Mengungkap Tradisi Tua yang Menjadi Alfa dan Omega Tradisi Hari Bae Paskah Konga.
Eposdigi.com – Di ufuk barat Kota Larantuka, kira-kira 41 kilometer jauhnya, terdapat sebuah desa yang dalam diamnya memeluk erat warisan iman Katolik dari abad-abad lampau.
Namanya Konga, tanah Serani Tua yang hidup dalam irama warisan Katolik Portugis, sebuah desa kecil yang menolak menjadi biasa, karena di sanalah tradisi disimpan dengan hati, bukan hanya dalam ingatan.
Di Konga, Paskah tidak hanya dikenang sebagai perayaan iman. Ia adalah denyut kehidupan sosial, spiritual, dan budaya yang menuduh dalam sebuah tradisi tahunan yang khusyuk namun hangat: Hari Bae Paskah.
Baca Juga:
Dan sebelum denting lonceng gereja memanggil umat pada Rabu Trewa dan Kamis Putih, sebelum suara mataraka dan genda do memanggil ana-ana kinta, merdomu dan peziarah untuk menjalankan Persisan Jumat Besar memecah keheningan desa, sesungguhnya Tradisi Hari Bae Paskah dimulai dari satu peristiwa penting: Serah Punto Dama Paskah.
Lilin-Lilin yang Menyimpan Amanat.
Serah Punto Dama, secara harfiah berarti penyerahan batang lilin; bukan sekadar upacara simbolis.
Ini adalah ritus pergantian tanggung jawab, momen sakral di mana 24 batang lilin yang disebut Lilin Merdomu—lilin yang juga dikenal dengan Lilin Permesa para Merdomu menjadi cahaya bersama lilin-lilin kecil sepanjang jalan Persisan Jumat Besar dan Maria Alleluia—diserahkan dari para Merdomu Lama kepada Perperu Kinta untuk selanjutnya diberikan kepada Merdomu Baru yang akan menanggung tugas mulia tahun berikutnya.
Dalam forum ini, ditentukan siapa yang bersedia mengambil tanggung jawab Lilin Altar (Sesta-Kinta) dan Merdomu Armida & Pintu Kapela pada Persisan Jumat Besar & Maria Alleluia—untuk pelaksanaan Tradisi Hari Bae Paskah tahun depan.
Baca Juga:
Pana Beto di Flores Writers Festival 2024:, yang Kembali dan yang Pulang, (Bisa) Buat Apa?
Tradisi ini dilangsungkan pada Senin Paskah kedua, di rumah Perpetu Kinta yang tahun itu mendapat giliran sebagai tuan rumah. Di balik nuansa magis dan liturgis itu, tersembunyi struktur sosial warisan leluhur yang masih rapi dan kaya nilai.
Masyarakat Konga masih memegang teguh struktur komunal yang disebut Kinta, yang terbagi dalam tiga kinta—Kinta Sau, Kinta Malaka, dan Kinta Kepala Nagi menjalankan tradisi ini secara bergilir. Setiap kinta dipimpin oleh seorang Perpetu Kinta, dan anggotanya disebut Ana Kinta.
Tradisi Serah Punto Drama Paskah ini menjadi tradisi sentral dalam rangkaian Tradisi Hari Bae Paskah Konga.
Masing-masing Kinta, memiliki tanggung jawab sosial dalam kehidupan sebagai Ana Kinta dan spiritual dalam menjalankan seluruh rangkaian Tradisi Hari Bae Paskah ini. Ana Kinta, adalah nadi penggerak yang membuat tradisi ini hidup dan terus berdenyut dari tahun ke tahun sejak berabad-abad yang lalu.
Para pemimpin komunal yang disebut Perpetu Kinta, didampingi oleh Perpetu Armida, menjaga jejak-jejak iman yang diwariskan dari zaman Kerajaan Katolik Larantuka di bawah pengaruh Portugis sejak berabad yang lalu. Armida-armida yang mereka jaga—Misericordia Sadu,
Baca Juga:
Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot
Pohon Nangka, Pohon Bunga, Pohon Waru, Misericordia, dan Jentera—bukan sekadar titik perhentian dalam Persisan Jumat Besar. Armida adalah altar-altar kenangan, tempat Yesus yang menderita dikenang dalam lantunan lirih O Vos Omnes, Rintihan pilu Eus, dan Seruan duka Signor Deo dari Ana Muji.
Konfreria, dalam Statutanya merupakan ex Officio Raja Larantuka, pewaris otoritas Raja Larantuka, tak hanya menjadi pengatur ziarah, tapi juga penjaga sah tradisi ini.
Procurador Konfreria berdialog dan berkoordinasi dengan Komandan sebagai kepala wilayah, serta para Perpetual Kinta dan Perpetual Armida, dalam simfoni unik antara iman, adat, dan identitas.
Pada Senin pagi hari itu, rumah Perpetual Kinta tak hanya menjadi tempat pertemuan. Ia menjelma menjadi dapur kebersamaan, tempat tangan-tangan ana-ana kinta dan para merdomu berjibaku dalam menyiapkan pangan lokal: rumpu rampe, singkong, pisang rebus, daging babi, jagung titi, dan tentu saja arak kampung yang hangat dan bersahaja.
Baca Juga:
Tak ada hiruk pikuk yang tergesa, hanya kesibukan yang dilingkupi niat baik, pelayanan (serewi nagi) penuh kekeluargaan.
Forum Tradisi: Di Antara Sakral dan Sosial.
