Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona

Ketahanan Pangan
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Pandemi global corona kini dibayangi oleh krisis pangan global. Negara-negara eksportir utama pangan seperti Vietnam dan Thailand hingga saat ini masih menutup ekspor beras  dari negaranya.

Pembatasan fisik  di sejumlah negara eksportir utama mengakibatkan ancaman serius pada produksi pertanian yang biasanya padat karya. Ini termasuk diantaranya aktifitas-aktifitas pemrosesan paska panen hingga pendistribusian dari petani ke konsuman akhir.

Cnnindonesia.com ( 03/05/2020) misalnya, menulis bahwa tidak ada jaminan suplai karena rantai pasok pangan yang terganggu. Bisa saja ditingkat petani ketersediaan pangan mencukupi namun karena pendistribusiannya terhambat berbagai kebijakkan karantina (lockdown) mengakibatkan bahan pangan tidak terdistribusikan hingga ke konsumen.

Pada saat yang sama, harga pangan global menjadi lebih mahal akibat sentimen negatif mata uang negara importir terhadap dolar Amerika. Penguatan Dolar AS menjadikan harga bahan makanan impor menjadi lebih mahal.

Di Indonesia pun krisis pangan ini mulai terendus hidung media.  Gula misalnya, seperti diberitakan oleh detik.com ( 07/05/2020), saat ini terjadi kelangkaan di pasar akibat terbatasnya impor dari India. Lockdown di India menjadi biang.

Baca Juga: Stunting, ‘SoLor’, dan “Syuting” di Flores Timur, Dari SoLor – Menggempur Stunting menuju Kedaulatan Pangan. (Bagian kedua dari dua tulisan)

Sedangkan beras, diperkirakan saat ini masih ada stok sekitar 2,8 juta ton. Cukup untuk mencukupi kebutuhan selama kurang lebih satu bulan ke depan.

“Sedangkan pasokan beras akhir tahun dikatakan aman, ” kata Rusli Abdullah Pengamat Pangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF),  “jika surplus 8 juta ton untuk makan selama 3 bulan ke depan sambil menunggu masa panen raya di Maret 2021.” (detik.com- 07/05/2020).

Sementara itu lahan pertanian untuk pangan cendrung tergusur oleh tanaman industry lain, ataupun untuk property yang bersifat komersial.

Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat penyusutan lahan pertanian sebesar 60 ribu hektar, yang beralih fungsi untuk kegiatan non pertanian. Penyusutan lahan ini setara dengan kehilangan 300 ribu ton beras setiap tahun (katadata.co.id-14/01/2020).

Belum lagi masalah klasik lainnya misalnya kondisi cuaca yang tidak menentu, pergeseran musim tanam, kelancaran distribusi pupuk (katadata.co.id – 07/05/2020).

Langkah-langkah pemerintah sebagai bagian dari mitigasi kerawanan pangan ini perlu mendapat dukungan semua pihak. Lembaga keuangan untuk relaksasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bidang pertanian, membuka lahan pertanian baru milik BUMN, system pasokan langsung dari petani ke konsumen menjadi senjata pemerintah menghadapi efek samping corona tersebut.

Masyarakat pun sejatinya bisa menjadi bagian dari upaya mitigasi ini. Mengoptimalkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai bahan makanan menjadi salah satu kunci mengatasi krisis pangan.

Baca Juga: Benih Subsidi dan Kemandirian Petani

Dalam skala NTT dan Flores Timur misalnya, distribusi beras baik dari Surabaya maupun Makassar yang bisa saja berkurang karena berbagai pembatasan selama pendemi corona seharusnya tidak menjadi persoalan serius ketika pemerintah bersama masyarakat menggalakkan sorgum sebagai bagian dari ketahanan pangan.

Sorgum bisa jadi solusi jangka pendek maupun jangka panjang menuju kedaulatan pangan di Flores Timur dan NTT. Sorgum dengan tingkat adaptasi yang sangat baik terhadap lahan pertanian kering seperti kebanyakkan daerah di NTT bisa menjadi alternatif solusi ketahanan pangan.

Karenanya suprastruktur pertanian sorgum perlu dipersiapkan secara serius oleh pengambil kebijakkan dibidang pertanian di NTT. Regulasi, instrumen pendanaan, pelatihan SDM, harus diupayakan untuk mendorong ketahanan pangan melalui sorgum.

Subsidi dan berbagai insentif lain berupa teknologi tepat guna bidang pertanian baik selama persiapan lahan  maupun untuk paska panen harus menjadi prioritas diantaranya.

Selama pemerintah masih memunggungi sorgum, maka kedaulatan pangan di Flores Timur masih menjadi mimpi yang teramat panjang. (Foto : ladang Sorgum / poskupang.com)

Sebarkan Artikel Ini:

5
Leave a Reply

avatar
5 Discussion threads
0 Thread replies
0 Pengikut
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
0 Comment authors
Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
trackback

[…] Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona […]

trackback

[…] Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona […]

trackback

[…] Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona […]

trackback

[…] Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona […]

trackback

[…] Baca Juga: Krisis Pangan Mengintai di balik Punggung Corona […]