Pekerjaan Konstruksi Jalan di Flores Timur, Catatan dari Tender Ruas Jalan Latonliwo 1, 2 – Basira

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Catatan kritis ini dibuat untuk semua pemangku kepentingan di Flores Timur. Cukup panjang tulisan ini tapi ini biar kita semua lebih komprehensif melihat persoalan dan dapat cari solusi yang lebih baik dan berkesinambungan.

Selama ini kerja jalan di Kabupaten Flotim  meliputi unsur pemerintahan dan masyarakat. Pemerintah ada Bupati dan Wakil Bupati, DPRD,  Sekda, Bappeda, Asisten Sekda bidang Pembangunan, Dinas PU dan Unit Layanan Pengadaan yang atur mekanisme tender atau lelang juga Kodim lewat Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) dan perangkat di desa lewat Dana Desa yang bangun JUT dan Jalan Lingkungan lewat Semenisasi.

Masyarakat ada di dunia usaha yakni kontraktor dan asosiasi pekerjaan. Juga masyarakat desa dan masyarakat adat yang mengijinkan lahan dan menjual material untuk keperluan pembangunan jalan.

Pemerintah sudah bangun jalan sejak jaman Kolonial Belanda, Orde Lama, Orde Baru hingga Orde Reformasi. Ada Jalan Negara, Jalan Provinsi, Jalan Kabupaten dan Jalan Desa.

Baca Juga: 

Menyiapkan Flores Timur Menyambut SiTangkal

Apalagi di zaman Reformasi ini lewat DAU DAK di APBD kabupaten, di APBD provinsi maupun lewat APBN pembangunan ruas jalan di Flores Timur cukup baik. Kita bisa lihat pembangunan jalan relatif lebih baik di Adonara dan Solor juga di Flotim Daratan.

Metode bangun jalan dari Jalan Tanah, Pasang Batu/Telford, Agregat, Lapen, Rabat Beton hingga Hotmix.

Ketergantungan atau bisa dibilang keterbatasan pada ruang fiskal menyebabkan belum banyak ruas jalan yang dibangun untuk bisa menembus desa-desa terpencil. 

Belum lagi karakteristik desa dengan dusun-dusun yang terpisah juga medan dan tebing yang sulit dan juga ancaman abrasi membuat sampai hari ini masih ada desa yang belum dilalui jalan dengan standar dan kualitas yang baik. 

Jalan di Kecamatan Tanjung Bunga bisa dikategorikan masih rusak dan malah masih ada desa atau dusun yang belum ditembus oleh jalan.

Baca Juga: 

Menelaah Konflik Kampung Kota Secara Historis

Masuk Orde Reformasi ada pemilihan umum berbasis Dapil. Maka anggota DPR sampai DPRD mulai kampanye kepada masyarakat Tanjung Bunga untuk bangun jalan. Begitupun dengan pilkada langsung maka Bupati-Gubernur mulai kampanye bangun jalan.

Sekarang mari kita bicara jalan di Tanjung Bunga terkait dengan Lelang Proyek Jalan Latonliwo 1-2 ke Basira sejauh 6 KM dengan pagu 11 Miliar.

Beberapa waktu lalu sekitar Januari 2025,  lewat tulisan di FB saya pernah usulkan agar bangun jalan pakai metode Lapen, untuk mengatasi keterbatasan anggaran dan lebih khusus untuk daerah-daerah yang terisolir.

Perlu diingat kalau pakai Lapen butuh biaya sekitar 600-700 juta/KM. Rabat beton butuh 1.7 – 1.8 milyar/KM dan Hotmix sekitar 3 Milyar/KM. ULP Kab Flotim dalam dokumen lelang untuk ruas jalan Latonliwo 1-2 -Basira bilang pakai rabat beton. Ya lebih murah dari Hotmix.

Ok, mari kita telusuri lebih jauh terkait latar belakang kondisi geografis dan perjalanan empiris ruas jalan di Tanjung Bunga sejak dulu.

Baca Juga: 

Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot

Dengan kondisi jalan yang parah dan juga belum semua desa dapat dilalui jalan maka sampai dengan tahun 1980,  masyarakat di Tanjung Bunga jika ke Larantuka masih menggunakan lalu lintas laut. 

