Eposdigi.com – Foto dimana tempat saya berdiri adalah taman kecil di pintu gerbang masuk turun dari pesawat, bandara internasional Ngurah Rai, Denpasar Bali.
Di pintu gerbang ini masyarakat Bali menghadirkan foto seorang tokoh dan pahlawan bangsa Indonesia, proklamator dan presiden pertama Ir. Soekarno.
Masyarakat Bali menokohkan seorang Ir. Soekarno bukan hanya sebagai tokoh pejuang bangsa semata, namun beliau juga adalah tokoh budaya masyarakat Bali.
Masyarakat internasional (dunia) mengenal Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia. Pertanyaan bagi kita, mengapa masyarakat internasional menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata dunia?
Baca Juga:
Apakah destinasi wisata itu terjadi begitu saja tanpa upaya apapun dari masyarakatnya? Mungkin juga sederet pertanyaan lainnya yang patut kita ajukan sebagai refleksi mengapa masyarakat dunia begitu menggandrungi Bali sebagai tempat untuk menghabiskan liburan, uang dan waktunya di Bali?
Salah satu hal penting yang bisa kita tangkap dari pengakuan para wisatawan adalah bahwa Bali itu indah. Keindahan Bali dalam berbagai aspek itu tidak lepas dari masyarakatnya, yang cinta terhadap budaya.

Apakah manusia di zaman moderen ini masih memegang teguh akar budayanya atau justru sebaliknya, menganggap budayanya sebagai ancaman?
Tentang masyarakat Bali, dan bagaimana mereka menempatkan budaya dalam denyut nadi kehidupan mereka, adalah sesuatu yang sudah diketahui umum. Bisa dipelajari oleh siapa saja, dari manapun tanpa harus datang dan tinggal di Bali. Terutama tentang kaitan antara budaya dengan pariwisatanya.
Baca Juga:
Ini Yang Dilakukan Desa Penglipuran Yang Menjadikan Mereka Desa Terbersih di Dunia
Bagi masyarakat Flotim, yang ingin mengembangkan pembangunan wisata, maka salah satu aspek penting yang diperhatikan adalah menyadarkan masyarakat Flotim tentang pentingnya kesadaran budaya yakni memahami akar budayanya secara benar.
Kesadaran tentang pentingnya akar budaya ini menjadi salah satu pilar yang sangat penting dalam pembangunan manusia Flotim khususnya dan Masyarakat Lamaholot pada umumnya.. Fondasi ini harus mulai ditata agar berbagai persoalan bisa diselesaikan dengan baik.
Kesadaran budaya ini tidak hanya menjadi fokus membangun destinasi wisata semata, akan tetapi yang lebih penting lagi dari itu, adalah membangun manusianya, yang pada akhirnya tumbuh kesadaran dari manusianya dalam penyelesaian berbagai persoalan konflik lainnya di tengah masyarakat; misalnya konflik pertanahan dan lain sebagainya.
Baca Juga:
Budaya, dalam hal ini dapat diamati melalui berbagai aktivitas kehidupan, entah ritual adat, berbagai petunjuk hidup dan larangan-larangan, benda-benda sakral, lahir dari filosofi masyarakat yang menghidupinya.
Karena itu, filosofi dan nilai-nilai kehidupan Masyarakat Lamaholot harus benar-benar disadari, dihayati dan menjadi bagian dalam keseharian masyarakatnya.
Kita tahu bahwa salah satu problem yang dihadapi Pemda Flotim dan masyarakatnya, dalam konflik pertanahan yang hingga kini ibarat api dalam sekam.
Padahal kita semua menyadari bahwa semua petunjuk yang datang dari filosofi kehidupan masyarakat Lamaholot, tentang bagaimana cara kita mencegah, menangani dan menyelesaikan konflik sudah diwariskan generasi demi generasi.
Baca Juga:
Ketika Anak Muda Tak Lagi Menyanyikan Lagu Daerah Lamaholot: Sebuah Catatan Etnomusikologis
Keamanan masyarakat, dalam hal ini ketiadaan konflik horizontal menjadi bagian dari bagaimana memberikan rasa aman dan nyaman kepada siapa saja yang datang dan menjadi tamu di Lewotanah kita. Terutama para wisatawan.
Karena itu, kita semua, masyarakat luas, institusi agama dan pendidikan, tokoh adat, pemerintah, pelaku pariwisata, benar-benar menjadi bagian yang satu dan sama, dalam mendorong tatanan masyarakat yang berbudaya, menjadikan filosofi dan kearifan lokal, sebagai jalan hidup dalam setiap aspek kehidupan kita.
Semoga uraian singkat ini memberi manfaat dan masukan bagi semua pihak terkait khususnya bagi pemerintah daerah Flotim dan semua pihak yang berkepentingan.
Foto ilustrasi dibuat dengan bantuan AI
Leave a Reply