Eposdigi.com – Pengalaman hari ini sungguh membuka mata. Sesuatu yang selama ini dianggap biasa bagi banyak orang, termasuk saya, ternyata bisa menjadi sesuatu yang tidak sederhana seperti yang terlihat.
Hari ini kami mendapat undangan dari sekolah TK Strada Bhakti Nusa tempat anak kami mulai bersekolah. Undangan adalah untuk Asesmen Diagnostik anak-anak kami sebelum mereka mulai menghadiri kelas yang baru akan diselenggarakan pada Senin, 14 Juli, mendatang.
Asesmen Diagnostik adalah sebuah penilaian atau pengumpulan data untuk mengidentifikasi kompetensi, kekuatan, kelemahan para siswa atau murid seusia anak-anak kami ini.
Asesmen ini tentu sangat membantu sekolah terutama para guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan kompetensi para anak-anak didik ini.
Baca Juga:
Mengenal Tahapan Perkembangan Karakter Anak Berdasarkan Usia
Secara spesifik asesmen ini bertujuan untuk memberi gambaran yang jelas mengenai kemampuan anak di kelas sehingga para guru dapat mengidentifikasi tingkat pemahaman anak-anak.
Tingkat pemahaman yang mau dipetakan dari asesmen ini adalah agar para guru cukup memiliki data mengenai apakah anak-anak sudah paham, setengah paham dan/atau belum paham mengenai kegiatan pembelajaran yang nanti akan diberikan.
Tentu saja, bukan anak-anak usia 3-5 tahun ini yang mengisi asesmennya. Kami para orang tua yang akan mengisi lembar kuesioner ini. Tapi bukan bagian ini yang hendak saya ceritakan di sini.
Kami bertiga, saya, mama dan anak kami, tiba di sekolah 30 menit sebelum jadwal asesmen dimulai. Sesuai jadwal asesmen ini dimulai jam 10.00 hingga 11.00 waktu sekolah.
Baca Juga:
Karena belum dimulai, anak kami memiliki cukup waktu untuk bermain bersama teman-temannya di playground sekolah. Cerita ini dimulai dari sana.
Tentu saja, yang ada di kepala saya adalah harapan-harapan. Mulai dari dia membuka sepatunya sendiri, menyimpannya di rak sepatu yang sudah disediakan, kemudian menyapa guru-guru dan teman-temannya.
Dia cukup berhasil. Membuka sebelah sepatunya. Sebelah lagi dibantu mamanya. Kemudian menyimpan sepatu di rak sepatu. Belum bisa sendiri, karena itu dibantu gurunya. Harapan saya adalah dia mengikuti instruksi gurunya, fokus, tertib mengikuti instruksi sederhana ini.
Nyatanya, hanya ekor matanya saja yang ada di rak sepatu. lebih banyak fokusnya ada di playground. Dan petualangan besar kemudian dimulai dari sana.
Setibanya dia di playground, ekspektasi lain kemudian memenuhi kepala saya. Bermain dengan tertib, mengantri permainan, tidak berebutan dengan teman-teman nya yang lain, tau mana tempat naik, mana tempat untuk meluncur turun. Nyatanya? Hadewww…
Baca Juga:
Masih Tentang Bagaimana Membentuk Rasa Percaya Diri Pada Anak
Saya jelas gelisah. Ingin mengintervensi setiap yang dia mau lakukan. Jelas. Menahan diri untuk tidak mengoreksi apa yang ia lakukan, jelas bukan perkara mudah. Apalagi dia tahu bagaimana menghindar dari apa yang namanya “kontak mata”.
Sebagai orang tua, ekspektasi mengenai gambaran “anak baik” itu pasti listnya panjang banget. Demi validasi “mereka berhasil mendidik” anak mereka. Berat memang. Apalagi kepada guru-guru yang kami kenal dan mengenal kami secara personal.
Tapi orang tua mana yang tidak mengharapkannya ekspektasi dan validasi demikian ini? Semoga ini bukan sifat permisif membela diri.
Bel kemudian berdering. Saatnya anak-anak memulai sesuatu yang serius. Ekspektasi lainnya kemudian beruntun muncul. Intinya tentang “anak baik” tadi.
Mulai dari berbaris. Berdiri tenang, mengikuti barisan dan mendengar dan mengikuti instruksi guru saja rasanya jadi petualangan yang luar biasa. Apalagi soal instruksi spesifik semisal ‘lancang depan, siap grak, hormat grak dan sikap posisi tangan kanan di dada saat menyanyikan mars sekolah”. Itu instruksi spesifik. Dan sekali lagi…haduwwww…
Baca Juga:
Petualangan lainnya adalah masuk ke dalam kelas. Mulai dari menjawab “namanya siapa” salim Bu Guru dan dengan tertib melangkah ke dalam kelas kemudian mengambil posisi duduk.
