Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan)

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Pendahuluan

Eposdigi.com – Adonara adalah salah satu pulau dari pulau-pulau di wilayah Suku Bangsa Lamaholot. Suku bangsa ini sudah memiliki kepercayaan asli terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Tuhan YME) sebelum agama samawi dan agama lain masuk ke tanah Lamaholot.

Kepercayaan terhadap Tuhan YME orang Lamaholot ini disebut ‘Agama Asli Lamaholot’ oleh Pastor Paul Arndt, SVD (Agama Asli di Kepulauan Solor, diterjemahkan oleh Paul Sabon Nama, 2003). Dalam agama asli ini masyarakat Lamaholot menyembah Tuhan YME yang dikenal dengan “Rera Wulan Tanah Ekan” atau Alape’et Rera Wulan Tanah Ekan’ yang disingkat menjadi ARWTE.

Kepercayaan asli Lamaholot ini merupakan pilar utama dalam pembentukan jati diri orang Lamaholot (ata Lamaholot) umumnya, dan orang Adonara pada khususnya. Tentu tak dapat dipungkiri ada aspek lain yang turut mempengaruhi pembentukan jati diri ata Lamaholot, seperti lingkungan alam, kehidupan sosial budaya dan lain-lain, namun agama asli Lamaholot adalah pilar utamanya karena sudah mandarah dan mendaging dalam kehidupan ata Lamaholot.

Karena begitu sempurnanya kemanunggalan agama asli ini dengan kehidupan ata Lamaholot sehingga sulit dibedakan dari adat istiadat dan kebudayaan Lamaholot. Maka pada kesempatan ini saya ingin membahas agama asli Lamaholot secara singkat dalam tulisan sederhana ini.

Semoga dengan tulisan ini, ata Lamaholot terpicu untuk menggali dan merenung lebih dalam lagi ajaran luhur leluhurnya yang disebut agama asli Lamaholot dalam kihidupan kita sehari-hari.

Istilah agama asli Lamaholot hampir tak terdengar dalam kehidupan masyarakat Lamaholot, khususnya masyarakat Adonara. Hal ini disebabkan oleh keberadaan agama asli Lamaholot sudah mandarah-daging dalam diri ata Lamaholot dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari ata Lamaholot, khususnya ata Adonara.

Agama asli Lamaholot yang mandarah-daging dalam kehidupan sehari-hari ini membuat orang sulit membedakannya dari adat istiadat sehingga akhirnya agama asli Lamaholot dimasukkan sebagai bagian dari adat istiadat Lamaholot.

Baca Juga: Perang Historis Adonara : Future without War, but Warriorship

Hal ini tidak menjadi masalah selama anak tanah Lamaholot tetap memegang teguh ajaran agama aslinya namun sejalan dengan perubahan zaman dan derasnya pengaruh yang datang dari luar maka sangat perlu bagi kita untuk menempatkan agama asli Lamahot pada tempat yang sebenarnya sehingga mempermudah kita untuk memahami dan mengamalkannya.

Untuk itu kita harus membedakan apa itu ‘adat’ dan apa itu ‘agama’ dalam kehidupan kita sehari-hari walaupun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat; seakan tidak ada pemisahnya jika tidak dilihat secara teliti.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; ‘Adat ialah aturan ‘perbuatan,dsb’ yang lazim diturut atau  dilakukan sejak dahulu kala, cara ‘kelakuan, dsb’ yang sudah menjadi kebiasaan, wujud gagasan kebudayaan yang terdiri atas nilai-nilai budaya, norma, hukum dan aturan yang satu dengan yang lainnya berkaitan menjadi satu system” (gurupendidikan.co.id).

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia; “Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan/kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia lainnya” (defenisi-pengertian.com).

Dari defenisi di atas, dapat disimpulkan bahwa adat (adat istiadat) mengatur hal-hal yang bersifat duniawi  sedangkan agama mengatur hal-hal yang bersifat duniawi dan hal-hal yang bersifat akhirat.

Di sini dapat dilihat secara jelas bahwa kepercayaan terhadap ARWTE adalah sebuah agama yakni agama asli Lamaholot sebab ajaran kepercayaan terhadap ARWTE mencakupi hal-hal duniawi maupun akhirat.  Ajaran luhur leluhur Lamaholot tentang kepercayaan terhadap ARWTE ini diturunkan dalam bentuk lisan dengan kata dan kalimat yang indah, yang diyakini memiliki kebenaran dan kekuatan magis yang tak terbantahkan. Kata dan kalimat ini kita kenal dengan “koda – kirin ka’ka ama’a genan” (sabda warisan leluhur), yang sehari-hari lebih di kenal dengan ‘koda’ (sabda).

Ajaran luhur leluhur Lamaholot tentang kepercayaan terhadap ARWTE ini belum diberi nama khusus maka setelah melakukan berbagai diskusi dengan berbagai pihak tentang nama agama asli Lamaholot; saya menamakan agama asli Lamaholot dengan nama ‘Agama ‘KODA’.

Pemberian nama ini bertujuan untuk mempermudah dan menyamakan pemahaman ketika kita berbicara tentang ajaran luhur leluhur Lamaholot terhadap ARWTE. Jadi agama Koda adalah ajaran luhur leluhur Lamaholot tentang hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan semesta alam dan manusia dengan ARWTE (Tuhan YME) sebagai suatu kesatuan yang utuh dalam hidup dan kehidupan di dunia dan di akhirat.

Kepercayaan terhadap ARWTE itu sudah ada sejak ‘buta mete walan mara – tana tawan ekan gere (Sejak keringnya lumpur air dan timbulnya tanah/pulau), bahkan mungkin sudah ada sebelum adanya peristiwa ini. Ata Lamaholot sudah meyakini adanya kekuatan yang maha dahsyat yang melebihi kekuatan apa pun di semesta alam ini.

Kekuatan yang Maha ini diyakini menguasai langit dan bumi beserta segala isinya sehingga tak mampu digambarkan dalam kata-kata sehingga leluhur Lamaholot menyebutnya ‘Alap’et Rera Wulan Tana Ekan’ (ARWTE).

*Penulis adalah Putra Adonara, tinggal di Melbourne – Australia

Sebarkan Artikel Ini:

4
Leave a Reply

avatar
4 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan) […]

trackback

[…] Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan) […]

trackback

[…] Baca Juga : Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan) […]

trackback

[…] Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan) […]