Redefinisi Perang Tanding Dalam Prespektif Masyarakat Adonara

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

“Mereka menarik dan membantingku. Aku terbaring dengan kepala di anak tangga. Aku melihat salah satu tentara mengawasi sementara yang lain merobek pakaian dalamku dan dengan brutal memperkosaku. Tetapi kami kemudian berkata, lebih baik Rusia di atas perutmu daripada Amerika di dalam kepalamu.”

A Woman In Berlin. Max Färberböck

Eposdigi.com – Uraian ini berusaha secara cepat menerjemahkan dengan cara yang paling dekat untuk melihat konflik di Adonara sebagai problem yang tak kunjung selesai.

Tentu saja uraian ini tak akan memeriksa pada satu dan lain sisi perang tanding sebagai sebuah tindakan buta, melainkan akan masuk lebih jauh pada wacana apa yang beroprasi dan dengan cara apa kemudian perang tanding  di Adonara di pahami oleh Negara.

Hampir bisa dipastikan bahwa setiap kita membayangkan konflik sebagai sebuah dimensi kekerasan. Di satu sisi kita akan berpikir bahwa tak akan ada jenis negosiasi lain yang bisa kita tempuh selain bahwa kita akan menggunakan perangkan hukum formal yang diproduksi oleh Negara, atau menghadirkan pihak aparat guna meredam konflik.

Baca Juga: Perang Historis Adonara : Future without War, but Warriorship

Persis di titik itu pulalah kemudian tujuan dari tulisan ini ingin memeriksa lebih jauh perihal konflik yang melibatkan individu dalam sisi patriotiknya sebagai warga Negara sekaligus masyarakat adat di pulau Adonara, serta pada saat yang sama ingin melihat lebih jauh, bagaimana kemudian kita memahami perang tanding sebagai sebuah konflik yang sering terjadi di pulau Adonara.

Konflik Dan Cara Mereka Memahaminya

Nasib seorang perempuan di Jerman di awal tahun 1930-an yang direkam secara baik oleh Max di dalam The Women In Berlin menujukan bahwa ada jenis ideologi yang beroprasi di dalam konflik yang pada kemudian hari melahirkan tragedi bagi seorang perempuan.

Tetapi di dalam segala macam variabel yang bisa ia pakai untuk memeriksa pengalaman individunya pada konflik, ia kemudian memilih bahwa lebih baik ia diperkosa sebagai seorang perempuan Jerman daripada ia kehilangan dimensi ideologisnya sebagai seorang perempuan sekaligus warga negara Jerman.

Refleksi atas tragedi yang bisa kita periksa secara cepat pada nasib seorang perempuan di Jerman adalah problem kedirian (Individu yang retak), bekas pada wajah sosial, sekaligus problem ideologis.

Baca Juga: Perang Tanding, Kriminalitas dan Perdamaian di Adonara

Tentu saja ada rezim yang beroprasi di sana, ada pemimpin yang tolol atau pengaruh luar negeri sedemikian hebat untuk mendesain konflik di negara lain.

Dampak paling kecil yang bisa dirasa dengan cepat adalah kekerasan pada perempuan atau tragedi kematian pada begitu banyak orang di perang dunia pertama dan perang dunia ke dua. (Apocalypze).

Di Indonesia, mereka (negara) melihat konflik sebagai sebuah tragedi karena mempertimbangkan dimensi kekerasan di satu sisi dan ketertiban nasional di sisi lain.

Pemberontakan pasca kemerdekaan memiliki satu sumber paling dekat yang bisa kita periksa adalah bagaimana perjanjian konfrensi meja bundar di Den Hag Belanda melahirkan satu proses hak kepemikian atas tanah diberikan pelimpahan sepenuhnya pada bangsa asing yang pernah menjajah Indonesia.

Di kemudian hari, tanah-tanah liar yang diduduki oleh masyarakat lokal di beberapa daerah harus menelan pahitnya keputusan itu untuk tidak memiliki hak ulayat atas tanah.

Ekosistem bermasalah terkait berbagai keputusan itu mempengauhi cara Negara kemudian bertindak atas setiap konflik yang dihasilkan warga negara yaitu dengan dua pendekatan.

Pertama, hukum formal, dengan ditandai bahwa semua kasus tentang tanah harus diselesaikan di pengadilan dengan berbagai pendekatan traktat hukum yang telah dicatat. Dan Kedua, militer.

Kita dapat menjumpai bahwa dua pendekatan ini adalah yang paling dominan dipakai untuk mengatasi setiap konflik di Indonesia.

