Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Benarkah Piin Adalah Totem dan Larangan Menikah Sesama Suku adalah Taboo?

Eposdigi.com – Realita kehidupan orang Adonara sungguh tidak terbantahkan dari pantangan-pantangan terhadap hewan dan benda-benda yang disakralkan. Suku / Marga yang ada di Adonara mempunyai pantangan, tidak boleh makan / mengkonsumsi terhadap hewan-hewan tertentu seperti babi, kerbau, tokek, anjing, gurita.

Tidak hanya makanan, pun ada banyak pantangan lain. Tidak boleh memelihara hewan tertentu, tidak boleh menjual benda tertentu, tidak boleh memiliki benda-benda tertentu. Begitupula benda-benda yang dianggap sakral seperti nuba nara (batu), orin geraran atau koke bale (rumah adat), eken matan pito (bambu dengan tujuh ruas), maupun ekan geraran (tempat yang dianggap sakral).

Pantangan terhadap hewan-hewan ini artinya tidak boleh dikonsumsi dan terhadap benda-benda yang disakralkan tentu mempunyai nilai luhur yang sangat diyakini sebagai pembawa keselamatan.

Baca Juga: Agama Koda : Alap’et Rera Wulan Tana Ekan – ARWTE

Apa yang dianggap sakral oleh suatu masyarakat oleh Freud disebut sebagai Totem. Dan larangan-larangan yang berkaitan dengan Totem disebut sebagai Tabbo.

Untuk memahami konsep totem dan tabbo, mari kita melihat bagaimana kehidupan primal hordes atau kehidupan di mana sebuah keluarga besar yang terdiri dari wanita dan anak-anak yang didominasi oleh laki-laki pada zaman prasejarah.

Dengan adanya kehidupan yang didominasi oleh laki-laki, tentu akan menimbulkan berbagai macam pertanyaan terkait pemenuhan dorongan seksualitas. Bagaimana mereka menyalurkan hasrat seksual itu agar mampu meregenerasi atau meneruskan keturunan mereka.

Sedangkan tampilan realita hanya menunjukkan ketunggalan identitas, yakni ibu mereka sendiri. Bagaimana bisa mereka memperisteri seorang perempuan, sedangkan perempuan tersebut adalah ibu yang melahirkan mereka.

Baca Juga: Benarkah Masyarakat Adonara Murni Patrilineal?

Lantas jikalau iya, mereka tentu akan dihadapkan dengan perasaan bersalah terhadap ayah mereka.

Dalam sebuah situasi, anak-anak ini ternyata mengalami perasaan kecewa dan cemburu terhadap ayah mereka. Rasa kecewa dan cemburu  ini muncul karena mereka tidak bisa menyalurkan hasrat sesksual mereka terhadap ibu mereka.

Keadaan ini tentu akan menimbulkan ambivalensi atau sebuah situasi pertentangan antara hasrat-hasrat yang begitu kuat. Mereka ingin melakukan sesuatu, namun pada saat yang sama juga tidak ingin melakukannya, (Daniel L. Pals, 2001:105).

Akan tetapi karena dorongan seksualitas ini begitu kuat, maka laki-laki (anak), akhirnya bersepakat untuk membunuh ayah mereka agar bisa memperisteri ibu mereka sendiri. Anak-anak ini awalnya merasa bebas dan senang, namun kemudian dihantui oleh rasa bersalah dan penyesalan karena telah melakukan pembunuhan.

Rasa bersalah ini yang kemudian memunculkan totem. Totem merupakan kebiasaan sebuah suku atau klan yang mengasosiasikan diri mereka dengan binatang atau tumbuhan tertentu yang dianggap sebagai objek sakral.

Baca Juga: “Marin Oneket” dalam Prespektif Psikologi Positif

Karena rasa bersalah anak-anak terhadap ayah yang telah mereka bunuh, akhirnya disakralkanlah hewan tertentu sebagai simbol pengganti dari ayah mereka. Entah itu kerbau, sapi, monyet, pohon besar dan lain sebagainya.

