Eposdigi.com – Di peringkat 10 besar terbaik universitas dunia, menurut lembaga peringkat QS World University misalnya, ada 4 universitas dari Amerika Serikat (AS) yang bertengger di sana yakni ada Massachusetts Institute of Technology di urutan pertama, ada Harvard University di urutan keempat, ada Stanford University di urutan ke-6 dan ada California Institute of Technology di urutan ke-10.
Reputasi Universitas AS inilah di antaranya yang menyebabkan banyak mahasiswa terutama dari Asia, Eropa, dan Afrika belajar di sana, meskipun universitas terbaik tersebut belum tentu menjadi tujuan belajar mereka. Selain itu, kesempatan riset yang tersedia, kesempatan membangun jaringan internasional dan prospek karir di masa depan, menjadi alasan lain, mengapa mereka belajar di AS.
Dari Asia, India, dan China mendominasi dalam hal jumlah mahasiswa yang dikirim ke AS untuk belajar. Jumlah mahasiswa dari India berada di posisi paling banyak yakni 331.600 orang mahasiswa. Sedangkan China mengirim 277.400 mahasiswanya belajar ke AS. Kedua negara ini menempati posisi tertinggi, mengirim mahasiswa belajar di AS.
Baca Juga :
Deep Learning Harusnya Menjadi Wilayah Domain Guru Bukan Domain Menteri Pendidikan
Posisi ketiga ditempati oleh Korea Selatan yakni 43.100 orang. Di bawah Korea Selatan ada Taiwan dan Vietnam yang masing-masing mengirim 23.100 dan 22.100 orang mahasiswanya belajar di AS. Di bawah mereka ada Bangladesh, ada 17.100 mahasiswa, Nepal ada 16.700 mahasiswa, Saudi Arabia ada 14.800 mahasiswa, dan Jepang dengan 13.600 jumlah mahasiswa.
Jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS berada di bawah negara-negara yang disebutkan di atas. Bahkan dibandingkan dengan negara Asia seperti Pakistan, jumlah mahasiswa Indonesia masih kalah banyak yakni 11.100 banding 8.100. 11.100 Pakistan dan 8.100 mahasiswa Indonesia.
Jumlah Mahasiswa Indonesia yang belajar di AS cuma lebih banyak sedikit dari Hongkong yakni 5.600 mahasiswa. Padahal jika dikaitkan dengan perkembangan negara-negara, seperti China, India dan Vietnam, pengembangan sumber daya manusia menjadi salah satu faktor pemicunya.
Baca Juga:
Anak yang Dididik oleh Ayah dan Ibu dalam Keluarga yang Utuh Lebih Percaya Diri
Perkembangan penguasaan hak paten yang sangat pesat dari China sangat berkaitan dengan studi Master dan Doktor ke Amerika Serikat dan Eropa. Pendampingan dalam proses menemukan masalah tesis dan disertasi dan proses riset ketika studi di Universitas Amerika serikat dan Eropa kemudian diteliti lebih lanjut setelah mereka lulus hingga mereka memperoleh paten baru.
Tahun 2023 misalnya, China berhasil mengajukan paten sebanyak 1,7 juta, ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah paten yang diajukan oleh Amerika Serikat, yang hanya mencapai 600.000 paten. Capaian ini menjadi faktor pendorong penting bagi perkembangan industri dan tentu saja perkembangan ekonomi China.
Untuk pertumbuhan ini China mengeluarkan anggaran pendidikan yang sangat besar yakni 5.000 triliun rupiah untuk pendidikan dasar dan menengah, dan 3.900 triliun rupiah untuk pendidikan tinggi, termasuk mengirim talenta terbaiknya untuk belajar di Amerika Serikat dan Eropa, dan zero korupsi.
Baca Juga:
Implementasi Yang Lateral Dari Keputusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pendidikan Gratis
Jika dibandingkan, jumlah anggaran pendidikan China lebih besar dari APBN Indonesia tahun 2025 yang ditargetkan hanya sebesar 3.005,1 triliun rupiah. Anggaran pendidikan tinggi bahkan lebih besar dari rencana APBN Indonesia tahun 2025. Dengan anggaran yang besar ini, apa lagi zero korupsi, pemerintah China memang leluasa mendorong pertumbuhan pendidikannya.
Untuk memacu pertumbuhan pendidikan, sebagai landasan memasuki era Indonesia emas di tahun 2045, sangat diperlukan kemauan politik dari pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan pembangunan sumber daya manusia. Jika tidak, pertumbuhan Indonesia bahkan bisa kalah dari negara seperti Vietnam, Bangladesh, bahkan Pakistan.
Tulisan ini sebelumnya tayang di depoedu.com, kami tayangkan kembali dengan izin dari penulis / Foto ilustrasi dari tempo.co
Leave a Reply