Baca Juga: Perang Historis Adonara (Bagian Pertama): Vatter dan Bias Pendekatan

Tentu dua pendekatan yang sering mendominasi negara dalam menyelesaikan setiap konflik bergantung pada bagaimana negara menerjemahkan kekuasaan. Kekuasaan dalam kacamata negara adalah kekuasan terpusat, sentral dan beku pada jabatan tertentu yang diperoleh, atau pada kekuasaan tertentu yang dipegang.

Padahal jika merujuk pada Michel Foucault, kekuasaan itu menyebar dan ada di mana-mana. Tidak terpusat dan tidak dimiliki oleh satu orang. Cara mendefinisikan kekuasaan ini kemudian berdampak pada kehadiran negara dalam menyelesaikan konflik masyarakat.

Kehadiran negara pada beberapa konflik persis terjadi hanya ketika orang yang berkonflik tak mampu merumuskan jenis alternatif di dalam konflik yang ia alami.

Problem semacam ini pula kemudian membuat kehadiran negara menjadi sangat semberono ketika menerjemahkan setiap konflik yang dialami baik itu bersifat konflik tanah ulayat maupun tanah sengketa.

Bagaimana Memahami Perang Tanding?

“Tak ada waktu tersia-sia dalam mencintai..” Kalimat sederhana dalam Love Time In Cholera karya Gabriel Garcia Marquez itu merepresentasikan seluruh sisi kemanusiaan kita pada apa itu mencintai di dalam konflik, dan bagaimana bereaksi terhadap konflik.

Pertengkaran sering membuat orang kemudian merasa bahwa mereka tak bisa menerima satu dengan yang lain. Tentu konflik yang bisa kita pahami adalah bukan lagi hanya sebatas pada dimensi kekerasan atau non kekerasan.

Di Adonara, kita kemudian dapat menyebutkan bahwa konflik itu melibatkan dimensi metafisik yang hanya bisa dijelaskan oleh orang Adonara. Keterlibat leluhur, Rera Wulan Tanah Ekan atau menguraikan perasaan cinta dalam dimensi yang berbeda. Seperti ungkapan Jaquez Lacan, ‘kekerasan juga merupakan bahasa komunikasi’.

Baca Juga: Menuju Adonara Baru (Penutup tiga tulisan)

Orang Adonara mengenal kepemilikan atas tanah tidak sebatas pada kepemilikan fisik, melainkan lebih jauh daripada itu, ada dimensi kepemilikan esensial, atau kepemilikan kolektif metafisis dimana warisan nenek moyang atau hak atas tanah ulayat melekat dengan satu pernyataan yang sering dikenal dengan Koda Kirin.

Dimensi ini kemudian menuntun mereka menjadikan tanah sebagai ibu, merawat dan membela entah dengan cara apapun.

Pendekatan teks orang Adonara pada tanah sebagai materi bukan persoalan pendekatan atas hak kepemilikan semata. Dugaan awal bisa kita periksa dari bagaimana orang Adonara membela dengan terang hak kepemilikan mereka atas tanah.

Dimensi ini yang kemudian menjadi titik balik bahwa tidak seorangpun memahami apa yang dimaksud oleh orang Adonara dalam mendefinisikan tanah sebagai ibu, atau tanah sebagai materi yang tidak perlu diletakan dimensi kekerasan di sana.

Kalau tanah sudah bengkok, maka darah harus jatuh.” Begitulah ungkapan Tomas Ola Tokan yang saya terjemahkan secara harafiah.

Baca Juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup)

Persis di wilayah inilah kemudian wacana tentang perang tanding menjadi wacana yang tak pernah kering di dalam perdebatan tentang tanah bagi masyarakat Adonara.

Beroprasinya ilmu pengetahuan tentang hak pemilikan dan hak eksistensial lahan produksi yang ingin didudukan di Adonara menjadi timpang, tepat ketika orang Adonara tidak pernah berhasil mendefinisikan tanah yang diperebutkan itu berangkat dari dalil semacam apa.

Dimensi memahami perang tanding di Adonara inilah yang hilang di dalam percakapan publik tentang perang di Adonara. Selain bahwa di lain kesempatan negara mengambil alih seluruh diskursus tentang perang tanding di Adonara. Bersambung….

Foto oleh Rahman Sabon Nama – dari patrolipost.com

Sebarkan Artikel Ini:

1
Leave a Reply

avatar
1 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Redefinisi Perang Tanding Dalam Prespektif Masyarakat Adonara […]