Tidak Hanya Mengurangi Stres, Musik Terbukti Meningkatkan Kecerdasan

Hobi
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Apakah benar musik dapat meningkatkan kecerdasan dan mempengaruhi kesehatan mental dan Fisik? Mereka yang mendengarkan lagu sendu, tiba-tiba merasa sedih, tanpa alasan atau pemicu yang jelas. Demikian juga mereka yang mendengarkan lagu dengan ritme cepat dan melodi yang ceria merasa menjadi lebih bahagia.

Musik terbukti dapat meningkatkan kecerdasan dan mengurangi stress, dan serta memberikan berbagai manfaat lainya untuk kesehatan mental dan fisik.

Dampak Positif Musik

Beberapa penelitian mengenai manfaat musik bagi kecerdasan manusia menyimpulkan bahwa: Pertama musik dapat meningkatkan kinerja kognitif. Musik latar saat belajar atau bekerja dapat membantu meningkatkan fokus dan kecepatan proses informasi.

Baca Juga:

Grup Musik Metal Voice of Baceprot Masuk Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2024

Yang kedua music dapat memperkuat memori artinya terapi melalui mendengarkan musik terutama musik klasik, membuktikan bahwa musik membantu memperlambat penurunan fungsi otak dan pada saat yang sama meningkatkan daya ingat pada seseorang.

Yang ketiga meningkatkan kreatifitas. Musik dapat juga merangsang otak untuk berpikir lebih kreatif dan inovatif.

Berikutnya, yang keempat: Musik juga dapat menurunkan stres yang berlebihan misalnya seperti menurunkan hormon stres, musik yang menyenangkan dapat memperlambat detak jantung, menurunkan tekanaan darah, dan mengimbangkan hormon steres, dapat juga meningkatkan mood.

Mendengarakan music favorit di pagi hari atau sambil berolahraga dapat bisa memberikan suasana hati yang baik dan mengurangi resiko stress sepanjang hari.

Baca Juga:

Keistimewaan Seni Musik yang Disampaikan Melalui Caniband

Kelima: Membantu relaksasi dan meditasi. Music juga dapat meningkatkan relaksasi saat tidur,  dapat meningkat kualitas tidur yang nyaman dan membantu mengatasi insomnia.

Georgi Lozanov seorang psikiatri dan pendidik dari Bulgaria, pada tahun 1950-an menyimpulkan bahwa musik dapat menyelaraskan tubuh dan otak. Ia khususnya, membuka kunci emosional untuk memori super sistem limbik otak.

System ini tidak hanya mengelola emosional tetapi juga menghubungkan otak sadar dengan otak bawah sadar (Revolusi Cara Belajar: hal 311).

Sumber yang sama juga mengutip buku Accelerated Learning With Music: A Trainer’s Manual karya Terry Wyler dan Douglas Webb menegaskan bahwa “Musik adalah jalan tol menuju memori.”

Baca Juga:

Ai Benga Olha dan Kritik Sosial

Musik bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijak. Tidak hanya digunakan dalam belajar, music pun juga merupakan alat terapi kesehatan baik fisik maupun kesehatan mental.

Musik Untuk Terapi

Terapi musik secara sadar dan terstruktur misalnya pendekatan terapeutik yang menggunakan musik untuk meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan emosional. Terapi ini cocok untuk mengatasi depresi, kecemasan, stres, dan gangguan tidur.

Terapi ini tidak memerlukan latar belakang musik—siapa pun bisa ikut serta. Selain itu ada banyak terapi music yang dapat di coba, antara lain:

Terapi musik analitik: Ekspresi diri melalui improvisasi musik, Terapi musik perilaku kognitif Menggabungkan musik dengan teknik CBT – Cognitive Behavioral Therapy – untuk memodifikasi perilaku.