Mereka kemudian mensakralkan benda, tumbuhan atau hewan tersebut dan ketika mereka memakannya, maka mereka sudah melakukan taboo.

Taboo merupakan kebiasaan suatu suku untuk menyatakan hal yang terlarang atau tidak diperbolehkan. Anak-anak ini telah menyatakan tabbonya “yaitu mensakralkan atau tidak boleh memakan apa yang sudah ditotemkan (kerbau, monyet, sapi, dll).

Seiring berjalannya waktu, ternyata penyesalan dan rasa bersalah yang dialami anak-anak terus muncul dalam rasa perasaan mereka yang paling dalam.

Rasa bersalah ini yang memunculkan taboo berikutnya, yakni larangan berhubungan seks dengan orang yang sedarah (incest) sehingga perkawinan hanya dilakukan dengan sistem exogamus; dengan orang yang berasal dari suku lain.

Kebiasaan ini juga telah terjadi termurun-temurun dalam adat dan budaya orang Lamaholot, khusunya orang Adonara.

Baca Juga: Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?

Terlepas dari padangan biologis yang menyatakan perkawinan sedarah akan memunculkan kelainan terhadap anak yang dilahirkan, orang Adonara jauh sebelum itu sudah memiliki peraturan akan larangan terhadap incest (seks dengan orang yang sedarah)  bahkan larangan pernikahan dalam satu marga / suku.

Akan tetapi, apakah betul budaya mensakralkan hewan dan tumbuhan serta larangan-larangan incest tersebut berasal dari konsep totem dan taboo?

Tentu dalam konteks Adonara, perlu digali lebih dalam, apakah totem dan tabbo berkaitan dengan kecemburuan anak terhadap ayah, sebagaimana digambarkan oleh Sigmun Freud?

Ini yang menjadi pertanyaan besar kita bersama, karena dari kecil kita selalu disugui jawaban yang irasional terkait alasan-alasan dari larangan tersebut. Sebagai contoh karena kita dilahirkan dari binatang … atau kita pernah diselamatkan oleh….Pernyataan itu yang dijadikan alasan untuk pembenaran terhadap larangan-larangan tersebut.

Dalam konteks Adonara adalah teka teki yang sulit dipecahkan. Karena akan selalu ada hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh akal serta pikiran kita. Lantas, siapakah yang berani melakukan pelanggaran terhadap larangan tersebut?

Baca Juga: Perempuan (Ina Wae) Adonara Adalah Berkat

Sebagai orang yang benar-benar paham akan adat dan budaya Adonara, tentu tidak akan pernah berani untuk melanggar totem dan tabbo tersebut. Karena konsekwensi dari pelanggaran tersebut tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

Tidak terbatas ruang artinya, ketika melakukan pelanggaran dan keluar dari Adonara, hukum alam akan tetap mengejar. Tidak terbatas oleh waktu artinya karma atas perbuatan larangan akan terus terjadi sampai kepada lintas generasi.

Walaupun orang yang melakukan pelanggaran tersebut sudah meninggal, hukum alam akan tetap mengejar sampai kepada anak cucnya. Hukum alam ini biasanya mengejar jika permasalahan tersebut belum diselesaikan secara adat dan budaya orang Adonara.

Sekali lagi saya mencoba mengajak semua, apakah betul piin adalah totem dan geraran adalah tabbo sesuai apa yang diyakini oleh Freud?

Kita di Adonara juga punya totem dan tabbo. Totem dan Tabbo kita yang sangat beragam itu dari manakah datangnya? Apa peristiwa yang melatarinya?

Inspirasi utama tulisan ini adalah buku Rekonstruksi Kebenaran; Kritik Tujuh Teori Agama. Oleh Daniel Pals. Diterbitkan oleh IRCiSod. Yogyakarta – 2001

Sebarkan Artikel Ini:

2
Leave a Reply

avatar
2 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara […]

trackback

[…] Baca Juga: Totem dan Tabbo dalam Konteks Adonara […]