Kami Harus Bon di Toko untuk Bisa Bangkit Lagi  

Daerah
Sebarkan Artikel Ini:

Kisah dari Puing-Puing Bencana di Adonara

Eposdigi.com- Senja ini semakin sunyi. Jalan dari cabang Waiwadan ke Desa Danibao pun lengang. Tiada lalu lalang orang dan kendaraan seramai seperti di jalur utama Tanah merah ke Witihama.

Dengan sahabat kelana Supra X merah kami kemudian bergegas. Suaranya agak marah-marah karena ada bocor di pangkal knalpot. Terlihat beberapa orang di tepi sawah menoleh ketika kami melintas di batas hari ini.

Dengan suara bel yang mulai parau, saya memberi tanda permisi untuk lewat, sekedar menyapa selamat sore tanpa ada kalimat lebih lanjut. 

Selepas daerah persawahan, saya melihat ada seorang gadis kecil di depan rumah di sebelah kiri jalan. Saya berhenti dan bertanya di mana rumah yang dibawa banjir.

Dengan semangat dan suara yang sangat polos ia menjelaskan bahwa rumah itu masih di depan sana, dekat dengan bangunan Sekolah Dasar.

Di sebelah kanan ada jembatan menuju ke pusat pemukiman dusun,  dan di sebelah kiri ada rumah tembok. Di situlah mereka tinggal. Yang punya rumah hilang itu bernama om Alo. 

Saya mengucapkan terima kasih lalu melanjutkan perjalanan. Sekitar satu menit kemudian, saya tiba di tempat yang dijelaskan si gadis kecil. Saya menghentikan sepeda motor di tepi kiri jalan.

Ketika mengangkat muka hendak mencari orang dan bertanya, muncullah seorang bapak dan seorang ibu. Saya menyalami mereka.  “Selamat sore om, selamat sore ibu. Permisi mau Tanya ni, apa ada Om Alo di sini?”

Dengan senyum, orang yang saya tanya itu menjawab: “saya sendiri”. 

“Syukurlah”, jawab saya singkat. 

Baca juga: “Bencana” Dan Bencana – Relawan Dan “Relawan”

Beberapa saat kami pun berbincang sambil berdiri dan melihat bekas lokasi rumah yang kini sudah menjadi jalur sungai. Menyaksikan lebarnya kali yang tercipta setelah banjir pada malam 4 April 2021. Saya membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan air.

Berhasil selamat dari terjangan banjir malam itu sesungguhnya sesuatu yang mustahil bagi manusia. Mengherankan. Tetapi  itulah kenyataan, dan pantas disebut ajaib. Dan kalau ajaib, itu bukan kerja manusia. Itu hanya kuasa ilahi. 

Sambil duduk di depan rumah Bapak Paulus, saya bertanya kepada om Alo di mana puing-puing rumah? Dengan lirih Ia menjawab bahwa rumah telah hilang dibawa banjir malam itu. Tanpa bekas. Saya semakin penasaran dan ingin mengetahui lebih banyak. 

“Om kenapa buat rumah di pinggir kali sini?” Tanya saya sambil menunjuk ke depan kali yang hanya di batas aspal jalan raya. 

“Ceritanya panjang pak”. Jawab om Alo  memulai kisahnya. “Tahun 1998 saya datang dari Timor ke Adonara.  Saya berasal dari Oelolok di Kabupaten Timor Tengah Utara.

Waktu itu kami semua berjumlah sekitar 60-an orang, datang ke ke Adonara untuk kerja proyek jalan dari pertigaan Waiwadan ke Ubek di desa Danibao.

Setelah proyek selesai, teman-teman lain kembali ke Timor, tapi saya tetap di sini dan menikahi Elisabeth Tada dari Liwo. Kami lalu membangun rumah di sini, di tepi kali.

Awalnya aliran air agak dekat rumah, tapi saya selalu mengambil batu untuk susun melindungi rumah maka semakin lama garis aliran air semakin jauh. Juga saya menanam bambu sebagai pagar untuk melindungi rumah. 

Baca juga: Flores Timur Sigap Hadapi Bencana?

Untuk menghidupi keluarga, saya bekerja mendorong gerobak di pasar Waiwadan, Kecamatan Adonara Barat.  Di sana saya menawarkan jasa memuat barang-barang untuk bisa mendapatkan uang.

Tetapi pekerjaan ini kemudian saya tinggalkan karena aktivitas di pelabuhan Waiwadan mulai sepi dengan adanya pembukaan pelabuhan penyeberangan tanah merah ke pante palo.

