Menguji Agama Koda Dengan Alienasi Feuerbach

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposgidi.com- Ludwig Andreas Feuerbach adalah seorang filsuf Jerman. Ia lahir pada tahun 1804 dan meninggal pada 1872. Ia belajar langsung di bawah Friedrich Hegel sehingga pemikiran banyak dipengaruhi oleh sang guru.

Pemikiran Feuerbach yang utama adalah esensi kesadaran manusia akan agama. Ia beranggapan bahwa Tuhan adalah ciptaan kesadaran manusia. Bukan sebaliknya. Keyakinan manusia akan adanya surga dan neraka hanyalah proyeksi manusia akan ketidakberdayaannya.

Tuhan Yang Maha Segalanya adalah hasil dari proyeksi manusia. Sesuatu yang diinginkan manusia untuk menutupi kelemahan dirinya.

Pun tentang surga. Semua keindahan surga, tidaklah nyata demikian. Surga hanyalah gambaran-gambaran ideal yang dibuat manusia. Untuk menutupi segala realitas kekurangannya.

Namun rupanya manusia terjebak pada hakekatnya sendiri. Tuhan yang ia proyeksikan dan surga yang dijanjikan oleh agama malah menjadi sebuah realitas yang sempurna.

Dari yang sebelumnya proyeksi oleh manusia, Tuhan kemudian malah diyakini memiliki hakekat yang sempurna. Yang kemudian disembah oleh manusia. Tuhan adalah jawaban atas semua keinginan manusia.

Baca juga: Agama Koda : Pilar Utama Pembentuk Jatidiri Anak Adonara (Penutup)

Oleh Karl Marx, pemikiran Feuerbach diberi motif ekonomi. Tuhan adalah proyeksi manusia atas ketidakberdayaan secara ekonomis. Surga adalah empunya kaum miskin. Mereka yang menzolimi yang miskin dan papa akan diganjar dengan neraka.

Feuerbach melihat realita ini adalah bentuk keterasingan (alienasi) manusia dengan dirinya sendiri. Alih-alih meningkatkan realitas potensial dirinya, manusia justru mengharapkan pemenuhan itu dari hasil proyeksi keinginannya yaitu Tuhan.

Aliensi Feuerbach justru dikompori oleh Karl Marx, sebagai saudara satu guru (Hegelian muda) dengan mengatakan bahwa agamalah yang menjadi penyebab manusia betah akan ke-papa-an dirinya.

Semakin miskin dan papa seseorang, makin besar peluangnya masuk surga. Orang kaya bahkan kalah dari unta. Unta bahkan lebih mudah masuk lubang jarum, dibandingkan dengan orang kaya masuk surga.

Bagaimana dengan Agama Koda? Apakah alienasi Feuerbach yang diamini oleh Marx juga terjadi pada  Lamaholot? Bagaimana dengan surga dan neraka?

Sepengetahuan saya tidak ada batasan surga dan neraka dalam alam pemikiran spiritual Agama Koda. Spiritualitas masyarakat Lamaholot hanya meyakini kehidupan setelah kematian yang dikenal sebagai Koda Kewokot.

Baca juga: Agama Koda: Way Of Life Atadiken Adonara

Koda Kewokot adalah alam kehidupan yang sebenarnya, oleh setiap orang. Manusia seperti malaikat, atau bahkan penjahat paling bajinganpun pada akhirnya akan menuju Koda Kewokot.

Tidak ada ganjaran surga dan neraka menurut spiritualitas Agama Koda. “Ra matana kae ne, raena gohu”. Mereka yang sudah beralih kehidupan, “tubena” / roh mereka akan menuju Koda Kewokot.

Bukan berarti setiap perilaku bebas dari karma. Ada amal baik. Ada dosa. Amal baik berbuah karma baik. Dosa berbuah karma buruk. Karma buruk mengharuskan pertobatan.

