The Good Samaritan Code Dan Manajemen Pelayanan RSUD Larantuka

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Untuk Memudahkan Digiers, Tulisan ini kami potong menjadi tiga tulisan. Tulisan ini yang Pertama

Eposdigi.com – Tulisan ini sengaja dibuat terkait turunnya status atau tipe RSUD Dr. Hendrikus Fernandez dari tipe C ke D yang kita ketahui dari liputan media hingga press release yang dikeluarkan oleh Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen.

Juga sengaja saya tulis kan ini sebagai respon  terkait pelayanan rumah sakit di Larantuka yang menjadi keluhan hampir semua orang di Flores Timur khususnya di Larantuka. Semua memprotes, malah ada yang bilang kalau sakit parah jangan bawa ke RSUD Larantuka karena sama dengan serahkan nyawa. 

UGD yang semrawut. ICU yang tidak maksimal berfungsi. Perawat yang jutek dan tidak beri solusi. Obat yang tidak ada. Urusan  BPJS yang belum optimal. Tempat tidur yang kurang. Dokter yang sering tidak ada.  Minim nya dokter spesialis. Sedih mendengarnya. Begitu miris. 

Untuk itu kita harus memperbaiki nya bersama. Secara cepat dan terukur. Kita butuh pemahaman yang benar dan bersama. 

Baca Juga:

Menjadikan Larantuka Kota Bebas Sampah

Sebagai orang yang lahir dan besar dalam lingkungan medis karena Bapa saya Mantri Krispi Lewar, dia berpengalaman menjadi Mantri Kesehatan tamatan Lela, lalu lanjut Sekolah Penilik Kesehatan di Yogyakarta belajar laboratorium dan rekam medis tahun 1953-1957,  maka dia jadi guru perawat tanpa diploma guru perawat formil.

Beliau juga bapa Asrama saat sekolah perawat dibuka di RSUD Larantuka tahun 1969-1978 dan mama saya Mantri Otha Hurint adalah perawat lulusan sekolah perawat di Lela, lalu lanjut sekolah perawat di RS Stella Maris Makassar tahun 1955-1959, beliau pernah kepala ruangan dan puluhan tahun kepala unit rawat jalan di RSUD Larantuka. 

Dahulu kami tinggal di kompleks RSU Larantuka di Lokea, sekarang sudah jadi Taman Kota.

Kebetulan saya ke Jakarta tahun 1987, tinggal dengan keluarga Dr Hendrikus Fernandez, mantan direktur RSU Larantuka dan kepala dinas Kesehatan kab. Flores Timur  tahun 1965-1972, lalu jadi anggota DPR, jadi Direktur RS WZ Yohanes Kupang, Kepala Dinas Kesehatan NTT hingga gubernur NTT. 

Anak nya dokter Andre Fernandes saat itu kuliah di Fak Kedokteran UI dan juga ambil spesialis penyakit dalam di UI.

Baca Juga:

Belajar Dari Lembata untuk Pekerjaan Konstruksi Jalan di Flores Timur

Catatan tambahan istri saya Rini Keraf adalah manajer keuangan pada grup RS Hosana Bekasi yang pernah membawahi 3 RS dan 8 klinik. Jadi minimal saya sedikit tahu tentang manajemen kesehatan dan manajemen rumah sakit. Tahun 2010 saya pernah usulkan agar nama dokter Hendrikus Fernandez dijadikan nama RSUD Larantuka.

Lalu apa hubungan nya antara manajemen pelayanan RSUD dengan cerita injil Lukas tentang Orang Samaria yang baik hati, yang sudah sering kita tahu dan hari Minggu ini jadi bacaan Injil yang kita dengar. 

Ini lah dasar pelayanan gereja dalam misi pelayanan  kesehatan khususnya pelayanan di rumah sakit sejak dahulu kala. Prinsip melayani sesama dengan kasih sayang  tanpa memandang perbedaan SARA malah musuh sekalipun dilayani. 

Ini adalah prinsip utama pelayanan. Sebagai catatan orang Samaria itu musuhnya orang Yahudi.  Mengapa demikian , karena mereka, siapapun dia adalah sesama kita.  The Good Samaritan Code menjadi dasar gereja dalam pelayanan kesehatan rumah sakit sejak awal abad pertama hingga kini di zaman modern.

Baca Juga:

Serah Punto Dama: Jejak Komunal Iman di Tanah Serani Tua

Gereja menjadi institusi pertama dalam peradaban modern dengan pendekatan kasih sayang pada sesama yg melakukan management pelayanan rumah sakit sejak permulaan peradaban ini dimulai pada abad pertama.

Kembali ke RSUD Larantuka. Sejak tahun 1913, maka pemerintah Hindia Belanda di Resident Timor atau NTT sekarang, hadir lewat bleid yang dikenal dengan nama Flores Soemba Timor Regeling yakni semacam sebuah pemberian otonomi khusus kepada Misi Katolik dan Zending Protestan untuk urus bidang pendidikan, kesehatan dan infrastruktur dasar di Residen Timor, termasuk swapraja Larantuka juga swapraja Adonara yg kemudian menjadi kabupaten Flores Timur.

