Eposdigi.com – Pernah dalam sebuah diskusi tentang gender, saya mendengar narasumber menerjemahkan teori-teori gender dari Barat secara lurus untuk diterapkan dalam kehidupan budaya Lamaholot.
Saya memiliki pandangan yang sedikit berbeda: Menurut saya, gender memang penting untuk diperjuangkan, tetapi ia tidak harus selalu diterjemahkan dengan cara yang sama pada setiap kebudayaan.
Gender perlu dibaca dan diterjemahkan dalam konteks budaya masyarakat itu sendiri. Sebab, kesetaraan tidak selalu berarti kesamaan peran.
Dalam adat Lamaholot, misalnya, pada “behin bau ukut koda”, ada bagian tertentu yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Tetapi bukan berarti perempuan tidak mempunyai peran. Perempuan memiliki ruang, tanggung jawab, dan fungsi adatnya sendiri yang tidak kalah penting.
Baca Juga:
Mahar Gading Gajah lambang “Harga Diri” Perempuan Lamaholot?
Demikian pula suatu ketika, dalam acara penguburan orang meninggal di Adonara, seorang teman yang bukan orang Adonara memprotes karena melihat perempuan duduk di atas keka (tikar), sementara laki-laki duduk di nobo (kursi).
Ia melihatnya secara sederhana: Perempuan duduk di bawah, laki-laki duduk di kursi. Berarti perempuan lebih rendah. Saya justru melihatnya dari cara pandang budaya Adonara.
Saya katakan kepadanya: belum tentu perempuan yang duduk di keka itu lebih rendah. Bisa jadi justru di situlah letak kehormatannya.
Perempuan dalam pandangan budaya kita dapat dimaknai sebagai ibu bumi.
Ibu memberi susu kepada anaknya. Bumi memberikan kehidupan kepada semua manusia. Ibu mengandung, melahirkan dan merawat kehidupan. Bumi menerima benih, menumbuhkannya dan menghidupi kehidupan.
Baca Juga:
Karena itu, perempuan yang duduk di atas keka, dekat dengan tanah, dapat dibaca sebagai simbol kedekatan dengan bumi—dengan sumber kehidupan itu sendiri.
Sementara laki-laki yang duduk di nobo bukan berarti lebih tinggi martabatnya. Itu adalah bagian dari tata ruang dan peran sosial dalam suatu konteks adat.
Di sinilah saya belajar bahwa kebudayaan tidak selalu dapat dibaca hanya dari bentuk luarnya. Kalau kita hanya memakai ukuran dari luar, perempuan di keka akan terlihat lebih rendah daripada laki-laki di nobo.
Tetapi kalau kita mencoba membaca simbolnya dari dalam, kita menemukan kemungkinan makna yang berbeda: berbeda tempat tidak berarti berbeda martabat.. berbeda peran tidak berarti berbeda nilai.
Karena itu, saya membayangkan bahwa kita tidak harus memilih antara budaya Lamaholot dan feminisme. Keduanya dapat berdialog.
Baca Juga:
Bagian III: Rumpun Waton – Ketika Perempuan Menjadi Jembatan yang Menyatukan Persaudaraan
Bahkan lebih jauh, mungkin kita perlu mulai membangun pemikiran Gender Lamaholot: sebuah pemikiran tentang laki-laki dan perempuan yang berangkat dari pengalaman, nilai, simbol, dan KODA masyarakat Lamaholot sendiri.
Bukan feminisme yang sekadar menyalin teori dari luar. Bukan pula adat yang dipertahankan secara buta. Tetapi sebuah cara berpikir yang bertanya: Apa yang dikatakan budaya kita sendiri tentang martabat perempuan dan laki-laki?
Sebab revitalisasi budaya bukan berarti mengawetkan semua praktik masa lalu. Revitalisasi berarti menggali nilai yang hidup di dalamnya, menguji kembali maknanya, lalu membawanya ke masa kini dan masa depan.
Mungkin pada akhirnya kita akan menemukan satu prinsip sederhana: Gender Lamaholot bukan tentang membuat laki-laki dan perempuan menjadi sama dalam segala hal, tetapi tentang memastikan keduanya memiliki martabat yang sama, dengan peran yang saling melengkapi dan bertanggung jawab terhadap kehidupan.
Baca Juga:
Prinsipnya Benar Tapi “Salah”: Membaca Labirin Takdir dan Paradoks Cinta dalam Adat Lamaholot
Dan mungkin di situlah KODA menemukan salah satu maknanya: laki-laki dan perempuan bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk menjaga keseimbangan kehidupan.
Leave a Reply