Eposdigi.com – Tulisan ini, seharusnya sama secara esensi dengan tulisan yang tayang di media ini, beberapa tahun silam, tepatnya 16 desember 2022.
Yang membedakannya adalah, tulisan ini, seharusnya menjadi salah satu dari banyak ide, mencoba untuk memberi gambaran bahwa Koperasi Merah Putih di desa-desa di Flores Timur, seharusnya memiliki ‘ladang garapan’ yang beragam.
Koperasi Merah Putih yang didorong untuk didirikan di desa-desa di Indonesia, termasuk di Flores Timur, menurut saya tentu tidak mudah menemukan model bisnis yang tepat untuk usahanya.
Jika seharusnya koperasi menjadi wadah bagi beberapa orang yang membutuhkan sebuah wadah yang menampung kegiatan ekonomi mereka, sementara saat ini Koperasi Merah Putih diinstruksikan untuk dibentuk, setelah itu baru menyusul anggota lalu kemudian mencari model bisnis terbaik untuk dikembangkan.
Baca Juga:
Tentang Mitigasi Bencana Setelah 30 Tahun Gempa Flores 12 Desember 1992
Saya seharusnya cukup menyadari bahwa tidak mudah bagi banyak desa di Flores Timur, untuk menemukan potensi usaha bagi Koperasi Merah Putih (KMP).
Pendapat ini tentu muncul dari kenyataan – sejauh yang saya ikuti – bahwa BUMDes yang diberi wewenang berdasarkan undang-undang, nyatanya belum mampu memberikan kontribusi yang memadai untuk kemajuan ekonomi di desa.
Tulisan ini muncul dari sebuah refleksi sederhana. Bahwasanya kegelapan bernama gagalnya BUMDes di Flores Timur, tidak perlu dikutuki terus menerus. Harus ada upaya yang serius di mulai dari masing-masing kita untuk memikirkan solusi terbaik, terkait masa depan KMP di Indonesia.
Beberapa waktu, karena ada kebutuhan di pembangunan rumah orang tua di kampung, kami kemudian mulai mencari berbagai alternatif untuk mengirim banyak material bahan bangunan dari Jawa.
Baca Juga:
Seberapa Sulit Menemukan Potensi Ekonomi Desa Di Flores Timur?
Alternatif mengirim material atau bahan bangunan ke kampung menjadi alternatif yang baik sebab saat ini tersedia banyak ekspedisi yang bisa mengantar barang belanjaan dari Jawa ke kampung.
Apalagi jika bahan material bangunan tersebut diyakini standar kualitasnya dengan harga yang terjangkau, jika dibandingkan dengan harga material yang sama di Flores Timur yang kadang tidak terjamin SNI-nya.
Setelah material bahan bangunan terkumpul, giliran berikutnya adalah memastikan kesediaan kelompok para tukang untuk membangun rumah orang tua di kampung, tersebut.
Dari beberapa pilihan kelompok para tukang, kami akhirnya memutuskan untuk memakai jasa salah satu kelompok para tukang tersebut. Ide mengenai urusan ini sebenarnya muncul saat negosiasi harga dengan para tukang tersebut.
Baca Juga:
Dalam tulisan yang kami singgung di awal tulisan di atas, sudah dijelaskan bahwa para tukang bangunan di Flores Timur sebaiknya tidak dipisahkan dari upaya membangun mitigasi bencana yang handal di Flores Timur.
Dan Flores Timur sebagai salah satu daerah dengan potensi bencana alam terutama gempa bumi dan badai hujan maka kita memerlukan semua lapisan masyarakat untuk memahami dengan sangat-sangat sungguh mitigasi bencana ini.
Lantas apa hubungannya antara Mitigasi Bencana, para tukang bangunan dengan Koperasi Merah Putih?
Saya kemudian membayangkan bahwa para tukang bangunan ini seharusnya membentuk wadah bernama Koperasi Merah Putih untuk mewadahi para tukang bangunan ini.
Baca Juga:
Dari koperasi mereka bisa mengupgrade peralatan pertukangan mereka. Mereka Pun dapat menambah pengetahuan dan keterampilan mereka melalui koperasi, dan lain sebagainya kegiatan usaha koperasi yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.
Melalui Koperasi Merah Putih (KMP), pemerintah wajib membuka akses yang seluas-luasnya kepada anggota koperasi untuk mengakses pelatihan keterampilan pertukangan terutama yang berkaitan dengan umur pakai dan ketahanan bangunan sebagai bagian dari mitigasi bencana.
Jika para tukang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai soal membangun rumah yang aman dan tahan bencana maka mereka tentu saja menjadi bagian dari mitigasi bencana tersebut.
Baca Juga:
SDM dan Menyemai Asa Sinergi BUMDes dengan Koperasi Merah Putih
Tentu, menurut saya lebih mudah para tukang mengakses kegiatan pelatihan melalui wadah bernama KMP daripada mengajukan proposal pelatihan secara individu.
Jika Koperasi Merah Putih tidak menjadi wadah bagi para tukang bangunan ini, maka di masa depan bisa saja ada banyak perusahaan yang mau merekrut para tukang untuk bekerja untuk pemilik perusahaan katakanlah seperti kontraktor besar, yang beroperasi di Flores Timur.
Alih-alih menjadi pekerja, saya lebih nyaman apabila para tukang bangunan bekerja untuk ‘perusahaan’ milik mereka sendiri yaitu Koperasi Merah Putih. Karena itu banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh para tukang jika membentuk Koperasi Merah Putih sebagai wadah mereka.
Baca Juga:
Tantangan Tata Kelola Koperasi Merah Putih Ditengah Fraud Startup
Pelatihan untuk meningkatkan keterampilan kerja, sertifikasi keahlian, dukungan dan akses atas modal dan manfaat lainnya jika kelompok mereka memiliki wadah berbadan hukum yang bisa menampung mereka seperti KMP.
Sama seperti kami yang membeli bahan bangunan dari Jawa dengan harga yang bersaing dan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan maka, KMP milik para tukang bangunan ini pun bisa mengambil peluang ini sebagai unit bisnis mereka.
Dalam negosiasi dengan pemberi kerja yang menggunakan jasa mereka, para tukang bangunan ini bisa sekaligus menawarkan berbagai kebutuhan material/bahan bangunan yang tersedia di koperasi.
Warga desa yang membutuhkan bahan bangunan bisa dimudahkan dalam banyak hal jika dia sekaligus sebagai anggota koperasi. Apalagi jika koperasi menyediakan berbagai alternatif pembayaran yang lebih membantu anggota untuk mendapatkan bahan/material bangunan melalui koperasi.
Baca Juga:
Setidaknya aktivitas ekonomi yang melibatkan KMP, semisal membeli material/bahan bangunan, memakai jasa tukang, menjadi kontribusi positif yang akan diganjar dengan SHU setiap tahun.
Dan keran itu pemerintah daerah seharusnya menjadikan ini peluang untuk mendorong banyak hal sekaligus. Perbaikan Kualitas SDM para pekerja bangunan, memberi peluang bisnis untuk Koperasi Merah Putih, sekaligus terlibat langsung dalam mitigasi bencana melalui standarisasi konstruksi bangunan tahan bencana.
Foto ilustrasi ini dibuat dengan bantuan Meta Ai dengan prompt “para pekerja bangunan sedang membuat sebuah bagnunan bernama Koperasi Merah Putih” yang tahan bencana seperti gempa bumi dan badai”
Leave a Reply