Eposdigi.com – Tanaman Vanili atau Vanilla Planifolia bukan barang baru bagi masyarakat Flores Timur. Komoditi satu ini memiliki banyak penggemar yang membudidayakannya. Selain jambu mete, vanili menjadi primadona banyak petani karena harganya yang mahal.
Di pasaran, harga vanili selalu menarik. Baik yang basah maupun kering harga vanili walaupun bervariatif di berbagai daerah di Indonesia, namun banyak orang masih PD menjualnya di berbagai marketplace.
Laman Instagram “vaniliindonesia_hebat” misalnya, menyebutkan bahwa harga valine basah berkisar antara Rp500.000,- – hingga Rp1.000.000,-. Sementara untuk vanili basah bisa menyentuh hingga Rp6.000.000,-
Sedangkan untuk pasar global, vanili kering dihargai sebesar Rp2,4 juta hingga Rp9,6 juta (150 – 600 US$). Harga yang bervariasi ini tergantung pada lokasi dan grade vanili kering tersebut.
Baca Juga:
Ayo Flotim, Ambil Manfaat Sebanyak Mungkin Dari Koperasi Merah Putih
Vanili banyak dicari oleh pasar dunia. Bukan sekedar rempah, vanili adalah komoditi yang dibutuhkan tidak hanya industri makanan dan minuman, namun juga dibutuhkan oleh industri kosmetik, farmasi, hingga industry kecantikan
Di pasar global, Indonesia termasuk pemain inti. Indonesia hanya kalah dari Madagaskar yang berada pada posisi pertama pemasok vanili ke pasar global. Madagaskar bukan hanya pengeksport terbanyak, namun dalam kualitas pun Madagaskar masih jauh mengungguli Indonesia.
Pada tahun 2023 lalu, laman worldpopulation.com, menyebutkan bahwa Madagaskar menghasilkan 3110 ton vanili, sementara Indonesia di posisi kedua, “hanya” menghasilkan 1830 ton.
Belakangan ini, banyak petani di Flores Timur mulai serius membudidayakan vanili. Ini tentu kabar baik. Walaupun tidak mudah membudidayakannya, terutama untuk penyerbukan yang masih tergantung pada campur tangan manusia. Namun harga yang tinggi membuat banyak petani di Flores Timur mulai membudidayakannya saat ini.
Baca Juga:
Lagi, Tentang Ide Unit Bisnis Koperasi Merah Putih di Flores Timur
Namun tantangannya tidak sederhana. Mulai dari tataniaga hingga yang paling krusial menurut saya adalah budidaya hingga pasca panen. Alih-alih memberi nilai tambah berupa fermentasi hingga kering, masih banyak petani kita masih menjual vanili yang masih basah.
Tidak sedikit dari mereka yang bahkan sudah mengijonkan vanili di kebunnya jauh sebelum panen.
Praktek ijon oleh tengkulak ini jelas merugikan petani. Hanya saja, kita juga harus mau memahami keterdesakan para petani hingga mau menjual secara ijon vanili miliknya . Yang tentu saja, harganya jauh dari harga terbaik.
Dalam konteks Flores Timur, jika melihat Vanili sebagai komoditas bernilai tinggi maka sebaiknya kita benar-benar memberi fokus yang cukup mulai dari urusan budidaya di kebun hingga pemasarannya.
Tidak hanya mengenai keterampilan dan sentuhan teknologi tepat guna di kebun, para petani kita juga harus bisa diberi kesempatan untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan untuk memberi nilai tambah pada produk vanili.
Baca Juga:
Koperasi Merah Putih dan Masa Depan Arak Tradisional Flores Timur
Tidak berhenti pada upgrade pengetahuan dan keterampilan petani, para petani juga seharusnya diberi akses pada permodalan sehingga mereka bisa terhindar sejauh mungkin dari sistem ijon oleh para tengkulak.
Dan seharusnya, para petani vanili di desa-desa di Flores Timur tidak lagi kesulitan untuk mulai mengorganisir diri, memberi focus lebih besar pada vanili.
Dan pada saat yang sama, pemerintah kabupaten seharusnya tidak tutup mata jika benar-benar mau menjadikan vanili tidak hanya harum di Flores Timur, namun juga turut berperan aktif di Tingkat nasional, hingga global. Bersambung….
Foto dari pangkalanjaya.com
Leave a Reply