Sepiring Nasi Itu Dibayar dengan Nyawa: Pesan Besi Pare yang Mulai Kita Lupakan

Ketahanan Pangan
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pernahkah kita berhenti sejenak sebelum menyuap sesendok nasi? Hari ini, beras datang dalam kemasan yang rapi. Kita membelinya, memasaknya, lalu memakannya tanpa banyak berpikir.  Kita mengenal harganya, tetapi perlahan melupakan maknanya.

Padahal, leluhur Lamaholot telah lama mengajarkan bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut. Makanan adalah kehidupan.  Dan kehidupan tidak pernah lahir tanpa pengorbanan. Itulah pesan yang diwariskan melalui kisah Besi Pare Tonu Wujo.

Dalam tradisi lisan Lamaholot, dikisahkan bahwa ketika manusia menghadapi ancaman kelaparan, seorang perempuan menjadi sumber lahirnya tanaman pangan yang kemudian menghidupi banyak orang.

Baca Juga:

Gunung, Perempuan dan Ata Diken Lamaholot

Terlepas dari bagaimana kita memaknai kisah ini sebagai warisan budaya dan mitologi leluhur, satu pesannya tetap abadi:

Tidak ada kehidupan tanpa pengorbanan. Namun ada pertanyaan yang jarang kita renungkan. Mengapa yang menjadi sumber kehidupan adalah seorang perempuan? Mengapa bukan seorang raja, panglima, atau pemburu?

Karena leluhur Lamaholot memahami sesuatu yang luar biasa: Perempuan adalah rahim kehidupan. Dari rahim perempuan lahir manusia. Dari tubuh Besi Pare lahir benih-benih pangan. Keduanya sama-sama memberi kehidupan. Keduanya sama-sama rela memberi tanpa meminta kembali.

Bahkan bumi pun dipandang sebagai sebuah rahim. Ia menerima benih, memeliharanya dalam keheningan, lalu melahirkannya kembali sebagai pangan bagi manusia.

Baca Juga:

Besi Pare Tonu Wujo – Dewi Sri Orang Flores Timur Versi Muhan

Mungkin karena itulah, menghormati perempuan dan menjaga bumi sesungguhnya adalah dua sisi dari kebijaksanaan yang sama.

Menariknya, pesan seperti ini tidak hanya hidup di Lamaholot. Di Jawa, masyarakat mengenal Dewi Sri sebagai lambang kesuburan dan kehidupan. 

Di berbagai masyarakat adat di Amerika, jagung juga dipandang sebagai anugerah suci yang menghidupi manusia. Nama dan kisahnya memang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan satu hal yang sama:

Kehidupan adalah anugerah yang harus dihormati, bukan dieksploitasi. Mungkin inilah pesan terbesar Besi Pare yang mulai kita lupakan. Merendahkan perempuan berarti melukai sumber kehidupan.

Baca Juga:

IGI Flotim Presentasikan Kisah Besi Pare Tonu Wujo dalam Ajang IVAA 2019

Merusak bumi berarti menghancurkan rahim yang memberi makan kita. Keduanya adalah bentuk ketidaksyukuran yang sama.

Hari ini kita boleh hidup di zaman modern dengan teknologi yang semakin canggih. Namun jangan sampai kita kehilangan kebijaksanaan yang telah dijaga leluhur selama berabad-abad.

Sebab sepiring nasi yang ada di hadapan kita bukan sekadar makanan. Ia adalah pengingat bahwa hidup selalu bertumpu pada kasih, pengorbanan, dan kerelaan untuk memberi.

Semoga kita tidak menjadi generasi yang hanya pandai menikmati hasil bumi, tetapi lupa menghormati perempuan, menghargai petani, dan menjaga tanah yang telah memberi kehidupan kepada kita.

Baca Juga:

Sosiolog UIN Jakarta dan Peneliti ITB tertarik meneliti situs Besi Pare Tonu Wujo di Flores Timur

Karena ketika perempuan kehilangan martabatnya dan bumi kehilangan kesuciannya, sesungguhnya yang sedang kita kuburkan adalah masa depan kita sendiri.

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of