Orang di sekeliling Teluk Hading baik di Sirowarong, Waikela jika mau ke Larantuka akan naik motor laut Bunga Tanjung milik pastor paroki Waiklibang, pater Manggas SVD  ke pasar Belobare di Kawaliwu baru lanjut jalan kaki ke Oka. 

Begitupun zaman Orde Lama, seluruh guru-guru di Tanjung Bunga akan jalan kaki ke Ledan, yang teduh dalam rimbunnya hutan bakau di dekat Kolidateng untuk tunggu motor Arnoldus milik Bengkel Misi Katolik jemput mereka ke Larantuka. 

Begitupun sampai dengan tahun 1990 an, orang di Tone dan Mulen jika ke Larantuka akan gunakan perahu motor. Perahu motornya nanti akan ditambatkan di Tanah Garam antara Postoh dan Lewerang.

Baca Juga: 

Mendorong Bank Sampah Sebagai Entitas Bisnis Skala BUMDes di Flores Timur

Catatan soal perpaduan budaya Paji Demon maka di Flores Timur Daratan, khususnya hanya di kecamatan Tanjung Bunga ada orang Paji yang dikenal dengan Paji Lewo Pulo mulai dari Kolidateng, hingga ke Lamatutu. Paling banyak di sekeliling Teluk Hading Tanjung Bunga adalah orang Demon.

Di Tanjung Bunga juga sudah cair hubungan Paji-Demon itu.  Kita bisa lihat dusun Keka yang berlatar Paji di daerah Danau Asmara sudah menjadi satu desa Waibao yang bersatu dengan kultur Demon di Tengah Dei, Riangpuho dan Lebao Tanjung. 

Begitupun orang di Lamanabi yang berkultur Paji sampai dengan tahun 2010 menjadi satu desa dengan orang di Waiklibang yang berkultur Demon dalam satu desa Ratulodong. 

Tentu faktor-faktor medan geografis yang sulit dan kondisi jalan yang terisolir membuat hubungan Paji Demon sudah sangat cair di Tanjung Bunga. Sejak pembentukan kabupaten Flores Timur,  kecamatan Tanjung Bunga meliputi wilayah kecamatan Lewolema sebelum terpisah.

Baca Juga: 

Surat Terbuka (Menyoal Pinjaman 100 Miliar Pemda Folres Timur)

Luas nya wilayah Tanjung Bunga dengan kondisi jalan yang sering berlumpur saat musim hujan maka sampai tahun 1980 an orang dari Waiklibang – Riangkoli jika ke Larantuka lewat jalan darat akan sulit melewati daerah Welo. 

Jika musim hujan ada istilah dalam bahasa Melayu Nagi ” Oto Tebemba di Welo”. Maka penumpang akan jalan kaki sampai Weri.

Tahun 1990 dari Mulobang, Kolidateng, Lato, Karawutun hingga Mulen ada pekerjaan jalan pasang batu atau Telford yang dikerjakan oleh masyarakat lewat bantuan Misi Keuskupan Larantuka lewat Delsos atau Yaspensel.

Dari media terbaca bahwa ULP kab Flotim sudah umumkan peserta lelang dgn plafon 11 Milyar untuk panjang jalan 6.1 Km dengan model pekerjaan Rabat Beton.

Peserta nya : 

  1. Keynward dengan nilai penawaran: 9.753.400.000
  2. Cahaya Melati nilai tawarnya : 9.878.000.000
  3. Rokatenda nilai tawar : 10.423.212.499.
  4. Valentine dengan nilai tawar 10.921.163.307

Baca Juga: 

Belajar Senyum Untuk Pariwisata Flores Timur

Pemilihan untuk menggunakan metode Rabat Beton pada ruas jalan di Flores Timur untuk wilayah Tanjung Bunga adalah pilihan yg relatif lebih baik.

Karena selama ini pekerjaan jalan dengan metode Hotmix membutuhkan biaya yg besar, disamping pemkab Flotim mengalami kendala pada ruang fiskal yg terbatas. Hotmix butuh 3 miliar per Km, sedangkan Rabat beton sekitar 1,7 -1.8 miliar . Malah

Mengingat daerah Tanjung Bunga yg selama ini terisolir  maka dengan keterbatasan ruang fiskal maka dg penggunaan Rabat Beton ini juga untuk membuka isolasi,  sehingga lalu lintas barang dan jasa dengan kapasitas jalan dan bobot kendaraan yang melewati akan terpenuhi.

