“Bencana” dan Bencana – Relawan dan “Relawan”

Warga Peduli
Sebarkan Artikel Ini:

Berbagi Pengalaman Tentang Penanganan Bencana

Eposdigi.com – Hanya selang beberapa hari setelah bencana banjir akibat badai siklon Seroja memporak-porandakan NTT, khususnya di Adonara dan Lembata, ama Senuken Medhon sudah memberi warning di media sosial: jaga kaki tangan, jangan ambil, jangan mencuri (bantuan).

Tetapi kemarin sudah muncul berita viral di media sosial yang membuat muka kita semua, anak Adonara. Merah, marah, dan malu: ada orang mengambil HP milik relawan dari Jakarta.

Padahal dalam HP itu tersimpan semua nomor kontak orang-orang penting yang terkait dengan kerja kemanusiaan membantu korban bencana di Adonara.

Baca Juga: Seorang Ayah di Garut Nekat Mencuri HP untuk Anaknya, Apa Tindakan Jaksa?

Tim relawan bahkan menawarkan HP pengganti kepada orang yang mengambil HP relawan tadi asalkan HP yang diambil itu dikembalikan. Entahlah sudah dikembalikan atau tidak.

Saya ingin berbagi pengalaman, terutama untuk mengatakan bahwa dalam situasi emergensi, baik karena bencana alam atau konflik bersenjata, semua kualitas ketidak-normalan perilaku manusia (behavioral disorder) dapat saja terjadi.

Semua pihak bisa jadi korban, bisa jadi faktor pemicu masalah, bisa juga jadi pelaku langsung.

Pengalaman Pertama: Suatu hari ketika keluar dari kantor sebuah lembaga internasional untuk mengurus berbagai persyaratan bekerja untuk pengungsi Bosnia, saya hendak membeli sarapan pagi di Hauptbahnhof Hamburg.

Pengungsi Bosnia hilir mudik di dalam stasiun terutama di Südhaupthahnhof karena di luar sedang turun hujan es. Saya meletakkan payung  di atas etalase kios di hadapan saya sambil menunggu pesanaan saya dibuat.

Begitu pesanan saya datang dan saya hendak pergi, payung saya ternyata sudah lenyap.  Orang-orang yang menyaksikan kebingungan saya mencari payung hanya bisa angkat bahu.

Baca Juga: Belajar Mitigasi Bencana Alam dari Jepang

“Dalam situasi seperti ini tidak ada yang bisa dipercaya! Jadi, salahmu sendiri, kenapa kau tidak mengawasi barang bawaanmu?“ Kata seorang pria di samping saya.

Kedua:  Ketika ‘bertugas’ ke Maluku di ujung konflik komunal tahun 1999,  semua orang yang saya kenal dan saya jumpai di Maluku menyapa saya dengan:

“Bapa dari lembaga mana? Saya juga punya yayasan bernama “anu” dan bergerak di  bidang kemanusiaan membantu pengungsi. Bagaimana kalau Bapa bisa kerjasama dengan kami….“.

 Dan saya bilang, saya datang sebagai peneliti bukan sebagai donatur kaya raya.

Ups … dan mereka yang mengaku punya yasayasan ini dan itu adalah para sarjana yang pulang kampung hingga dosen yang juga memiliki jabatan struktural di kampus, politisi dan lain-lain. Semua orang mengaku punya LSM.

Pengalaman Ketiga:  Masih dalam konteks Maluku.  Saya berkesempatan menghadiri sebuah acara penting: Sidang Synode Keuskupan. Dalam sidang itu saya didaulat menjadi ketua kelompok komisi yang membahas peran kaum awam katolik dalam hidup menggereja, berbangsa dan bernegara.

Kepercayaan tersebut diberikan bukan tanpa alasan: karena sebelum meninggaljan Ambon di tahun 1992 saya  menjabat Ketua Komisi Kerasulan Awam di keuskupan itu. Di luar acara sidang seorang pastor  ketua yayasan persekolahan Katolik mendekati saya.

Baca Juga: Cahaya Menyeruak di tengah Kelam Corona

Saya langsung ajak dia berbicara tentang konsep meningkatkan kualitas pendidikan Katolik di keuskupan. Tetapi ia lebih tertarik untuk menanyakan apakah saya bisa mengusahakan dana dari Jerman untuk sekolah-sekolah di bawah yayasan dia.

Setelah saya tolak permintaannya (karena bukan tugas saya, dan sudah ada pengalaman jelek menjadi perantara penyaluran dana), pastor itu lalu pergi tak pernah kembali lagi.

