Eposdigi.com – Setiap negara, termasuk Indonesia ingin memiliki ketahanan energi yang cukup. Apalagi jika sampai pada swasembada energi. Melepaskan diri dari ketergantungan pada pasokan sumber energi dari negara lain.
Saat ini, kebanyakan sumber energi masih diperoleh dari energi fosil. Sayangnya, proses pembakaran energi fosil ini menyisakan buangan yang mencemari lingkungan. Lagipula energi fosil ketersediaannya terbatas. Karena kebutuhan akan sumber energi fosil ini tinggi maka suatu saat akan habis juga.
Karena itu banyak negara termasuk Indonesia, mulai giat mencari dan mengupayakan berbagai sumber energi alternatif. Bahasa kerennya: sumber Energi Baru Terbarukan (EBT). Intinya, EBT menjadi jalan keluar untuk mengatasi berbagai keterbatasan yang ada pada energi fosil.
Baca Juga:
Lontar Lamaholot: Membangun Ekosistem Unggul dari Alam untuk Dunia
Selain energi surya dan sumber energi dari angin, di Indonesia kita sering mengenal sebutan B20, B30 bahkan B50. Indonesia kini sudah mengaplikasikan B30 hingga B40, Tahun –tahun mendatang harapannya Indonesia bisa merealisasikan B50.
B20 hingga B50 adalah istilah yang merujuk pada Bahan Bakar yang merupakan campuran Biodiesel dengan Solar. Istilah kerennya adalah Biosolar. Angka setelah huruf B merujuk pada besaran prosentase bahan bakar nabati yang dicampurkan ke solar.
B20 artinya ada campuran 20 persen bahan bakar nabati dengan solar sehingga menghasilkan biosolar B20. Begitu juga dengan prosentase campuran biosolar lainnya.
Saat ini kita di Indonesia menggunakan sumber bahan bakar nabati dari minyak sawit untuk menghasilkan biosolar. Sedangkan untuk bioetanol sebagai campuran bahan untuk menggantikan bensin belum banyak dikembangkan.
Baca Juga:
Pohon Lontar: Dari Minuman Tradisional ke Katalis Ekonomi Berkelanjutan di Flores Timur
Barangkali lebih kepada kesiapan industri dan ketersediaan bahan baku yang melimpah. Kita adalah salah satu penghasil minyak sawit mentah (CPO) dalam perdagangan global. Karena itu biosolar barangkali lebih mudah dari sisi bahan bakunya dibandingkan dengan bioetanol.
Padahal Indonesia juga sangat kaya dengan sumber-sumber bioetanol. Mulai dari jagung, singkong, tebu, ubi jalar serta sorgum digadang-gadang sebagai sumber bioetanol potensial.
Brasil misalnya, menggunakan tebu sebagai penghasil gula sekaligus Bioetanol terbesar di dunia bersama dengan Amerika Serikat. Dari tebu kita bisa swasembada gula sekaligus swasembada energi.
Bagaimana dengan Indonesia? Faktanya bahwa kita masih mengimpor gula dari luar. Ini secara jelas menunjukan bahwa produktivitas tanaman tebu kita masih belum bisa mensuplai kebutuhan gula tanah air apalagi bioetanol.
Baca Juga:
Bukan berarti kita pesimis kemudian memunggungi tebu sebagai penghasil bioetanol. Butuh kebijakan yang secara politis haru diambil. Tebu bisa saja menjadi pintu masuk bagi swasembada gula sekaligus swasembada energi.
Selain tebu, kita juga punya banyak tanaman lain penghasil bioetanol seperti agung dan dan sorgum.Kedua hal ini, baik jagung maupun sorgum tumbuh subur di Indonesia, bahkan tumbuh berhasil bertahan hidup ditengah berbagai tantangan iklim.
Daerah dengan panas ekstrem seperti NTT juga bisa menghasilkan panen jagung dan sorgum yang tidak jelek-jelek amat. Sebagai sumber pangan dan pakan, kita sudah tidak lagi meragukan jagung dan sorgum.
Namun itu tidak cukup. Butuh usaha dan kemauan politik yang serius untuk membuat jagung dan sorgum, sumber pangan, pakan sekaligus sumber energi dari bioetanol yang dihasilkan oleh jagung dan sorgum, serta tanaman lainnya.
Baca Juga:
Nmun NTT tidak hanya punya jagung dan sorgum. Selain juga rumput laut, Flores Timur juga memiliki pohon aren yang disebut sebagai harta karun sumber bioetanol terbaik.
Pohon aren saat ini lebih terkenal melalui industri makanan dan minuman. Gula aren ditengarai sebagai gula yang sehat. Pada saat yang sama nira dari pohon aren adalah penghasil bioetanol.
John Anis selaku CEO pertamina NEW and Renewable Energy (PNRE) pada kesempatan baru-baru ini mengungkapkan bahwa potensi 2 juta hektar hutan aren bisa dioptimalisasi untuk mendorong pengembangan bioetanol dari aren.
Apalagi, kata Jhon seperti dilansir oleh cnbcindonesia.com( 16.05.2025) mengungkapkan bahwa bioetanol yang dihasilkan oleh aren per hektar per tahun, unggul 4 sampai 5 kal jika dibandingkan dengan bioetanol yang dihasilkan oleh tebu maupun jagung.
Baca Juga:
Emas Hijau Milik Indonesia ini Lebih Berpotensi Cuan Dibandingkan Nikel
Flores Timur dan NTT pada umumnya, juga mengenal lontar sebagai penghasil gula lontar sekaligus arak. Ini artinya bahwa nira lontar sama seperti nira aren juga bisa dikembangkan sebagai penghasil bioethanol.
Tantangan menuju ke arah sana pasti sangat berat. Kita memiliki hutan lontar yang tumbuh alami di tanah-tanah kita di Flores Timur dan NTT. Tinggal mau dikembangkan ke arah mana. Untuk swasembada gula kah atau swasembada energi melalui bioethanol?
Atau misalnya kita bisa melirik sorgum yang sesuai kondisi geografis lebih toleran terhadap iklim NTT. Sorgum adalah paket komplit, dari pangan, pakan hingga energi.
Karena tantangan untuk mengembangkan tanaman lontar, sorgum bahkan rumput laut yang merupakan harta karun sumber pangan, pakan dan sekaligus sumber energi memerlukan kemauan dan konsistensi yang kuat untuk mewujudkannya.
Baca Juga:
Sebab jika potensi sebesar ini dibiarkan tidak serius diurus maka kita di Flores Timur bahkan NTT masih akan menghadapi stigma provinsi termiskin di Indonesia, tanpa upaya serius untuk meretas jalan keluar atas banyak potensi kita ini.
Foto ilustrasi dari infosawit.com
Leave a Reply