Kebanyakan orang lebih memilih menggunakan kapal motor penyeberangan di tanah merah. Penghasilan mendorong gerobak menjadi semakin sulit. Saya lalu beralih menjadi tukang ojek hingga tahun 2013 saya berangkat ke Malaysia. Di sana saya bekerja di kebun sampai tahun 2015 saya pulang ke Adonara. 

Setelah berada di kampung saya mulai berpikir untuk menetap dan tidak merantau lagi. Saya membeli satu sepeda motor bekas seharga 5,5 juta untuk bisa saya pakai. Karena motor bekas, ia sering macet sehingga saya juga terus membawanya ke bengkel untuk diperbaiki.

Lama kelamaan saya berpikir, kalau begini terus saya rugi. Ini kan barang saya. Lebih baik saya belah mesin sendiri dan belajar perbaiki daripada bawa terus ke bengkel. 

Saya akhirnya benar-benar mulai belajar sendiri. Kadangkala pada saat kerja saya tidak punya kunci pas, saya pakai parang untuk bisa belah mesin. Pokoknya saya nekat untuk bisa tau perbaiki mesin. Dan semakin lama, saya semakin paham dan bisa perbaiki sendiri. 

Bermodalkan pengalaman ini, saya berani membuka bengkel sepeda motor karena di kampung ini tidak ada bengkel. Peminat mulai banyak. Saya mulai agak kewalahan dengan peralatan saya yang masih terbatas. Saya bicara dengan istri lalu kami putuskan untuk pinjam uang di BRI Waiwadan.

Saya sudah pinjam dua kali. Pinjam pertama sebesar lima belas juta rupiah sebagai modal untuk membeli peralatan bengkel. Setelah lunas angsuran, saya pinjam lagi tiga puluh juta untuk membeli tambah peralatan bengkel dan membuka kios.  Tapi segala usaha dan jerih lelah ini hapus terbawa banjir. 

Baca juga: Ile Boleng, Siklon Seroja Dan Athroposophy

Di malam kejadian itu, saya tidak sempat tidur sejak awal. Sekitar jam 8 malam listrik sudah padam. Hujan sangat lebat saat itu. Setelah makan malam istri dan anak-anak tidur sedangkan saya tetap berjaga dengan senter.

Sekitar jam setengah dua belas malam, air mulai naik. Saya keluar rumah dengan senter dan pergi ke sebelah bengkel. Di situ agak tinggi. Ternyata air sudah masuk dalam rumah dan mulai meluap ke jalan. Saya berteriak agar bisa membangunkan istri dan anak-anak.

Ibu membawa kedua anak saya paling kecil, Risal (tiga tahun) dan Martin (lima belas tahun) ke seberang jalan di rumah bapak Polus sini.

Anak saya yang besar Ison dan Fabi bisa sendiri bangun dan lari sendiri tuk selamatkan diri. Saya mau lari selamatkan diri, tiba-tiba ada kayu besar datang, dan terpaksa saya lari ikut air. Tidak bisa melawan arus. Dengan susah payah saya akhirnya berhasil sampai di rumah Bapak Polus. 

Saya Tanya di mana ibu, anak anak menjawab ibu kembali lagi ke dalam rumah. Saya kaget. Tanpa pikir panjang saya menerjang banjir dan masuk ke rumah untuk menarik istri yang ketika itu sedang mencari-cari sesuatu di dalam lemari.

Ketika hendak keluar, banjir menghantam kami dan kami terbawa sekitar lima belas meter dari rumah. Untung ada rumpun pisang yang ketika itu masih bertahan.

Kami tersangkut di situ untuk beberapa lama, lalu berusaha keluar melalui rumpun pisang itu. Setelah keluar, rumpun pisang itu pun pergi bersama banjir yang semakin ganas. 

Baca juga: Menyanggah Pemikiran Melawan Takhyul_6 Daniel Ama Nuen

Dalam keadaan basah kuyup dan suasana ketakutan, kami semua berkumpul di dalam rumah Bapak Polus. Kebetulan rumahnya terletak agak ketinggian sedikit dari jalan, tepat di bawah lereng bukit sebelah rumah.

Air juga sempat masuk, tetapi kami merasa lebih aman sedikit. Dengan sorot lampu senter kami melihat bangunan bengkel dan rumah mulai diterjang banjir yang amat hebat, lalu terbawa banjir.