Menjelang siang, tenda tradisi dibuka. Meja utama diisi oleh Procurador Konfreria, sang pemegang otoritas tertinggi dalam urusan Devosi Hari Bae Paskah Konga; Komandanti, sang penjaga aturan adat dan wilayah adat Konga; serta Perpetual Kinta, penopang struktur sosial masyarakat desa (Ana Kinta) Konga.
Di depan mereka, telah berjejer 24 batang lilin yang ditancapkan pada 24 botol kaca berisi Arak. Lilin dan Arak ini merupakan satu kesatuan simbol yang tidak terpisahkan dalam Tradisi Hari Bae Paskah Konga. Lilin menjadi simbol Serewi Tuan Deo; sebuah medium persembahan dan permesa (doa) kepada Tuhan secara Iman Katolik.
Sementara Arak merupakan simbol Serewi Leluhur dan Nagi Tana; medium persembahan dari ana kinta atau para merdomu kepada para leluhur dan untuk nagi Konga yang telah memberi begitu banyak hal buat hidup dan kehidupan ana-ana kunta.
Baca Juga:
Menggagas Sumpah Adat Saat Pelantikan Pejabat Publik di Lamaholot
Di depan meja pimpinan forum ini, berjajar para Merdomu Lama, para Perpetual Armida, dan barisan Ana Kinta yang duduk memenuhi ruang tenda dan teras-teras rumah ana-ana kinta yang ada di sekitarnya.
Forum ini dibuka oleh Procurador Konfreria, Komandanti dan Perpetu Kinta. Selanjutnya dibacakan dan penetapan:
Penanggung jawab Sesta-Kinta yang menyiapkan Lilin Altar Kamis Putih dan Jumat Besar.
Para Merdomu Armida (24 orang) menyiapkan lilin dan turo armida.Dan Penanggung jawab Pintu Kapela menyiapkan lilin dan turo di depan gereja.
Namun forum ini tak berhenti pada pergantian nama dan tugas semata. Ia berlanjut pada sesi diskusi dan refleksi bersama tentang pelaksanaan seluruh rangkaian Tradisi Hari Bae Paskah.
Baca Juga:
Dari Selasa Tikam Turo, Rabu Trewa, Kamis Putih, Jumat Besar, hingga Minggu Alleluia, semua dievaluasi.
Bukan untuk mencari kekurangan, tetapi untuk mendapatkan masukan agar pelaksanaan tradisi ini lebih tertata rapi dan tetap sakral di tengah arus zaman yang terus berubah dan perkembangan teknologi yang tidak bisa dihindari.
Seringkali dalam forum ini, muncul suara-suara keprihatinan:
Bagaimana menyelaraskan suasana khusyuk perarakan devosi dengan hadirnya teknologi modern seperti telepon genggam (hp) yang merekam setiap momen tanpa batas?
Bagaimana menata penggunaan alat digital tanpa mengusik kekhusyukan lantunan permesa yang dirapalkan penuh penghayatan oleh para merdomu dan peziarah?
Ini bukan soal menolak kemajuan, tapi lebih kepada soal menjaga ruang kudus tetap kudus—memberi tempat bagi keheningan, bagi rilisnya doa, bagi airmata yang menetes dalam diam ketika meresapi sengsara Kristus yang dipanggil oleh Lakademu melewati armida-armida sepanjang jalan persisam, dalam langkah pelan yang sarat makna.
Baca Juga:
Forum Serah Punto Dama Paskah juga menjadi ruang mendengar suara Ana Kinta tentang permasalahan sosial, harapan masa depan generasi ana kinta, tentang bagaimana tradisi ini harus tetap mengakar, namun tidak tertinggal oleh zaman.
Makan Bersama: Ketika Tradisi Menjadi Tubuh yang Hidup.
Setelah forum usai, menjelang senja, acara makan bersama menjadi titik puncak dalam hangatnya kebersamaan.
Lelaki Ana Kinta duduk berkelompok di bawah tenda, bercengkrama, saling melempar gurau dan cerita, sementara perempuan Ana Kinta menyuguhkan makanan dan arak dari kelompok ke kelompok.
Tak ada yang lebih indah daripada suasana ini: makan dalam keheningan tradisi, minum dalam semangat gotong royong, dan tersenyum dalam bayang cahaya lilin yang akan kembali dinyalakan tahun depan.
Baca Juga:
Di tengah malam yang semakin larut, satu per satu undur diri, dan tenda tradisi kembali sunyi, menyimpan kisah hari itu dalam lipatan waktu dan iman. Keesokan harinya, ana-ana kinta kembali ke rutinitas keseharian mereka hingga Tradisi Hari Bae Paskah kembali dijalankan.
Serah Punto Dama Paskah Konga bukan sekadar warisan. Ia adalah nadi dan napas ana kinta. Sebuah ritus yang memadukan iman, adat, sosial, dan budaya dalam satu tarikan nafas panjang yang penuh cinta.
Jika suatu hari nanti Anda menginjakkan kaki di Flores Timur, sempatkan untuk datang ke Konga saat Hari Bae Paskah. Bukan hanya melihat, tapi mari ikut merasakan—bagaimana lilin, rumpu rampe, dan arak menyatukan jiwa-jiwa dalam devosi yang begitu dalam.
Selami tradisi tua ini hingga ke jiwanya. Duduklah bersama para Ana Kinta, dengarkan permesa para merdomu, resapi doa para peziarah, maka Anda akan merasakan detak dari tradisi yang tak hanya hidup, tapi juga menghidupi iman ana-ana kinta.
Foto dari kalderanews.com
Leave a Reply