Perang Tanding sebagai Bentuk Komunikasi dan Kontradiksi Niat Baik Pemerintah dalam Upaya Rekonsiliasi

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Mengapa Kontradiktif? Uraian paling cepat yang bisa kita berikan pada bagaimana negara bereaksi pada konflik adalah dengan cara melihat konflik sebagai sebab dari terganggunya stabilitas sosial.

Cara negara memahami soal inilah kemudian meruntuhkan satu-satunya hal yang dimiliki oleh masyarakat adat adalah eksistensi dirinya, mengatur, merawat dan menyelesaikan berbagai dimensi yang sering terjadi di dalam dirinya.

Sebuah masyarakat yang telah dihantam oleh wabah, akan tunduk di rezim yang beroprasi ungkap Michel Foucault.

Tentu akses pada alat produksi, kemampuan merumuskan soal dan menyelesaikan konflik, menjadi semakin kecil nilainya ketika eksistensial itu dilanggar secara terang-terangan.

Baca Juga: Redefinisi Perang Tanding Dalam Prespektif Masyarakat Adonara

Selain bahwa orang Adonara merumuskan serta memahami konflik tanah dengan pendekatan-pendekatan lokalitas yang mereka punyai, ia juga kemudian mengejawantahkan pengetahuan lokal melalui model komunikasi lokal yang ada di dalam pemahaman masyarakat lokal.

Perang tanding adalah salah satu bentuk komunikasi lokal yang dimiliki oleh orang Adonara. Yang menjadi problem justru bukan pada perang tanding itu sendiri, melainkan dimensi kekerasan yang sering dipandang masyarakat luas sebagai pelanggaran pada hak asasi kemanusiaan.

Di wilayah inilah kemudian media bekerja menyebarkan informasi yang mereka pahami memiliki dimensi kekerasan, pada saat yang sama kemudian negara beroporasi mengatasi hal yang sama.

Berbasis pada satu dimensi kekerasan kemudian tidak membuka peluang bagi orang lokal meredefinisi kembali apa yang mereka maknai dari perang tanding.

Baca Juga: Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara

Dimensi kekerasan terlanjur diberikan sehingga membatalkan jenis pengetahuan lokal seperti Koda Kirin, Rera Wulan Tanah Ekan atau jenis-jenis komunikasi lokal yang sering digaungkan oleh masyarakat adat dilupakan.

Pengetahuan-pengetahuan melalui kekuasaan yaitu negara beroprasi di sana tanpa sedikitpun memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk menyelesaikan sendiri konflik lokal sesuai dengan model komunikasi lokal yang mereka miliki, dan pola penyelesaian seperti apa yang mereka inginkan.

Komunikasi Lokal Melalui Institusi Dewan Adat

Intervensi terhadap konflik hanya bisa terjadi persis ketika orang yang berkonflik tidak mampu mendefinisikan konflik seperti apa yang mereka alami, atau mencari model-model penyelesaian seperti apa yang mereka inginkan.

Di wilayah inilah sering kemudian kita temukan silang sengkarut negara beroprerasi.

Tawaran paling cepat yang bisa kita berikan adalah memungkinkan terciptanya institusi bernama dewan adat. Tentu saja dewan adat yang dimaksud tidak secara literer dipahami sekumpulan tetua adat, melainkan daripada itu, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh akademisi dan berbagai elemen lain yang memahami perang tanding di Adonara.

Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jati Diri Anak Adonara (Bagian pertama dari lima tulisan)

Maka perlu menjadi bagian paling penting dalam mendefinisikan kembali konflik dan menyelesaikannya tentu bukan dengan cara negara, melainkan dengan cara masyarakat – menurut kearifan lokalnya.

Pintu masuk paling cepat yang bisa kita sodorkan adalah menggunakan perangkat komunikasi lokal yang dimiliki sebagai akses dalam melihat perang tanding di Adonara.

Tentu saja dilematis yang sering kita terima dari perlakuan negara dalam mendamaikan konflik adalah selalu dengan pendekatan yang sama.

Hal itu kemudian menutup seluruh model-model alternatif yang sebetulnya bisa lebih kontekstual jika ia dijalankan dengan pendekatan-pendekatan kearifan lokal.

Tentu kita dengan sadar mengatakan bahwa niat baik negara dalam merespon setiap konflik yang dialami warga negara adalah niat baik yang tumbuh dengan berbagai petimbangan dimensi etis yang dimiliki oleh negara.

Baca Juga: “Marin Oneket” dalam Prespektif Psikologi Positif

Tetapi pada saat yang sama, negara bertindak melampaui apa yang dimengerti sebagai konflik lokal dengan model-model pendekatan yang didesain negara. Negara tidak pernah berhasil memahami, Cinta yang sempurna adalah yang tak membuatmu bahagia.

Ungkap Novelis Denmark, Soren Kierkegaard sehingga dengan segala macam otoritas, negara beroprasi pada apa yang bahkan tidak mereka pahami sebagai konflik  lokal. Pendekatan semacam itu yang kemudian dapat kita sebut sebagai Kontradiksi Niat Baik.

Dua tulisan – kemarin dan hari –  ini, merupakan uraian secara cepat atas Skripsi penulis di program studi ilmu komunikasi dengan judul Kontradiksi Niat Baik –  / Foto diambil dari laman Facebook Pesona Wisata Lamahelan

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of