Di dalam kelas, masih ada instruksi lain yang diberikan. Dan banyak. Tapi ini semua adalah hal hal sederhana yang seharusnya menjadi kebiasaan. MULAI DARI RUMAH. Ya.. ini sengaja ditulis dengan HURUF KAPITAL, sebagai refleksi kami sebagai orang tua.
Menyaksikan semua ini, tepat di depan mata, saya kemudian berbisik ke mamanya, “ternyata sangat tidak mudah menjadi guru bagi anak-anak seusia ini”
Saya sekali lagi melihat ini berdasarkan pada seberapa keras menahan keinginan untuk meyakinkan diri bahwa anak kami ‘siap’ sekolah. Yang tentu saja, kata “siap” ini berarti sebaris kriteria yang datang dari keinginan saya sebagai orang tua.
Baca Juga:
Orang Tua dan Guru, Lakukan Langkah Ini Untuk Membentuk Self Control pada Diri Anak
Apakah keinginan saya ini selaras dengan kebutuhan anak? Atau sesuai dengan tingkat tumbuh kembang mereka? Soal Fokus, Soal bertahan berdiri siap dalam barisan, soal fokus mendengarkan instruksi guru.
Yang lebih mendebarkan adalah saat mereka bermain bersama. Saya sangat gelisah ketika tiba waktunya mereka memilih mainan, bermain dengan teman-temannya. Ini artinya ada barisan ekspektasi yang keluar dari isi kepala begitu saja.
Cukup toleran untuk tidak merebut mainan? Kesediaan untuk berbagi dan main bersama teman-teman? Fokus? Tidak cepat bosan?
Setelah banyak drama, akhirnya kembali kepada gendongan mamanya, tidak mau turun, tidak mau kembali ke kelas bahkan hingga kelas usai.
Kabar baiknya adalah saya coba menghibur diri dengan pemakluman “dia tidak sendiri.” Ada banyak teman-temannya yang juga dengan drama yang hampir sama.
Baca Juga:
Mengenal 3 Tipe Temperamen Anak dalam Kelas. Apa Bedanya dengan Kepribadian?
Keinginan untuk mendapatkan validasi “orang tua yang berhasil” dari sederet kriteria “anak baik” pada anak seusia TK ini kemudian membuat saya sadar bahwa “begitu tidak mudahnya, menjadi guru bagi anak-anak seusia mereka.
Saya begitu mudah menyerah menghadapi tingkah anak kami. Begitu cepat kehilangan kesabaran. Sementara melihat para guru yang rela memberi perhatian secara personal kepada masing-masing anak.
Di dalam kelas yang besar, dengan karakter anak yang beragam, tentu sangat tidak mudah – berangkat dari ukuran kesabaran saya – bagi para guru ini menyelenggarakan kelas TK Apalagi memikirkan soal tiga hingga empat jam lamanya, setiap hari, “menghadapi” tingkah anak-anak ini.
Ini bukan soal tanggung jawab profesional mereka sebagai guru. Lebih dari itu. Apalagi jika berkaitan dengan sederet kriteria “anak baik”, sehingga kadang membebankan begitu banyak tugas kita sebagai orang tua, ke tangan guru-guru ini.
Baca Juga:
Apalagi jika sebagian dari kita masih berangkat dari pemikiran kolot. “Anak berkarakter baik adalah hasil didikan orang tua”. Sebaliknya, jika anak belum memenuhi kriteria baik itu, adalah “kegagalan guru dan sekolah”
Sungguh tidak mudah. Bahkan jika itu adalah tanggung jawab profesional mereka sebagai guru. Saya kemudian lebih melihat bahwa panggilan mereka untuk mengambil bagian dari tumbuh kembang anak-anak kita-lah yang membuat mereka setia memilih profesi ini.
Ditengah segala keterbatasan, alih-alih menyerahkan tanggung jawab ke pundak para guru, sungguh seharusnya sebagai orang tua kita bekerjasama secara aktif bersama sekolah, dan menjadi bagian dari perkembangan anak-anak mulai dari mereka di tingkat Taman Kanak-kanak hingga jenjang pendidikan lebih tinggi selanjutnya.
Baca Juga:
Dampak Buruk Brain Rot pada Kesehatan Mental Anak dan Remaja
Ketika pamit akan pulang, saya kemudian mendekat kepada salah seorang guru yang tertangkap mata beberapa kali membujuk dan menggendong anak kami.
Permintaan maaf dari kami, sekaligus harapan semoga para guru tidak “kapok” pada tingkah anak-anak ini rasanya belum cukup mewakili kegelisahan bahwa sebagai orang tua masih memiliki segudang PR untuk menyiapkan anak-anak memasuki lingkungan sosial bernama sekolah, pada jenjang manapun.
Terima kasih banyak dan semoga mereka, para guru, pada jenjang pendidikan manapun, diberi kesabaran dan dan diberkati dengan kesehatan dan kebahagiaan, atas kesabaran dan niat baik mereka, mengambil tanggung jawab mendidik setiap generasi anak bangsa. Tuhan memberkati Anda dan keluarga dimanapun berada.
Leave a Reply