Pun dalam Agama Koda. Tapi pertobatan dalam Agama Koda berbeda. Pertobatan manusia bukan demi janji surga. Pertobatan Ata Diken Lamaholot adalah demi rekonsiliasi. Kualitas hidup spiritualitas masyarakat Lamaholot adalah keselarasan dan harmoni dengan semua makhluk ciptaan.

Bahkan pasir dan kerikil pun memiliki roh. Tube mange. Semua yang tumbuh dari tanah memiliki tube mange. Apalagi manusia. Kualitas hidup paling baik  Lamaholot adalah hubungan yang harmonis dengan sesamanya.

Mereka yang meninggal sudah selesai dengan dunia fana. Bahwa ada karma buruk yang dilakukan oleh mereka yang sudah meninggal maka harus diselesaikan oleh anak cucu keturunannya. Namun bukan demi pertobatan menuju janji surga.

Rekonsiliasi dari karma buruk dalam spiritualitas Lamaholot adalah demi keselarasan dan harmonisasi dengan semua ciptaan. Terutama dengan sesama manusia.

Baca juga: Menjadi Manusia Beragama Dan Manusia Berbudaya (Ber-Adat) Adonara

Koda Pulo Kirin Lema Nete Nai Tekan Pahanet” tidak boleh dilihat sebagai fatalisme. Semua kesalahan yang dilakukan oleh  Lamaholot, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal adalah jalan untuk mempererat lagi jalinan keselarasan dengan semua ciptaan.

Terutama untuk mengikat lagi persaudaraan dengan sesama manusia.

Maka ritual-ritual kematian seorang adalah ritual untuk membina hubungan lebih erat antara keluarga-keluarga yang terhubung dengan yang meninggal. Ritual Ohon Hebo misalnya.

Ohon Hebo adalah ritual yang menghubungkan semakin erat antara yang meninggal Naan Ama; jika yang meninggal perempuan.

Dan membangun kembali harmonisasi antara keluarga yang meninggal dengan Opu Nana jika yang meninggal seorang laki-laki.

Begitu pula dengan ritual Bala Rarane ketika seseorang meninggal. Bahwa yang meninggal menjadi perantara untuk mempererat hubungan kekerabatan antara tiga keluarga besar.

Tiga keluarga yang terhubung menurut alur perpindahan belis gading Ata Diken Lamaholot. Terutama mereka yang mendiami Pulau Adonara.

Ketika seseorang meninggal, ritual Bala Rarane menghubungkan keluarga pemberi belis kepada keluarga yang meninggal sekaligus penerima belis gading dari keluarga yang meninggal.

Baca juga: Mahar Gading Gajah Lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?

Bukan semata-mata kewajiban berupa sejumlah kain sarung tenun. Bukan soal jumlah.  Kewatek, nowin, lipa dan labu, rarane adalah alat untuk mempersatukan tiga keluarga. Dan orang yang meninggal adalah perantara persatuan itu.

Maka saya dengan gagah berani mengatakan bahwa alienasi agama Feuerbach, yang juga diamini oleh Marx, saudara satu gurunya, tidak  terjadi pada Ata Diken lamaholot, terutama mengenai konsep surga dan neraka.

Tentu pemikiran filsafat kedua murid Hegel ini tidak bisa pas jika dilihat menggunakan kaca mata dogma agama. Bisa berabe dunia persilatan.

Karenanya dengan gagah berani juga saya bangga menjadi ata diken menurut alam pemikiran spiritual Lamaholot atau yang saya sebut Agama Koda.

Namun tidak berhenti hanya pada kebanggan semata. Meyakini alam spiritual Agama Koda hanya menjadi sesuatu yang nyata jika setiap Ata Diken Lamaholot menjaga keselarasannya dengan semua makluk ciptaan.

Membangun hidup harmonis dengan dirinya, alam dan terutama dengan sesama manusia yang lain. Dan ketika harmonisasi ini terbangun maka ujud tertinggi Rera Wulan Tanah Ekan menemukan esensi senyatanya.

Tulisan tentang alienasi Feuerbach disarikan dari berbagai media daring- Sumber foto: Azam Putra Lewokeda/Kompasiana.com

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of