan selanjutnya. Maka akan menjadi sebuah Nilai.  Sebuah SOP baku, sebuah role models. 

Flores Timur di tahun 1970-1980 an pernah dijadikan model oleh WHO dalam manajemen pelayanan medis.

Kita berhasil menekan laju penyakit menular. Kita bisa keluar dari daerah endemik kusta, kaki gajah dan tahun 1990 kita bebas malaria.

Baca Juga: 

Belajar Senyum Untuk Pariwisata Flores Timur

Secara management rumah sakit pun sejak regulasi pemerintah di bidang kesehatan lewat Permenkes dekade tahun 1970-1980 terkait status rumah sakit maka RSUD Larantuka sejak dulu sudah tipe D. 

Apalagi kita sejak awal kabupaten Flores Timur adalah kabupaten kepulauan. Sejak tahun 1960 an kita di Flotim punya 3 RS yakni RSUD Larantuka, RS Bukit di Lewoleba dan RS Lepra juga di Lewoleba. 

Selain puskesmas di seluruh kecamatan, sejak dulu juga kita memiliki klinik kesehatan di Biara Susteran seperti di Witihama dan di Pamakayo.

Rumah sakit itu adalah management kesehatan yang timbul karena pengalaman. Pengalaman menghadapi sejuta persoalan menimbulkan keberanian bertindak. Karena ilmu kesehatan itu selalu berkembang dan butuh jam terbang.

Ada hal menarik soal pengalaman bertindak. Saya ingat persis tahun 1979 setelah banjir besar di Larantuka dan tanah longsor di Waiteba Lembata, di Flores Timur ada wabah muntaber. Stok infus menipis. 

Baca Juga: 

Hal Ini Bisa Buat Flores Timur Bantu Indonesia Swasembada Energi

Para perawat di pelosok tahu bagaimana mereka bertindak. Karena mereka diajarin bahwa jika tidak ada infus maka dalam keadaan darurat pakai air kelapa muda yang masih ada dalam buah kelapa utuh. 

Mengapa demikian karena secara ilmu pengetahuan saat mereka sekolah perawat di Larantuka, mereka diajarkan bahwa air kelapa muda adalah larutan elektrolit yg bisa mengganti fungsi infus.  Anak balita butuh larutan elektrolit dari air kelapa muda, supaya bisa bertahan hidup.

Foto Ilustrasi dari organisasi.co.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of