Ruh Gemohing dan Sosialisme Marx

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com- Secara harfiah, gemohing merupakan gotong royong. Istilah gemohing ini biasanya digunakan oleh kebanyakan masyarakat suku Lamaholot, salah satunya adalah Adonara.

Gemohing merupakan gotong royong yang diadakan masyarakat Adonara untuk mengatasi berbagai persoalan, salah satunya ketenagakerjaan. 

Selain itu, terdapat nilai-nilai luhur yang bisa ditemukan dalam proses gemohing. Ada nilai persaudaraan, kesetaraan dan keadilan yang tercipta di dalamnya.

Berangkat  dari nilai-nilai di atas, kita bisa melihat adanya persamaan hak yang diperoleh ketika gemohing ini dilakukan. Persamaan hak ini menandakan bahwa adanya upah yang sebanding  yang disesuaikan dengan gemohing yang dilakukan.

Baca juga: Gemohing Untuk Tataniaga Kopra; Mungkinkah?

Gemohing bisa dijumpai dalam proses pembukaan ladang ataupun pembersihan ladang. Hasil atau upah yang diperoleh masing-masing orang disesuaikan dengan kontribusi dalam melakukan pekerjaan. 

Misalnya, jika seseorang mampu melakukan pekerjaan garapan lahan seluas 5 meter persegi, maka ia akan diberi upah Rp20.000,00. Jika ia menggarap lahan seluas 10 meter persegi, maka ia akan memperoleh upah sebesar Rp40.000,00. 

Penghasilan yang diperoleh masing-masing orang akan terus bertambah seiring bertambahnya lahan garapan yang dilakukan. Adanya proses ini menunjukkan bahwa ada nilai keadilan atau kesetaraan yang diperoleh.

Dalam dunia modern, kita tentu menjumpai kelas-kelas sosial, yang oleh Max dibaginya dalam dua kalangan, yakni kalangan borjouis/elit dan kalangan proletariat/buruh. 

Baca juga: Dana Desa, BUM Desa Dan Gemohing

Kalangan borjuis merupakan kalangan elit atau para pemilik modal yang kemudian menciptakan berbagai lapangan pekerjaan. Kalangan elit ini yang kemudian mempekerjakan para proletariat yang disebut sebagai buruh.

Dalam relasi antarkaum buruh dan kalangan elit, kita bisa menjumpai adanya alienasi atau keterasingan, yakni antara kaum buruh dengan apa yang dihasilkannya. Buruh memproduksi namun pemilik modal memanen hasilnya.

Sebagai contoh, kaum buruh menghasilkan sebanyak mungkin produk untuk memenuhi sistem yang diciptakan oleh kalangan elit. Mereka berusaha untuk mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menghasilkan produk yang berkualitas. 

Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dibuat oleh kaum buruh, bahkan tidak bisa diklaim sebagai miliknya. Lebih parahnya lagi, upah atau gaji yang diperolehnya bahkan tidak bisa digunakan untuk membeli produk yang dihasilkannya.

Baca juga: Gemohing Dalam Kepungan Kapitalisme

Dalam komunisme Marx, ia menjelaskan tentang kesetaraan atau keadilan. Hal ini jelas terlihat dan bisa kita temukan dalam proses gemohing.

Upah yang diperoleh disesuaikan dengan kapasitas keringat atau tenaga yang dikeluarkan. Akan tetapi, prinsip gemohing ini nyatanya tidak ditemukan dalam relasi kaum borjuis dan kaum buruh.

Dalam proses relasi antarkaum borjuis dan kaum buruh, kita bisa menjumpai kapitalisme yang sangat besar dan digandrungi dengan monopoli yang berorientasi pada profit/keuntungan pribadi, bukan pada kesejahteraan sosial. 

Oleh karena itu, dibutuhkan revolusi dalam menyeimbangkan relasi tersebut seperti yang dicita-citakan oleh Marx. Revolusi yang dimaksudkan bukan dengan aksi demo yang tidak jelas disertai dengan aksi kekerasan, akan tetapi lebih kepada perubahan untuk kesejahteraan bersama.

Perubahan atau revolusi yang bisa diterapkan setiap desa adalah dengan membuka lapangan pekerjaan yang orientasinya untuk kesejahteraan rakyat banyak. Ini adalah roh dari gemohing.

Baca juga: Gemohing: Sekedar Entitas Ekonomi?

Gemohing merupakan salah satu bentuk revolusi atau alternatif dalam menjawab permasalahan pengangguran yang ada di setiap desa. Proses gemohing bisa menjadi salah satu cara yang direalisasikan pemerintah melalui Bumdes. 

Hal pertama yang dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan survei terkait potensi atau sumber daya yang dimiliki masyarakat.

Setelah didata dan dikelompokkan berdasarkan potensi yang dimiliki, Pemerintah perlu mengirimkan orang-orang tersebut untuk mengikuti pelatihan berwirausaha.

Pendidikan dan pelatihan dimaksud adalah agar semua potensi lokal yang mereka miliki, bisa diberi nilai tambah. Nilai tambah yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Sekembalinya dari proses pelatihan, pemerintah bisa memberikan modal menggunakan dana desa atau alokasi desa kepada orang-orang yang sudah terlatih. 

Baca juga: Memahami Peran Dan Sejarah Gemohing Dalam Pembangunan Masyarakat

Mereka diberi modal agar dapat membentuk usaha skala mikro. Syukur-syukur kalau bisa berkembang menjadi usaha dalam skala makro.

Masyarakat yang sudah terlatih, diberi tanggung jawab untuk bisa mandiri dengan mengajak sebanyak mungkin orang, agar bisa terlibat dalam usaha yang ingin dilakukan. Tentu hal ini tetap menerapkan prinsip gemohing, yakni untuk kesejahteraan bersama.

Oleh karena itu, gemohing harus mendapat tempat dalam Bumdes yang ada di setiap desa.  Ini untuk bisa menciptakan kesejahteraan bersama. 

Mewujudkan kesetaraan seperti yang dicitakan oleh Marx, tanpa mengabaikan kontribusi individu dalam proses ekonomi yang tercipta oleh Bumdes.

Sumber foto: jambi.kabardaerah.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of