Melihat air begitu tinggi, kami sangka air dari laut juga naik. Kami sangat panik dan melarikan diri ke atas bukit. Kebetulan di atas sana ada pondok jadi sepanjang malam di situ. 

Pagi sekitar jam enam, kami turun dari bukit. Tidak ada sesuatu pun yang tersisa. Hanya pakaian di badan. Rumah dan bengkel hilang tanpa bekas. Lokasi rumah kami sekarang jadi jalur sungai.

Tapi syukurlah kami semua selamat dan untung ada keluarga dari istri di sini sehingga kami bisa numpang. Sekarang kami harus mulai dari nol. 

Memang kami masih utang pinjaman di BRI tiga puluh juta untuk usaha kios dan bengkel. Tapi orang BRI datang bilang, kami tidak usah pikirkan itu dulu. Tenang-tenang dulu karena ini bencana.

Kami merasa berterima kasih atas uluran tangan dari banyak pihak yang telah membantu. Saat ini kami sedang berusaha membangun rumah kecil di sebelah sana. Bantuan datang juga dari toko-toko di Waiwadan berupa sak semen.

Masing-masing memberi dua sak semen. Dari paroki, kami mendapat 20 sak semen dan 50 lembar seng.  Sementara besi, saya pergi bon di toko bangunan di desa Hurung. Saya bon besi sepuluh mili ada 30 batang, dan besi enam mili ada 20 batang.

Baca juga: Mitos Dan Gunung

Masih kurang semen sekitar 20 sak. Saya kejar bangun rumah ini supaya bisa buka usaha kembali. Memang untuk bangkit lagi, kami harus bon”.  Demikianlah kisah om Alo mengakhiri cerita pilu dari puing-puing bencana. 

Karena matahari sudah mulai bersembunyi di balik dedaunan pisang dan hari mulai beranjak malam, saya memohon diri pamit sambil memberikan satu bingkisan kecil.

Saya menyampaikan bahwa jangan lihat barangnya tapi terimalah bentuk kepedulian ini dari kerja kemanusiaan banyak orang. Mungkin ini hanya satu barang, tapi di balik itu ada barisan orang-orang yang telah mencurahkan perhatian dan cinta yang tulus.

Ini satu lemari plastik yang disumbangkan dari keluarga besar Flobamora di Papua Barat. Semoga bermanfaat buat om Alo sekeluarga. Saya pamit lalu hilang dari pandangan mereka, kembali ke jalan perjuangan tanpa ujung. Sayonara sampai ketemu lagi kapan-kapan.  

“Segala sesuatu yang kita lakukan (kebaikan) hanyalah setitik air di lautan. Jika kita tidak melakukannya, titik itu akan hilang” (Mother Theresa)

Terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung bersama kami dalam misi bersama atas nama kemanusiaan untuk para penyintas siklon tropis seroja di Adonara. 

Mungkin kami tidak tau semua akumulasi kebaikan dan dari mana itu bersumber, tetapi segala ketulusanmu telah kita rangkai bersama untuk meringankan derita para sama saudara kita di Pulau Adonara.

Tidak bermaksud menyebut siapa lalu kemudian melupakan siapa, tetapi dalam keterbatasan pengetahuan kami, kami patut berterima kasih kepada pihak-pihak yang langsung bekerja sama dengan kami:

Ibu Albina ina Perada dan Bp. Paul Suban Sekeluarga (Dosen Poltekes Kupang), Sdra. Stanislaus Sogan sekeluarga (Cantika Cell Surabaya)

Baca juga: Ketahanan Pangan Dan Mitigasi Bencana

Sdri. Ika Lamablawa sekeluarga (BRI Kupang), Dr. Dominggus Elcid Li dari dan IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change) Kupang

ISJN (Indonesia Social Justice Network), Sdra. Kanis Muda dan Keluarga Besar Flobamora di Papua Barat

Keluarga besar Rukun Mego Mo’ong Maumere di Manado, Abang Boody Lamablawa sekeluarga di NSW Australia – Kuta Groove Party BandCARITAS Indonesia (Kerja sama dengan relawan untuk survey dan pengumpulan data)

Mohon maaf bila ada yang tidak/kurang berkenan di hatimu sekalian.

Penulis adalah Relawan Pancasila sakti dan Lembaga PADU-TEQ

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Kami Harus Bon di Toko untuk Bisa Bangkit Lagi   […]

trackback

[…] Baca Juga: Kami Harus Bon di Toko untuk Bisa Bangkit Lagi […]