Ruas jalan di Tanjung Bunga  rata-rata kondisi jalan nya buruk, ada yg sudah hotmix, ada yg masih jalan tanah atau agregat,  ada yg bekas lapem sejak dulu dan ada juga jalan usaha tani yang bersumber dari dana desa.

Baca Juga: 

Menjadikan Larantuka Kota Bebas Sampah

Selain desa yang terpencil dan karena kondisi alam atau medan yang sulit maka seluruh desa atau 16 desa di Tanjung Bunga belum terkoneksi satu dengan yang lain hingga hari ini.

Dalam perkembangan selama 20 tahun terakhir di Tanjung Bunga

Ada 3 ruas jalan, yakni :

  1. Mulobang – Koten Walang, yang baru sampe di Geken Derang. Ruas Jalan ini belum tersambung dari Arah Lamanabi yg menuju ke Koten Walang.
  2. Mulobang – Waiklibang – Turubean atau jalan yang menyusuri Teluk Hading ke Waibao berbelok ke Danau Asmara hingga ke Lamatutu / Turubean.  

Ruas jalan ini cukup panjang dan relatif lebih baik sekalipun kualitas jalan nya masih belum baik. Catatannya ruas jalan ini baru sampai di desa Lamatutu dusun Tanabele.  

Belum tersambung ke Aran Sina yang diharapkan melewati dusun Wulokolong, sehingga bisa tersambung dengan jalan dari arah Waiklibang-  Lamanabi- Aran Sina.

Baca Juga: 

Serah Punto Dama: Jejak Komunal Iman di Tanah Serani Tua

  1. Ruas Jalan Waiklibang- Lamanabi- Latonliwo – Basira- Aran Sina. Dulunya ruas jalan ini dari Waiklibang ke Lamanabi, namun di tahun 2014 dibuka jalur baru dari Beloaja ke Lamanabi.

Rencana pembangunan ruas jalan jalur Latonliwo 1- Latonliwo 2- Basira adalah lanjutan ruas jalan ini. Dari paparan ini bisa diterima mengapa pembangunan jalan di Tanjung Bunga selalu mengalami kendala.

Mari kita lebih dalam telisik apa saja yang sudah terjadi dgn pekerjaan konstruksi jalan di Flotim.

Dalam 15 tahun terakhir masyarakat Flotim lebih mengenal model pengerjaan jalan dengan metode Hotmix. Kontraktor harus punya modal besar yakni punya peralatan yg baik teristimewa harus punya AMP, tenaga ahli yg tersertifikasi dan juga punya lahan atau jaminan ketersedian bahan baku/queri. 

Jalan negara perbatasan Sikka hingga Watowiti memutar keliling Ile Mandiri relatif baik dengan pengerjaan Hotmix. Begitupun ruas jalan keliling Adonara juga sangat baik sekalipun di daerah Ile Boleng masih ada kendala. Ruas jalan di Solor pun relatif lebih baik.

Baca Juga: 

Confreiria dan Perda Semana Santa di Flores Timur

Kontraktor lokal yang kerja Hotmix masih terbatas, paling ada 3. Yang ada itu kontraktor dari luar, dahulu ada  Karyono dengan  bendera nya, Citra Mandiri Konstruksi yg kerja di Adonara  lalu diganti oleh Bumi Indah yg awalnya bangun pelabuhan Feri di Deri kemudian  kerja jalan di Adonara, namun tahun lalu mereka sudah angkat kaki dari Flotim. 

Masih untuk pekerjaan Hotmix masih ada  kontraktor lokal seperti Renald dgn aliansi perusahaan Rokatenda dan Aweng dengan aliansi perusahaan Valentine hingga perusahaan Talenta yang sekarang hanya khusus sewa alat berat nya. 

Di Adonara, sejak Bumi Indah angkat kaki maka peralatan dan quari nya dibeli oleh perusahaan Global Lembata dari Lewoleba. Di Solor ada Christian tapi sejak kasus Gekeng Deran yg menyeret namanya maka Christian pun tidak terdengar lagi., Bersambung….

Foto ilustrasi dari jasapengaspalan.co.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of