Kejahatan, Penderitaan, dan KODA: Sebuah Perspektif Filsafat Lamaholot

Kearifan Lokal
Sebarkan Artikel Ini:

Eposdigi.com – Dalam diskusi filsafat sering muncul pertanyaan klasik: “Jika Tuhan Maha Baik dan Maha Kuasa, mengapa kejahatan dan penderitaan masih ada?” Pertanyaan ini telah menjadi bahan perdebatan sejak zaman para filsuf Yunani hingga para pemikir modern.

Filsafat Lamaholot menawarkan sudut pandang yang berbeda. Dasar kehidupan bukan pertama-tama dimulai dari persoalan Tuhan, melainkan dari KODA—sabda, tutur kata, dan janji yang diucapkan manusia.

Orang tua Lamaholot mewariskan pesan: “Matanet di toon KODA, Moripet di toon KODA.”

Artinya, hidup dan mati manusia bergantung pada KODA. Kalimat ini tidak sekadar mengajarkan agar berhati-hati berbicara, tetapi menegaskan bahwa kata-kata memiliki daya membangun sekaligus menghancurkan. 

Baca Juga:

KODA: “Menjaga Alam adalah Menghormati Rera Wulan Tana Ekan”

Dari KODA lahir kepercayaan, persaudaraan, perdamaian, tetapi dari KODA pula dapat lahir kebencian, permusuhan, fitnah, dan peperangan.

Dalam pandangan ini, penderitaan dan kejahatan bukanlah kehendak RERA WULAN TANA EKAN, melainkan akibat dari manusia yang mengkhianati KODA. 

Ketika manusia tidak lagi menjaga keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan, keseimbangan hidup menjadi rusak. Kerusakan hubungan antarmanusia kemudian merembet menjadi kerusakan hubungan dengan alam dan akhirnya menghadirkan penderitaan.

Namun, filsafat Lamaholot tidak berhenti pada diagnosis masalah. Selalu ada jalan pemulihan. Berbagai ritual adat—melalui musyawarah (behin bau ukut koda) , pengakuan kesalahan, perdamaian, sumpah adat, dan pemulihan hubungan—menjadi sarana untuk mengembalikan harmoni yang telah rusak. 

Baca Juga:

Ketika Dongeng Digantikan Layar : Menjaga Koda Anak di Era Digital

Ritual bukanlah sekadar seremoni, melainkan mekanisme etis untuk memulihkan martabat manusia dan menata kembali relasi dengan sesama, alam, dan RERA WULAN TANA EKAN.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan?” Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah, “Apakah kita masih setia menjaga KODA yang telah kita ucapkan?”

Selama manusia menjaga KODA, ia sedang menjaga kehidupan. Sebaliknya, ketika manusia mengingkari KODA, ia sedang menabur benih penderitaan bagi dirinya sendiri dan bagi sesamanya.

Baca Juga:

Nilai Koda Dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Adonara

Inilah salah satu sumbangan filsafat Lamaholot bagi dunia: kejahatan bukan pertama-tama persoalan absennya Tuhan, melainkan kegagalan manusia menjaga sabda yang menjadi dasar kehidupan. Dan pemulihan dimulai ketika manusia berani kembali kepada KODA Senareke…..

Sebarkan Artikel Ini:

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of