Setelah wabah pandemi yang melanda dunia tahun 1917-1918 yang kita kenal dengan Flu Spanyol, Misi Katolik lewat suster-suster Fransiskanes  tahun 1918 hadir dan mendirikan Rumah Sakit  St. Elisabeth di Lela dan juga membuka pendidikan dasar dan lanjutan keperawatan atau Verpleging School.

Saat itu kita kenal dengan sebutan Verpleger atau perawat. Atau lebih dikenal dengan Mantri Cacar atau juga di setiap RS ada model pendidikan yang dikenal dengan Basic Medical Training.

Baca Juga:

Karangan Bunga: Antara Ucapan Selamat, Iklan dan Sampah

Cikal bakal pendidikan perawat di Lela lah yang kemudian menjadi dasar manajemen kesehatan termasuk rumah sakit di dalamnya. Maka tahun 1932-1935 dibangun lah Rumah Sakit di kota Larantuka, tepat nya di Lokea, sekarang lokasi itu menjadi Taman Kota.

Rumah Sakit yang ada di Sarotari itu baru dibangun tahun 1983 dan beroperasi tahun 1985 di atas lahan seluas 3, 6 hektar. 

Dengan modal tenaga dari  sekolah perawat dasar di Lela dan supervisi dari dokter Belanda salah satu nya dokter Hillers di Ende dan Maumere serta dokter Weltenburg yg bertugas di Larantuka maka mulai beroperasi rumah sakit itu . 

Hal menarik adalah seorang perawat senior namanya nenek Mantri Centi Kolin yang bersekolah di RS Elisabeth Lela lalu melanjutkan di RS RKZ Surabaya hingga mendapatkan diploma keperawatan. 

Baca Juga:

Menyemai Asa Perpustakaan Flores Timur Menjadi Etalase Kebudayaan dan Kearifan Lokal Lamaholot

Catatan penting lainnya Nene Centi Kolin termasuk pemuda dari Flores yang mengikuti Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. Beliau jadi kepala Rumah Sakit Larantuka dan kepala dinas kesehatan Flores Timur hingga tahun 1967.

Generasi perawat senior lainnya adalah nenek Lukas Boleng, nene Bang Carvalho, nenek Koto Temu, Nene Tewo de Ornay. Yang menarik mereka semua tinggal dan berasal dari Pante Besar salah satu kampung di Larantuka hasil asimilasi antara budaya Lamaholot dan budaya Melayu Nagi.

Salah satu orang Larantuka yakni, Nene Nunu Fernandez Aikoli jaman Hindia Belanda sudah jadi kepala administrator di RS Elisabeth Lela yang kemudian pindah ke Makasar dan balik jadi kepala Rumah sakit di Ende hingga pensiun.

Hasil didikan dan supervisi dari Dokter Weitenbrug dan Mantri Centi Kolin yang kirim siswa untuk sekolah perawat di  Lela,  maka muncullah generasi perawat atau mantri pada generasi kedua yakni: 

Baca Juga:

Vero Lamahoda: Konservasi Mata Air Kita Belum Berkeadilan

Mantri Wens Fernandes yang lanjut sekolah di  RKZ Surabaya, Mantri Krispi Lewar sekolah Penilik Kesehatan di Yogyakarta, Mantri Nasu sekolah kesehatan Mata di Jakarta, Mantri Tinus da Gomes sekolah malaria di Surabaya, mantri Domi Lamoren sekolah kesehatan lingkungan/sanitasi di Bandung.

Pada tenaga wanita baik perawat dan bidan juga begitu. Setelah dari Lela mereka lanjut sekolah di Makassar dan Jawa.

Mantri Otha Hurint di Stela Maris Makassar, bidan An Labina di RS Carolus Jakarta, bidan Agnes Liwu Manuputi dan bidan Mia Pora di Carolus Borromeus Bandung dan kemudian dilanjutkan bidan Esi Keneka dan bidan Bibi di RKZ Surabaya.

Juga ada Mantri Lukas Tura di Waiwerang dan Mantri Sabon Paun di Waiwadan.  Setelah itu masih dalam era yang berdekatan ada Mantri Carolus Lamak di Waiklibang dan Mantri Matutina di Konga, Mantri Blasi Kolin di Ritaebang. Untuk di Lembata dengan keberadaan RS Bukit di Lewoleba bisa menutupi kekurangan tenaga medis di Lembata.

Baca Juga:

Belajar Senyum Untuk Pariwisata Flores Timur

Perawat itu hidupnya  disiplin. Itu karena mereka mereka menempuh pendidikan dg cara yg sangat disiplin ala Spartan di Asrama.

Mereka butuh cepat, terukur dan tangkas bertindak. Maka tidak heran kita lihat para perawat itu terkesan galak. Tapi mereka harus punya kelembutan hati karena mereka harus punya kepekaan bertindak. Harus solider kepada sesama seperti semangat orang Samaria yang baik hati.

Kerjasama antara Misi Katolik dan pemerintah sejak jaman Hindia Belanda hingga kabupaten Flores Timur itu berlangsung seperti pemeriksaan Rontgen dan klinik gigi di Klinik milik susteran SSpS Balela. Juga pembukaan RS Bukit di Lewoleba dan RS Kusta St Damian di Lewoleba. Bersambung…

Foto dari porosnttnews.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of