Pangan Lokal menjadi ‘New Normal’ di tengah Pandemi

Ketahanan Pangan
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pandemi Corona merubah banyak kebisaan. Semua orang memakai masker. Kerja, belajar dan bahkan ibadah pun dilakukan di rumah.  Pembatasan sosial mengakibatkan banyak acara yang melibatkan banyak orang ditunda ataupun bahkan dibatalkan.

Menjaga jarak dengan orang lain menjadi pemandangan yang biasa. Mudik dilarang. Kesempatan  silahturami dengan hadai taulan saat lebaran pun mungkin terlewatkan tahun ini karena corona.

Yah. Corona tidak lagi hanya menjadi isu kesehatan global. Corona adalah persoalan ekonomi, politik, pendidikan, bahkan budaya. Tidak hanya dalam skala nasional sebuah negara bangsa. Ia mempengaruhi tatanan global.

Satu hal yang tidak terpengaruh oleh corona adalah banhwa semua orang harus makan. Corona atau tidak, sakit atau sehat, semua orang butuh makan.

Yang menjadi persoalan adalah distribusi pangan menjadi terganggu selama masa pandemi corona. Berbagai pembatasan baik dalam skala global lintas negara maupun lintas daerah di sebuah negara tidak selancar pada saat normal.

Pada saat yang sama, berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada tanaman pangan juga menjadi persoalan pelik yang tidak mudah terurai. Bukan lagi rahasia jika lahan pertanian untuk pangan saat ini tergerus, tergusur oleh tanaman komoditi industri atau untuk kawasan komersial lain.

Beberapa hari lalu kami mengutip katadata.co.id (14/01/2020) yang mengambil data dari Kementerian Pertanian, mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat penyusutan lahan pertanian sebesar 60 ribu hektar, yang beralih fungsi untuk kegiatan non pertanian. Penyusutan lahan ini setara dengan kehilangan 300 ribu ton beras setiap tahun.

Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona

Bisa jadi isu krisis pangan bukan lagi sebuah kabar burung. Kenyataannya bahwa produksi pangan yang biasanya padat karya berkurang karena berbagai pembatasan. Jika tidak karena pembatrasan produksi sudah berkurang terlebidahulu karena penyusutan lahan pertanian.

Jika jumlah produksi tidak berkurang pun, maka persoalan lainnya dalah distribusi pangan yang terganggu akibat corona. Aliran logistik pangan dari petani kepada konsumen  baik itu lintas negara maupun lintas daerah menjadi terganggu oleh berbagai pembatasan.

Pemerintah, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan produksi bahan pangan terutama beras adalah dengan mencetak sawah baru, yang dikerjakan oleh BUMN. Namun langkah ini disangsikan banyak kalangan.

Salah satu alternatif yang paling pas menjawab kelangkaan pangan di tengah pandemi corona adalah mengalihkan sudut pandang dari beras sebagi satu-satunya sumber pangan.  Tidak semua daerah di Indonesia yang bisa memproduksi beras dengan hasil yang baik.

Sementara di daerah yang tingkat produksinya baik, luas lahan sawah semakin tergerus tahun demi tahun.

Tidak lagi melihat beras sebagi satu-satunya sumber pangan berarti mengembalikan sudut pandangan pada sumber karbohidrat lain. Sumber karbohidrat masyarakat lokal yang tidak terganggu oleh jenis pandemi apapun. Sumber pangan yang belum tergusur tanaman industri.

Baca Juga: COVID-19 dan Jalan Menuju Kedaulatan Pangan di Desa

Maka fokus pandangan kita adalah jagung, sagu, singkong, umbi-umbian dan sorgum ataupun sumber pangan lokal lainnya. Tentu berbagai jenis pangan lokal ini tidak kalah nutrisinya dibanding beras.

Pandemi corona harus bisa membuka jalan bagi pemerintah, baik kebijakan bersifat nasional maupun kebijakan di daerah harus mendorong konsumsi pangan lokal. Tidak lagi sebagai konsumsi sekunder setelah beras. Pangan lokal harus menjadi pilihan konsumsi nomor satu.

Tentu bukan persoalan mudah merubah pola konsumsi masyarakat untuk beralih 100 persen dari beras ke berbagai pangan lokal lain. Namun pandemi corona bisa menjadi jalan untuk membangun pembiasaan baru di dalam masyarakat.

Jika New Normal bisa didefinisikan sebagai perilaku masyarakat yang baru sebagai bentuk adaptasi masyarakat karena pandemic corona, maka New normal bukan hanya soal memakai masker, sering mencuci tangan atau berbagai pembatasan sosial.

Kebaruan-kebaruan juga harus didorong pada kebiasaan konsumsi masyarakat. Maka merubah pola konsumsi dari beras ke berbagai sumber pangan lokal lain pun bisa dilakukan. Kembali ke pangan lokal bisa menjadi “new normal” kedepan.

Kerjasama semua pihak, pemerintah bersama masyarakat luas, berangkat dari pandemi corona, harus  bahu membahu, mendorong konsumsi pangan lokal sebagai new normal. (Foto: kompasiana.com)

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Pangan Lokal menjadi ‘New Normal’ di tengah Pandemi […]

trackback

[…] Baca Juga: Pangan Lokal menjadi ‘New Normal’ di tengah Pandemi […]