Baca Juga:

Serial Film Baru Netflix Untuk Ditonton Orang Tua dan Guru

Terapi musik komunitas: Menggunakan musik untuk membangun koneksi sosial dan perubahan komunitas. Terapi Musik untuk Menurunkan hormon stress. Melalui musik, terbukti dapat menurunkan hormon stres (kortisol) hingga 65%, meningkatkan dopamin dan serotonin yang berdampak langsung untuk memperbaiki suasana hati menjadi lebih baik.

Musik terbukti membantu fokus, relaksasi, dan pemulihan emosional, meningkatkan keterampilan sosial, komunikasi, dan ekspresi diri.

Untuk tujuan praktis, mendengarkan musik juga memerlukan trik. Buat playlist musik instrumental untuk pagi hari agar lebih tenang, Gunakan musik sebagai latar saat meditasi atau relaksasi.

Pada saat yang sama hindari penggunaan musik secara implisit atau berlebihan saat stres—alih-alih, gunakan musik yang sesuai dengan suasana hati dan tujuan.

Baca Juga:

Ternyata Dunia Semakin Aneh, dan Kita Bisa Jadi Bagian dari Keanehan Tersebut

Jika kita merasa penggunaan musik mulai mengganggu aktivitas atau emosi, cobalah untuk menjadwalkan waktu mendengarkan musik secara sadar, atau konsultasikan dengan terapis musik profesional untuk pendekatan yang lebih terarah.

Namun Musik Juga Bisa Membawa Pengaruh Negatif

Walaupun music dapat memberikan dampak positif, namun music juga dapat membawa dampak negatif. Dampak negative dari music sangat tergantung pada cara, waktu, dan jenis music yang didengarkan, dan terutama jika kontennya tidak sehat atau digunakan secara berlebihan.

Musik dengan lirik yang mengandung kekerasan, penyalahgunaan zat, atau seks bebas dapat membentuk pola pikir yang merugikan. Remaja yang sering mendengarkan musik seperti ini cenderung lebih permisif terhadap perilaku berisiko.

Baca Juga:

Waspadai Stress pada Anak Kecil, Ini Gejala dan Cara Mengatasinya

Gangguan kesehatan mental: Musik dengan lirik sedih atau agresif bisa memperburuk suasana hati dan meningkatkan kecemasan. Paparan terus-menerus terhadap musik negatif dapat memicu stres dan depresi.

Penurunan performa belajar dan kerja: Studi menunjukkan bahwa bekerja atau belajar sambil mendengarkan musik, terutama yang memiliki lirik, bisa mengurangi konsentrasi dan efektivitas dibandingkan dengan suasana hening.

Risiko kecelakaan saat berkendara: Mendengarkan musik favorit saat mengemudi dapat mengganggu fokus. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mendengarkan musik saat berkendara lebih sering melakukan kesalahan dan berisiko mengalami kecelakaan.

Kerusakan pendengaran: Penggunaan earphone dengan volume tinggi dalam waktu lama bisa menyebabkan tinnitus atau gangguan pendengaran dini, bahkan pada usia muda.

Baca Juga:

Banyak Anak SD Mengalami Depresi Namun Belum Ada Kebijakan untuk Mencegah

Pengaruh terhadap hubungan sosial dan asmara : Musik video dengan visualisasi seksual atau kekerasan dapat membentuk persepsi yang tidak sehat tentang hubungan, terutama pada remaja putri.

Stereotip dan bias sosial: Musik juga bisa memperkuat stereotip terhadap kelompok tertentu. Misalnya, genre tertentu dianggap mewakili karakter atau identitas sosial tertentu, yang bisa memicu diskriminasi.

Namun pada akhirnya, music juga adalah soal selera yang sangat subjektif. Ada yang menyukai music keroncong, sebagian lainnya menyukai dangdut atau suka irama melayu, ada yang suka pop, kalsing, country atau lainnya. Apapun pilihanmu, yang paling penting adalah music sungguh dapat mempengaruhi mu. Positif maupun negatif.

Inspirasi utama tulisan ini dari buku The Learning Revolition karya Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos.

Foto Ilustrasi dari rri.co.id

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of