Eposdigi.com – Penggunaan media sosial oleh anak-anak di bawah umur pada saat sekarang ini sangatlah banyak kita temui atau pun kita lihat di sekeliling kita.
Sayangnya penggunaan media sosial tanpa kontrol ini akan membawa berbagai macam dampak besar pada kesehatan mental, perkembangan sosial, dan kemampuan komunikasi mereka. Meskipun ada manfaat, namun ada resiko yang serius jika tidak diawasi dengan baik.
Penggunaan media sosial yang berlebihan saat ini dapat menimbulkan gangguan mental serius terhadap seorang anak. Potensi anak mengalami anxiety disorder dan depression disorder akibat paparan media sosial yang berlebihan, akan semakin besar.
Speech delay (lambat bicara), pada anak-anak yang terlalu sering bermain gadget. Anak cenderung mengalami keterlambatan berbicara karena kurang interaksi sosial langsung,
Cyberbullying dan body shaming juga menjadi hal ‘biasa’ yang sering dijumpai pada anak-anak. Banyak anak berisiko menjadi korban atau pelaku perilaku negatif di media sosial seperti perundungan dan ejekan fisik.
Anak yang terlalu lama menggunakan gawai cenderung mengalami gangguan tidur dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Terlalu lama menjelajahi media sosial bisa mengganggu pola tidur dan fokus belajar.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) menjadi makanan sehari hari kita. Kenyataan bahwa Abanyak anak-anak terdorong untuk mengikuti tren yang sedang viral agar tidak merasa tertinggal, yang bisa memicu rasa rendah diri dan tekanan sosial.
Anak-anak yang mengakses media sosial yang tidak sesuai umur mereka dapat membawa sejumlah masalah serius yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan pendidik.
Meskipun teknologi bisa memberikan manfaat yang sangat besar terhadap anak-anak, namun karena anak belum bisa memiliki kemampuan penuh untuk menyaring informasi dan memahami dampaknya, maka teknologi informasi yang demikian pesat saat ini, bisa menjadi alat perusak banyak hal, terutama dalam usia perkembangan anak.
Berikut ada beberapa permasalahan utamanya penggunaan media sosial oleh anak- anak di bawah umur:
Paparan konten tidak pantas.
Anak-anak bisa dengan mudah menemukan konten kekerasan, pornografi, atau ujaran kebencian yang tidak sesuai dengan usia mereka. Bisa saja mereka menganggap apa yang mereka temui di media sosial sebagai sebuah hal yang biasa, atau bisa menjadi nilai baru, yang diyakini sebagai kebenaran.
Kecanduan gadget dan media social.
Penggunaan berlebihan bisa menyebabkan anak sulit fokus belajar, kurang tidur, dan malas berinteraksi secara langsung. Padahal dalam perkembangan anak-anak, ada banyak masa emas anak untuk belajar bersosialisasi dengan orang yang dia temui secara langsung, bukan AI
Cyberbullying (perundungan daring)
Anak-anak rentan menjadi korban atau pelaku bullying di media sosial, yang bisa berdampak pada kesehatan mental dan rasa percaya diri. Sayangnya, kita juga mesti menerima bahwa korban perundungan dari ini, bisa saja menjadi pelaku pada masa yang akan datang.
Gangguan perkembangan sosial dan emosional.
Interaksi digital yang berlebihan bisa menghambat kemampuan anak berkomunikasi secara langsung dan memahami emosi orang lain.
Anak tidak cukup mengenali, bahasa tubuh, mimic wajah, padahal keterampilan untuk mengenali bahasa tubuh dan mimic wajah ini bisa menjadi faktor dominan yang memberi sumbangsih besar pada masa depan mereka.
Privasi dan keamanan data.
Anak-anak sering tidak menyadari resiko memberikan informasi pribadi, yang bisa dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Tekanan sosial dan perbandingan diri
Melihat kehidupan orang lain yang tampak “sempurna” di media sosial bisa membuat anak merasa rendah diri dan tidak puas dengan dirinya sendiri.
Media sosial bisa saja menjadi cermin untuk menilai kesejatian diri mereka. Kebenaran media sosial bisa jadi dogma baru yang menjadi pegangan mereka saat berjumpa diri mereka sendiri.
Sederet dampak negatif seperti ini seharusnya ada pengawasan dan perhatian yang diberikan. Karena itu, peran orang tua dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan untuk mengawasi dan untuk membatasi durasi penggunaan media social.
Orang tua harus bisa mengupdate diri agar bisa bersinergi dengan AI untuk pendampingan tumbuh kembang anak. Misalnya menggunakan fitur kontrol orang tua di aplikasi dan perangkat, ajarkan etika digital dan pentingnya privasi,
Orang tua segera memangun komunikasi terbuka agar anak merasa nyaman berbagi pengalaman online. Kalau tidak, maka anak bisa jadi menggunakan aplikasi atau apapun yang disediakan oleh sekolah sebagai tempat curhat.
Padahal aplikasi dan IA hanya menampilkan dan menyajikan fakta, bukan empati tulus untuk mendengar anak.
Dan ada juga sisi positif media sosial untuk anak-anak di bawa umur apabila digunakan secara bijak dan penuh pengawasan, maka penggunaan media sosial ini dapat membantu atau menjadi sarana komunikasi, mempermudah anak berinteraksi dengan teman dan keluarga.
Ekspresi diri anak bisa tersalurkan pada kreativitas lewat konten seperti video, gambar, atau tulisan, dan menambah pengetahuan dan wawasan mereka.Media sosial bisa juga menjadi informasi dan pengetahuan baru.
Karena itu berikut ini tips untuk orang tua dalam mengawasi anak- anaknya:
Antara lain: Pantau aktivitas anak di media sosial dan ajarkan etika digital. Batasi waktu penggunaan gadget, terutama sebelum tidur.
Ajarkan juga anak untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain di media social, Gunakan fitur kontrol orang tua di perangkat digital untuk mengawasi konten yang diakses.
Media sosial bisa menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan dengan bijak dan dalam pengawasan yang tepat. Karena itu mari membangun anak bangsa menjadi lebih baik dengan memahami minat dan bakat yang dimiliki dan membangakan secara positif melalui berbagai.
Penulis adalah mahasiswa Universitas Pamulang, FKIP – Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
Leave a Reply