Empat: Situasi konflik Maluku sama seperti situasi pasca gempa dan tsunami Aceh. Di Maluku, di Aceh, bahkan di Srilangka, konflik dan bencana alam melahirkan ribuan LSM yang menjamur sampai ke kampung-kampung kecil.

LSM adalah ladang pekerjaan baru. Makanya ketika saya datang ke Aceh atau Maluku saya selalu ditanya: Bapak dari LSM mana? Dan Anda tau apa kelanjutan ceritanya?

Ketika mencari makan di kota Lhokseumawe, saya mempergunakan mobil Palang Merah Jepang. Gara-gara logo lembaga palang merah Jepang tersebut, harga makanan kami jadi naik berlipat-lipat.

Pengalaman Kelima : Ketika gempa dasyat disertai letusan gunung Merapi tahun 2006, saya mendampingi wartawan BBC London untuk meliput peristiwa dasyat tersebut. Saat itu kami sedang ada di daerah Turgo di lereng Merapi mendekati puncak.

Tiba-tiba datang telepon dari seorang sahabat di Medan, minta saya memfasilitasi istri seorang pengusaha farmasi Jerman di Indonesia yang mau datang bergabung dengan para relawan yang sudah ada di Yogya sambil membawa bantuan.

Baca Juga: Membidik Target Pendidikan Kebencanaan

Karena saya masih di atas lereng gunung, saya menghubungi beberapa teman di posko di kota untuk menerima ibu Jerman ini dan tolong mencarikan penginapan untuk beliau karena ia tidak kenal siapa-siapa di Yogya.

Jawaban yang saya dapat sangat mengejutan: “kami sibuk mengurus pengungsi, Kami tidak mengurus hotel atau penginapan untuk relawan, Silahkan cari sendiri.“ Ibu Jerman itu kemudian diterima oleh sebuah kelompok relawan dari sebuah paroki di daerah Klaten.

Umat di Klaten sangat berterimakasih karena ada orang kaya mau turun langsung membantu mereka, tidak dengan pamer kehebatan sebagai pahlawan kemanusiaan ala relawan, tetapi dengan membaur dan menyalurkan bantuan nyata dalam sepi.

Pengalaman lainnya Keenam: Masih dalam cerita bencana gempa Yogya dan letusan gunung Merapi: Posko kami mendapat kepercayaan luar biasa untuk menyalurkan bantuan. Semuanya anak-anak muda dari berbagai kampus.

Suatu hari seorang anak muda datang kepada saya melapor bahwa kampung dia di lereng Merapi tidak kebagian bantuan, sementara jatah di gudang sudah habis.

Saya lalu mencari jalan mendapatkan dana extra emergensi dari teman-teman di Jerman. Setelah mendapat info bahwa ada dua kampung berdekatan yang butuh bantuan, kami lalu menginventarisasi jenis bantuan dan berangkat untuk belanja bahan langsung di Muntilan dan beli beras di penggilingan padi milik petani.

Semua bahan bantuan dikemas untuk dua kampung. Salah satu ‘pimpinan desa” tersebut menjemput kami dan menghantar kami membeli beras di penggilingan padi.

Baca Juga: FPI dan Kemanusiaan

Saat membayar, ternyata ada beda harga dua kali antara harga di penggilingan dan harga yang dipatok orang yang ngaku piminan desa.

Dan kami dipaksa membayar dengan harga lebih mahal. Tidak itu saja, setelah kembali ke Yogya, desa sebelah telepon menanyakan jatah mereka. Saya bilang: saudara Anda berjanji nanti ia akan meneruskan jatah kalian ke desa Anda.”

Ternyata bantuan itu dimonopoli untuk satu desa dalam rangka kepentingan kampanye pencalonan anggota DPR. Dari desa sebelah yang tidak kebagian saya mendapat SMS simpatik: dana untuk kami sudah anda pakai untuk buka mal ya?

Dan kita akan menambah nomor tujuh ini dengan certa dari Adonara, Lembata, Alor, Kupang, Sabu dan Sumba.

Situasi bencana dan konflik adalah situasi tidak biasa. Mari kita mawas diri.

Yogyakarta, 14 April 2021.

Tulisan ini kami ambil atas izin dari akun FB miliknya. / Foto tangkapan layar FB

Sebarkan Artikel Ini:

3
Leave a Reply

avatar
3 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: “Bencana” dan Bencana – Relawan dan “Relawan” […]

trackback

[…] Baca Juga : “Bencana” dan Bencana – Relawan dan “Relawan” […]

trackback

[…] Baca Juga: “Bencana” dan Bencana – Relawan dan “Relawan” […]