Eposdigi.com – Mengapa dalam ritual adat Lamaholot, harus hewan hidup yang dipersembahkan? Mengapa tubuhnya harus dibaringkan terlentang, dengan dada menghadap langit? Mengapa darahnya dioleskan pada pintu rumah, tiang rumah adat, atau empat penjuru kebun?
Dan…Mengapa dalam setiap ritual harus ada Koten, Kelen, Hurit, dan Maran?
Apakah semua itu sekadar tradisi nenek moyang? Ataukah ada pesan besar yang selama ini luput dari pemahaman kita?
Banyak orang melihat ritual adat Lamaholot hanya sebagai penyembelihan hewan. Padahal, jika kita mau menyelaminya lebih dalam, ritual ini sesungguhnya adalah sebuah konstitusi sosial yang telah hidup jauh sebelum lahirnya negara modern.
Ia bukan hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan. Ia juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Dengan tanah. Dengan alam. Dengan leluhur. Bahkan dengan seluruh tatanan kosmos.
Di balik setiap tetes darah yang jatuh ke tanah, tersimpan filsafat kehidupan yang telah menjaga masyarakat Lamaholot selama berabad-abad.
Baca Juga:
KODA: “Menjaga Alam adalah Menghormati Rera Wulan Tana Ekan”
- Koten, Kelen, Hurit, dan Maran.
Empat Fungsi yang Menjaga Dunia Tetap Seimbang.
Banyak orang mengira Koten, Kelen, Hurit, dan Maran sejak awal merupakan nama marga atau suku atau klan. Padahal, dalam pemahaman banyak komunitas adat Lamaholot, keempatnya pertama-tama adalah fungsi sosial, bukan sekadar identitas keturunan.
Mereka adalah pembagian tanggung jawab. Tidak ada satu orang yang berkuasa atas seluruh ritus. Tidak ada satu klan yang dapat berdiri sendiri.
Koten memimpin. Kelen menopang. Hurit melaksanakan. Maran menghubungkan manusia dengan Lera Wulan Tana Ekan melalui doa dan mantra.
Empat fungsi ini saling mengikat. Saling mengawasi. Saling melengkapi.
Inilah bentuk “checks and balances” yang telah hidup dalam adat Lamaholot jauh sebelum istilah itu dikenal dalam ilmu politik.
Bagi leluhur, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang setiap unsurnya bekerja bersama, sebagaimana tubuh manusia hanya dapat hidup ketika seluruh organ menjalankan fungsinya.
Baca Juga:
Tradisi Tuno Manuk : Manifestasi Restu, Kebanggaan dan Rahim Yang Tak Boleh Dilupakan
- Mengapa Fungsi Kelen Bisa Berpindah?
Inilah salah satu kecerdasan hukum adat Lamaholot. Ketika ritual dilakukan di tanah milik klan lain, fungsi Kelen berpindah kepada pemilik tanah tersebut.
Mengapa? Karena adat sedang mengucapkan kalimat yang sangat sederhana, tetapi penuh makna: “Kami menghormati hakmu.” Tanpa surat. Tanpa sertifikat. Tanpa pengadilan. Pengakuan itu disampaikan melalui ritual. Sebuah diplomasi adat yang sangat halus.
Dalam pandangan leluhur, tanah bukan benda mati. Tanah memiliki martabat. Memiliki sejarah. Memiliki hubungan dengan para leluhur. Karena itu, penghormatan kepada tanah sama pentingnya dengan penghormatan kepada manusia.
Baca Juga:
- Mengapa Hewan Harus Hidup dan Terlentang?
Tidak ada bagian ritual yang dilakukan tanpa makna. Hewan dipersembahkan dalam keadaan hidup karena “kehidupan”-lah yang sedang dipersembahkan.
Sedangkan posisi terlentang bukanlah kebetulan. Punggung adalah lambang pertahanan.
Dada adalah lambang keterbukaan. Dengan dada menghadap langit, hewan berada dalam keadaan pasrah sepenuhnya.
Tidak lagi mempertahankan diri. Tidak lagi menyembunyikan apa pun. Pada saat yang sama, posisi ini memudahkan para tetua adat membaca tanda-tanda pada organ vital hewan sebagai bagian arah dan petunjuk sesuai tradisi leluhur.
Dalam pembacaan simboliknya, langit dan bumi dipertemukan kembali melalui persembahan itu, sebagai lambang dipulihkannya keseimbangan kehidupan.
Baca Juga:
- Mengapa Darah Dioleskan?
Mengoleskan darah pada pintu rumah, tiang adat, atau empat penjuru kebun bukanlah tindakan tanpa arti. Itu adalah penanda. Penanda perlindungan. Penanda batas. Penanda kehidupan.
Darah menjadi simbol bahwa ruang tersebut telah dipersembahkan, dihormati, dan dimohonkan perlindungan kepada Sang Pemilik kehidupan. Karena itu…Jangan hanya melihat darahnya. Jangan hanya melihat hewan yang dikurbankan.
Dengarkan mantra yang dilantunkan oleh Maran. Di sana ada penjelasan, di sana ada alasan dan di sana ada sejarah yang tidak pernah ditulis dalam buku.
Perhatikan pembagian peran Koten, Kelen, Hurit, dan Maran.
Di sana ada hukum sosial yang menjaga persatuan masyarakat Lamaholot sejak ratusan tahun silam. Kita boleh hidup di era modern.Kita boleh memeluk agama-agama besar. Namun selama akar budaya tetap kita hormati, kita tidak akan kehilangan arah.
Baca Juga:
Menyelami Rahasia Inkarnasi Dalam Mitos Manusia Pertama di Lamaholot
“Sebab, ketika tiang adat roboh dan “koda kirin” tidak lagi terdengar, di situlah kita benar-benar menjadi yatim piatu di tanah kelahiran kita sendiri”.
Mungkin inilah sebabnya leluhur tidak pernah mewariskan hanya sebuah ritual. Mereka mewariskan cara menjaga keseimbangan hidup. Dan tugas kitalah memastikan warisan itu tidak berhenti pada generasi kita.
Bagaimana menurut Anda? Apakah makna-makna seperti ini masih relevan bagi masyarakat Lamaholot di zaman sekarang?
Leave a Reply